Chainletter #12 - 1993

Chainletter #12 - 1993

Sebelum George “Corpsegrinder” Fisher menjadi salah satu suara paling dikenal dalam death metal dunia, ia adalah bagian dari sebuah scene lokal yang bergerak melalui demo kaset, pertunjukan kecil, korespondensi, dan fanzine fotokopian. Di tengah jaringan itu berdiri Mark Gonce: drummer Corpsegrinder sekaligus editor Chainletter. Edisi #12 menjadi menarik bukan hanya karena memuat Fear Factory, Disembowelment, Invocator, Sorrow, Leukemia, Eternal Torment, dan Damonacy, tetapi karena ia merekam sebuah periode ketika death metal sedang bercabang ke berbagai arah. Industrial, doom, grind, dan death metal teknis mulai memperluas wilayahnya. Semua itu hadir dalam media DIY yang tidak memiliki kemewahan industri, tetapi punya sesuatu yang jauh lebih berguna: akses langsung ke jaringan underground. Daftar Interview Chainletter #12 memperlihatkan jangkauan yang cukup berani: Fear Factory, pertemuan death metal dengan pendekatan industrial, mekanis, dan atmosfer futuristik. Disembowelment, representasi Australia melalui death/doom yang lambat, berat, dan atmosferik; musik yang terasa seperti berjalan di lorong kematian tanpa ujung. Invocator, thrash/death metal Denmark dengan karakter teknis dan agresivitas yang tidak kehilangan ketajaman. Sorrow, wajah death/doom Amerika yang lebih muram dan emosional. Leukemia,  bagian dari lanskap death metal Swedia yang bergerak di luar nama-nama mapan. Eternal Torment dan Damonacy, dua nama underground Amerika yang memperlihatkan bahwa scene lokal tidak hanya hidup dari band-band yang kemudian memperoleh kontrak besar. 

Kombinasi ini menarik karena tidak terjebak dalam satu formula. Fear Factory membawa bayangan mesin dan industrialisasi, sementara Disembowelment justru mengubur pendengarnya dalam komposisi lambat, pekat, dan atmosferik. Invocator mempertahankan energi riff yang agresif, sedangkan Sorrow memperlihatkan bahwa death metal juga dapat menjadi medium kemuraman, bukan hanya demonstrasi kecepatan. Inilah lanskap 1993: death metal tidak lagi berjalan dalam satu lorong. Sebagian band memperkeras struktur, sebagian mengembangkan atmosfer, dan sebagian lainnya mulai meruntuhkan batas antara ekstremitas metal dengan pendekatan musikal yang lebih eksperimental. Koneksi paling menarik dari Chainletter berada pada sosok editornya. Mark Gonce merupakan drummer band Corpsegrinder, kelompok death metal asal Baltimore yang dibentuk sekitar 1989. Band tersebut juga menjadi tempat awal perjalanan George Fisher, jauh sebelum ia dikenal luas sebagai vokalis Cannibal Corpse. Menurut catatan Metal Archives, Gonce tercatat sebagai drummer, sedangkan Fisher menjadi salah satu vokalis band tersebut. Corpsegrinder tidak pernah membangun diskografi album penuh; warisannya terutama tersimpan melalui rekaman demo. 

Dalam Interview dengan Metal Hammer, Fisher mengenang bahwa band pertamanya bernama Corpsegrinder dan mereka mengambil nama itu dari lagu milik Death. Ia juga mengingat masa awal mereka sebagai band kecil Baltimore yang memainkan lagu-lagu cover Cro-Mags dan Sacrifice. Ada satu hal yang perlu diluruskan: nama panggung Corpsegrinder tidak muncul begitu saja karena Fisher menjadi vokalis Cannibal Corpse. Dalam Interview Kerrang!, Fisher menjelaskan bahwa ketika ia bergabung dengan proyek yang kemudian menjadi Monstrosity bersama Lee Harrison, nama “George Corpsegrinder” mulai digunakan. Lee memperkenalkannya dengan nama tersebut karena Fisher sebelumnya bermain di band Corpsegrinder. Nama itu kemudian melekat dan terus digunakan hingga kariernya bersama Cannibal Corpse. Jadi, hubungan Chainletter dengan sejarah George Fisher memang nyata melalui Mark Gonce dan band Corpsegrinder. Namun, tidak tepat jika seluruh perjalanan karier Fisher atau perpindahannya ke Florida dianggap sebagai hasil langsung promosi fanzine. Hubungan musikal dan pertemanan dalam scene-lah yang menjadi konteks lebih luas. Chainletter merupakan produk fotokopian khas DIY. Format ini mungkin terlihat sederhana, tetapi pada awal 1990-an fanzine memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menyajikan opini musik. Ia menjadi jalur distribusi informasi, media promosi demo, penghubung antarkomunitas, dan sarana memperkenalkan band kepada pendengar di luar wilayah asalnya.

Baltimore mungkin bukan pusat industri death metal sebesar Tampa atau Stockholm, tetapi scene lokalnya memiliki hubungan dengan jaringan ekstrem yang lebih luas. Kehadiran band dari Denmark, Australia, Swedia, dan Amerika dalam satu edisi memperlihatkan bagaimana batas geografis dapat ditembus melalui surat dan pertukaran informasi. Di sinilah nilai Chainletter terasa. Ia tidak membutuhkan kertas glossy atau tata letak mewah untuk membuktikan bahwa sebuah komunitas memiliki sesuatu untuk disampaikan. Kualitas media independen tidak semata-mata ditentukan oleh mesin cetak, melainkan oleh seberapa jauh ia mampu membuka akses kepada musik yang tidak memperoleh perhatian media besar dan jangan salah: dunia underground tidak selalu romantis. Ada persaingan, kepentingan promosi, demo yang buruk, dan band yang hanya bertahan beberapa tahun. Tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat arsip seperti ini bernilai. Ia merekam scene sebagaimana adanya, bukan sebagaimana ingin dikenang orang-orang setelah semuanya menjadi sejarah. Chainletter #12 adalah dokumen menarik dari underground death metal Amerika pada 1993. Interview Fear Factory, Disembowelment, Invocator, Sorrow, Leukemia, Eternal Torment, dan Damonacy memperlihatkan keluasan cakupan musikalnya. Hubungan Mark Gonce dengan Corpsegrinder juga memberikan nilai historis tambahan, terutama karena band tersebut merupakan titik awal perjalanan George Fisher.

Kita tidak perlu menganggapnya sebagai fanzine paling revolusioner pada masanya. Nilainya justru terletak pada dokumentasi yang konkret: nama-nama band, hubungan antarmusisi, dan jaringan underground yang bekerja jauh sebelum industri menemukan cara mengemasnya menjadi komoditas. Chainletter #12 mengingatkan kita bahwa sebelum seorang vokalis menjadi ikon global, sebelum sebuah band masuk katalog label besar, dan sebelum sejarah ditulis oleh media profesional, selalu ada scene kecil yang lebih dulu memberi mereka tempat. Kadang sejarah metal tidak dimulai dari panggung besar. Ia dimulai dari ruang latihan sempit, kaset demo yang kualitas suaranya menyedihkan, dan selembar fanzine fotokopian yang dikirim melalui pos.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine