Blasphemous #1 - 1991
Sebelum ekstrem metal menjadi komoditas nostalgia, sebelum setiap rilisan lawas dibungkus ulang sebagai “kultus” dan sebelum sejarah scene diringkas menjadi daftar album wajib dengar, ada fanzine seperti Blasphemous. Terbit dari Yunani sekitar 1990–1991, edisi pertamanya adalah potret mentah sebuah masa ketika death metal dan black metal sedang membentuk bahasa, identitas, sekaligus batas kebrutalannya sendiri. Dieditori Morbid, John, Stephan, dan Photis, zine ini tidak bermain aman di satu wilayah musik. Ia merangkum pergerakan band-band dari berbagai negara, menggabungkan ulasan demo, artikel, editorial, dan wawancara dalam satu dokumen yang ambisinya terasa jauh lebih besar daripada fasilitas penerbitannya. Daftar nama yang tercatat di dalamnya nyaris seperti peta geografis ekstrem metal awal 90-an: Darkthrone, Entombed, Beherit, Blasphemy, Bolt Thrower, Rotting Christ, Septic Flesh, Vader, Vital Remains, Mortuary Drape, Convulse, Deceased, Sadus, Sarcófago, Nocturnus, Mystifier, Necromantia, hingga Sentenced dan Atrocity. Ada pula nama-nama yang kini lebih sering ditemukan oleh pemburu demo, kolektor rilisan langka, dan penggali sejarah scene ketimbang pembaca media arus utama. Ini bukan sekadar parade logo. Cakupannya memperlihatkan bagaimana ekstrem metal pada periode tersebut tumbuh sebagai jaringan internasional yang bergerak melalui surat, kaset, pertukaran zine, dan hubungan antarkomunitas jauh sebelum internet mengubah distribusi informasi menjadi sesuatu yang instan sekaligus mudah dilupakan. Tetapi Blasphemous bukan hanya menarik karena jumlah nama yang berhasil dihimpun. Yang lebih penting adalah momentum ketika nama-nama itu muncul. Darkthrone masih berada pada fase awal evolusinya; Entombed membawa karakter death metal Swedia yang kemudian menjadi cetak biru tersendiri; Beherit dan Blasphemy mengasah bahasa ekstrem yang lebih primitif dan abrasif; sementara Rotting Christ, Varathron, dan Necromantia memperlihatkan bahwa Yunani bukan sekadar penonton dari ledakan black metal Eropa. Scene lokalnya sedang membangun identitas sendiri, bukan sekadar menyalin bayangan Norwegia atau Swedia.
Kehadiran Bolt Thrower, Vader, Sadus, Nocturnus, Sarcófago, Vital Remains, dan Mortuary Drape memperlebar cakupan geografis sekaligus musikal. Death metal tidak diperlakukan sebagai satu formula tunggal: ada pendekatan perang dan kehancuran, teknikalitas, kegelapan atmosferik, hingga kekasaran yang nyaris primitif. Di sisi lain, black metal awal hadir sebagai wilayah yang masih cair, belum sepenuhnya dikunci oleh seragam estetika, aturan berpakaian, atau dogma yang belakangan terlalu sering dianggap sebagai kitab suci. Blasphemous merekam masa ketika ekstremitas masih berani mencari bentuk, bukan sibuk mengulang citra yang sudah terbukti laku. Secara visual, teknik cut and paste, mesin tik, kolase foto, dan tata letak khas fanzine menjadi bagian dari karakter publikasi ini. Fryktos sendiri menggambarkan kedua edisi aslinya menggunakan teknik produksi DIY yang lazim pada publikasi independen era tersebut. Hasilnya mungkin tidak selalu rapi, bahkan bisa terasa timpang, tetapi justru di situlah jejak kerja manusia terlihat. Foto yang dipotong kasar, teks yang padat, dan komposisi halaman yang tidak steril membawa energi dari sebuah scene yang bekerja dengan sumber daya terbatas. Ini bukan desain retro yang sengaja dibuat agar terlihat underground; ini memang cara kerja underground sebelum estetika itu menjadi komoditas.
Tentu, ambisi besar tidak otomatis menghasilkan kualitas yang konsisten. Catatan pembaca yang menyebut edisi ini agak tidak merata patut dipertimbangkan. Banyaknya wawancara dan ulasan demo bisa menjadi kekuatan dokumentasi, tetapi juga berisiko membuat sebagian materi terasa terburu-buru atau tidak sama dalam kedalaman pembahasannya. Tanpa menguji setiap wawancara dan ulasan secara langsung, tidak adil menyebut seluruh isinya istimewa. Nilai historis sebuah zine tidak membebaskannya dari kritik editorial. Zine legendaris pun tetap bisa memiliki tulisan biasa-biasa saja dan itu bukan dosa, melainkan bagian dari kenyataan bahwa ia dibuat oleh manusia, bukan mesin pencetak mitologi. Ada satu hal penting yang perlu diluruskan mengenai kronologinya. Arsip fanzine Yunani mencatat bahwa editorial edisi pertama menyebut musim semi 1991, dengan edisi kedua diperkirakan terbit setahun kemudian. Nama tim editorial yang disebut dalam catatan tersebut adalah Morbid, John Hiotellis, Stephan, dan Photis. Karena itu, penyebutan Blasphemous #1 sebagai terbitan 1991 cukup kuat, tetapi keterangan bahwa ia sudah beredar sejak 1990 sebaiknya diperlakukan sebagai perkiraan, bukan tanggal terbit yang pasti.
Hal lain yang tidak kalah penting: buku terbitan Fryktos bukan cetak ulang edisi pertama saja. Blasphemous, The Book menghimpun dua edisi majalah tersebut dalam satu publikasi berbahasa Inggris, dengan lebih dari 150 halaman dan sekitar 45 wawancara menurut keterangan penjual serta media Yunani. Daftar band yang beredar dalam promosi buku itu karena itu mencakup materi dari keseluruhan kompilasi, bukan otomatis seluruhnya berasal dari #1. Ada sumber yang menyebut kedua edisi awalnya terbit pada 1991 dan 1992, sementara satu artikel promosi Fryktos menyebut 1993–1994. Perbedaan ini belum dapat diselesaikan hanya dari katalog yang tersedia; Penerbitan ulang oleh Fryktos memiliki arti lebih dari sekadar menjual nostalgia kepada kolektor. Ia mengembalikan materi yang dahulu beredar dalam lingkaran terbatas ke ruang baca yang lebih luas. Namun, ada ironi yang sulit diabaikan: dahulu fanzine seperti ini berjuang agar musik ekstrem mendapat ruang, sekarang artefaknya kembali hadir sebagai buku koleksi yang diburu karena kelangkaan dan status kultus. Tidak ada yang salah dengan mengarsipkan sejarah, selama kemasan mewahnya tidak membuat kita lupa pada semangat awalnyaberbagi informasi, mendukung band, dan menjaga komunikasi antarscene. Blasphemous #1 adalah dokumen penting dari masa ketika death metal dan black metal belum menjadi museum dengan katalog tetap. Ia menangkap percakapan internasional yang berlangsung melalui demo, surat, wawancara, dan halaman fotokopian; sebuah jaringan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih sibuk menghidupkan scene daripada mengejar pengakuan. Ketidaksempurnaan editorialnya justru mengingatkan bahwa sejarah underground tidak lahir dari produk sempurna. Ia lahir dari keberanian menerbitkan sesuatu ketika hampir tidak ada alasan komersial untuk melakukannya. Dan mungkin itulah bentuk paling jujur dari pemberontakan: bukan sekadar berteriak melawan dunia, tetapi meninggalkan bukti bahwa kita pernah membangun sesuatu di luar kendalinya.





0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !