Truth Corroded - Worship the Bled CD 2011

Truth Corroded - Worship the Bled
Ultimhate Records CD 2011

01. Knives of the Betrayed 05:15       
02. Hunt All Heroes 03:59     
03. Pride of Demise 04:15       
04. Nothing Left Alive 03:03         
05. The Great Waste of Flesh 05:54      
06. Scavengers 03:49      
07. Dragged Beneath 05:34      
08. Remnants 04:25      
09. Tear Out the Eyes of God 03:32      
10. Summon Abyss 07:58


Jason North - Vocals
Darren McLennan - Guitars
Mark Leonard - Guitars
Greg Shaw - Bass
Kevin Talley - Add. Drums 

  
Australia mungkin identik dengan sikap santai, tetapi " Worship The Bled " sama sekali tidak tertarik menjaga reputasi itu. Album keempat Truth Corroded ini menyatukan ketajaman thrash metal klasik, hentakan groove yang berat, dan agresi metalcore modern menjadi satu serangan yang lebih berotot daripada sekadar nostalgia terhadap Sepultura atau Exodus. Bayangkan warisan riff yang mengiris, breakdown yang menghantam seperti palu godam, dan vokal kasar yang tidak meminta izin sebelum merusak suasana. Dirilis pada 2011, album ini menandai peningkatan penting bagi band asal Adelaide tersebut. Truth Corroded bukan pendatang baru yang mendadak menemukan distorsi; mereka telah bergerak sejak 1997, membangun identitas melalui musik ekstrem yang berorientasi pada panggung. Kehadiran drummer Kevin Talley yang dikenal melalui keterlibatannya dengan Daath, Chimaira, Dying Fetus, dan sejumlah band ekstrem lain serta Jonas Kjellgren dalam proses produksi memberi " Worship The Bled " tenaga tambahan. Namun, menyandarkan keberhasilan album ini hanya pada nama-nama tamu akan menjadi penghinaan terhadap kerja kolektif band itu sendiri. Yang membuat album ini bekerja bukan sekadar siapa yang duduk di belakang drum atau siapa yang memegang kendali produksi. Ini soal bagaimana Truth Corroded mengubah pengaruh menjadi daya dorong, bukan menjadi kostum yang dikenakan demi terlihat relevan.

" Knives of the Betrayed " menjadi pernyataan pembuka yang tepat: riff bernuansa gelap membangun ketegangan sebelum Kevin Talley mengubahnya menjadi badai perkusi. Perpaduan thrash, groove, dan death metal terasa jelas, dengan vokal Jason North yang kasar dan berkarakter hardcore. Ada jejak Sepultura pada agresi ritmisnya, sementara kecenderungan metalcore modern muncul lewat hentakan groove dan bagian-bagian yang sengaja dirancang untuk memicu kekacauan di depan panggung. Solo tamu Jonas Kjellgren menambah ledakan melodis, meski album ini paling meyakinkan ketika gitar kembali bekerja sebagai mesin riff, bukan sekadar landasan bagi aksi pamer jari. " Hunt All Heroes " mempertahankan tekanan tersebut melalui pergantian riff dan permainan drum yang padat. Sayangnya, ada satu ironi kecil: solo gitarnya justru kehilangan sebagian daya karena tertimbun dalam campuran suara. Produksi Jonas Kjellgren secara umum tebal dan bertenaga, tetapi detail seperti ini mengingatkan bahwa produksi yang terdengar besar belum tentu memberi setiap instrumen ruang yang semestinya. " Pride of Demise " mengandalkan kontras antara bagian verse yang sibuk dan chorus yang lebih berat, sementara " Leave Nothing Alive " menyajikan salah satu momen paling efektif di album ini. Chorus vokalnya mudah melekat, permainan drum bergerak liar tanpa kehilangan kendali, dan solo gitar yang lebih teknis berujung pada riff chugging yang mengingatkan pada Pantera. Formula tersebut memang tidak revolusioner, tetapi eksekusinya punya tenaga. Lagu ini memahami satu hal mendasar yang kerap dilupakan band-band modern: bagian yang mudah diingat tidak harus berarti musiknya dipermudah.

" The Great Waste of Flesh " mengambil jalur lebih lambat dan atmosferik sebelum kembali menekan melalui riff-riff patah dan aksen ritmis yang berat. Lalu " Scavengers " menjadi arena demonstrasi Talley. Permainannya presisi, agresif, dan dinamis; ia tidak sekadar memukul secepat mungkin, tetapi mengatur aksen serta perubahan intensitas untuk menjaga lagu tetap hidup. Pengalaman Talley dalam musik ekstrem terasa relevan, terutama karena ia mampu memberi tenaga tanpa membuat drum menjadi tontonan yang terpisah dari komposisi. Salah satu keputusan paling menarik muncul dalam " Dragged Beneath ". Di tengah riffing yang brutal, bagian biola bernuansa melankolis membuka dimensi berbeda. Kontras itu berisiko terdengar seperti aksesori eksentrik yang ditempelkan agar album terlihat lebih artistik, tetapi di sini ia memberi jeda emosional pada musik yang sebagian besar bergerak dalam mode serang. Kegelapan tidak selalu harus diwujudkan melalui volume dan distorsi; sesekali, melodi yang muram justru membuat kekerasan di sekelilingnya terasa lebih tajam. Sebaliknya, " Remnants " menjadi salah satu titik lemah. Upayanya membangun suasana lebih muram dan memperlambat momentum tidak menghasilkan karakter yang sekuat lagu-lagu sebelumnya. Lagu ini bukan bencana, tetapi terasa kurang mendesak di tengah album yang menjadikan intensitas sebagai identitas utama. Ketika sebagian besar materi bergerak dengan keyakinan penuh, penurunan tekanan semacam ini terasa lebih kentara.

Masalah lain terdapat pada solo gitar yang, meski mengesankan saat pertama kali didengar, sesekali terlalu panjang dan mengikuti pola yang mudah ditebak. " Tear Out the Eyes of Your God " memiliki daya hancur yang jelas, tetapi durasi solo yang berlebihan mengurangi ketegangan alih-alih meningkatkannya. Kecepatan dan kemampuan teknis memang menyenangkan untuk disaksikan, tetapi tidak setiap pertunjukan jari membutuhkan karpet merah. Dalam musik seagresif ini, solo idealnya memperuncing lagu bukan membuat pendengar menunggu riff berikutnya. Dengan durasi hampir delapan menit, " Summon Abyss " menjadi komposisi terpanjang sekaligus penutup yang memperlihatkan sisi lebih ambisius Truth Corroded. Bagian pembukanya membangun suasana suram, kemudian berkembang menjadi rangkaian riff thrash, permainan drum yang menghantam, serta solo gitar yang bergerak di atas fondasi ritmis yang berat. Nuansa tribal dan vokal perempuan dalam bahasa yang tidak teridentifikasi, sebagaimana digambarkan dalam ulasan yang menjadi dasar pembahasan ini, menambah kesan ritualistik. Lagu tersebut akhirnya meredup melalui outro yang menggemakan atmosfer pembuka " Knives of the Betrayed ", menciptakan hubungan struktural antara awal dan akhir album. Struktur panjangnya bukan tanpa risiko. Semakin lama sebuah lagu bertahan, semakin besar tuntutan terhadap perkembangan komposisi. Namun, Truth Corroded cukup berhasil menjaga " Summon Abyss " agar tidak menjadi sekadar kumpulan riff yang disambung dengan lem. Penutup ini memberi ruang bagi atmosfer dan dinamika tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter agresif yang membentuk album sejak awal.

" Worship The Bled " bukan album yang mengubah wajah thrash metal, death metal, atau metalcore. Pengaruh Sepultura, Exodus, Hatesphere, Devildriver, dan groove metal modern terdengar jelas; sesekali, formula riff, breakdown, dan solo panjangnya bahkan terlalu akrab. Namun, kemiripan pengaruh tidak otomatis berarti ketiadaan identitas. Truth Corroded menyusun bahan-bahan tersebut dengan disiplin, energi, dan pemahaman komposisi yang cukup matang untuk menghasilkan album yang lebih besar daripada sekadar jumlah referensinya. Kevin Talley memang menjadi aset penting, tetapi gitar Mark Lennard dan Darren McLennan, bass Greg Shaw, serta vokal Jason North menjaga album tetap kokoh sebagai karya kolektif. Produksinya umumnya kuat, meski beberapa detail gitar terkubur; mayoritas lagu efektif, meski " Remnants " kehilangan momentum dan sejumlah solo terlalu memaksakan diri. " Worship The Bled " adalah album thrash/death metal modern yang agresif, groovy, dan cukup variatif untuk bertahan sepanjang durasinya. Bukan mahakarya tanpa cela, tetapi jelas merupakan salah satu pernyataan paling kuat Truth Corroded pada masanya. Nilai utamanya bukan pada kebaruan, melainkan pada kemampuan mengolah formula yang sudah dikenal menjadi musik yang terasa hidup dan berbahaya. Ada banyak band yang mengira kemarahan cukup dibuktikan dengan volume, ekspresi wajah, dan lirik yang mengancam. Truth Corroded menawarkan bukti yang lebih meyakinkan: riff yang bekerja, ritme yang menghantam, dan komposisi yang tahu kapan harus menyerang serta kapan harus memberi ruang bagi atmosfer. Meski tidak semua tembakannya tepat sasaran, sebagian besar tetap mengenai tubuh.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine