Harmony Dies - Don't Trust CD 1997

Harmony Dies - Don't Trust
Ars Metalli CD 1997

01. Execution 02:36      
02. Pray to God 03:19      
03. Something Dies 02:42      
04. Dwell in Darkness 03:59      
05. Living Corpses 05:19      
06. Perhaps 04:32      
07. Flying 01:29      
08. Schmerz 00:30      
09. Pulsating Uterine 03:29      
10. Menstrual 02:37      
11. Song of Sirens 00:13      
12. From Behind 02:05


Chris Carl - Vocals
Kai Mertens - Guitars
Jens Herold - Guitars
Robert Kotlarsky - Drums


Metal selalu punya hubungan ganjil dengan kehancuran: ia meruntuhkan pakem, menyusun ulang puing-puingnya, lalu mengulang proses yang sama seolah dunia belum pernah kiamat sebelumnya. Nihilisme, kemarahan, kematian, kebencian terhadap otoritas—semuanya terus berputar dalam lingkaran yang kadang terasa seperti perlawanan, kadang sekadar kebiasaan yang diberi distorsi. Tantangannya bukan lagi bagaimana terdengar brutal, melainkan bagaimana membuat kebrutalan itu memiliki identitas sebelum berubah menjadi kebisingan yang mudah dilupakan. Harmony Dies, band Berlin yang telah bergerak sejak 1992, memahami sebagian persoalan tersebut melalui Don’t Trust. Setelah melewati sejumlah demo dan mini-CD Slaughtered, mereka menyajikan death metal old-school yang dicemari grindcore: kasar, berisik, berorientasi pada ritme, dan relatif alergi terhadap hiasan gitar. Ada semangat Napalm Death era " Harmony Corruption " dalam cara mereka menyatukan gerak grind dengan riff death metal, meski Harmony Dies lebih mengutamakan hantaman ritmis ketimbang melodi atau solo. Namun, album ini juga memperlihatkan sebuah kontradiksi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan volume amplifier: musik yang sengaja dibuat tanpa basa-basi tetap membutuhkan gagasan agar tidak terdengar seperti pengulangan tanpa tujuan. Kekuatan " Don’t Trust " terletak pada permainan ritme dan pergantian tempo. Harmony Dies tidak terus-menerus menekan pedal kecepatan seperti band yang takut kehilangan perhatian jika musiknya melambat. Mereka berpindah dari bagian yang melaju cepat menuju riff yang lebih berat dan terseret, menciptakan variasi di tengah produksi yang bising dan karakter permainan yang sengaja dibiarkan kasar.

Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi death/grind Eropa ketika kekuatan komposisi tidak selalu bergantung pada teknik virtuoso, melainkan pada bagaimana satu bagian menghantam bagian berikutnya. Harmony Dies juga tidak terlalu tertarik pada solo gitar atau melodi yang dirancang untuk mempercantik kebrutalan. Fokus mereka adalah gerakan, tekanan, dan pengulangan ritmis. Dalam kondisi terbaiknya, pilihan tersebut menghasilkan musik yang memiliki karakter sendiri. Riff-riffnya terasa seperti perkakas industri yang dipaksa bekerja melewati batas, sementara perubahan tempo memberikan ruang bagi lagu untuk bergerak tanpa kehilangan kekasaran. " Pray to God ", yang direkomendasikan sebagai salah satu lagu utama album, layak menjadi titik awal untuk menilai pendekatan mereka. Ada pula alasan mengapa musik ini bisa mengingatkan pendengar pada Sepultura atau Cannibal Corpse, terutama dalam semangat riff yang agresif dan permainan yang lebih mengutamakan daya hantam daripada kemewahan teknis. Namun, Harmony Dies bukan sekadar tiruan. Mereka berusaha menemukan identitas melalui perpaduan death metal dan grindcore yang berorientasi pada ritme, dengan sedikit ketertarikan pada dekorasi yang biasanya digunakan untuk membuat musik ekstrem terdengar lebih mudah dicerna. Masalahnya, pendekatan minimalis merupakan pisau bermata dua. Menghilangkan solo, melodi, dan struktur rumit dapat memperkeras karakter musik, tetapi juga menghilangkan elemen yang membuat sebuah lagu berkembang. Jika riff yang sama terus diputar tanpa perubahan berarti, kebrutalan perlahan kehilangan ancamannya. Pendengar tidak lagi merasa sedang dihantam; mereka hanya mengetahui kapan hantaman berikutnya akan datang.

Di sinilah " Don’t Trust " mengundang penilaian yang bertolak belakang. Ada yang menganggap album ini cukup variatif karena pergantian tempo dan perpaduan death metal dengan grindcore membuat setiap bagian memiliki gerak. Namun, ada pula yang mendengar pengulangan riff dan ritme yang terasa tumpul, terutama jika dibandingkan dengan mini-CD " Slaughtered " yang dinilai lebih kuat oleh sebagian pendengar. Kritik tersebut tidak bisa begitu saja disingkirkan sebagai ketidakmampuan memahami musik ekstrem. Kebisingan bukan masalahnya. Kesederhanaan juga bukan masalahnya. Yang menjadi persoalan adalah apakah setiap pengulangan mempertebal atmosfer dan karakter lagu, atau hanya memperpanjang sesuatu yang sudah selesai disampaikan. Harmony Dies terkadang berhasil menjaga keseimbangan itu, tetapi tidak selalu. Ketika perubahan tempo benar-benar menggeser tekanan, musiknya terasa hidup. Ketika pergantian tersebut sekadar memisahkan dua pola riff yang serupa, hasilnya lebih dekat pada rutinitas daripada perkembangan komposisi. Salah satu gagasan menarik di balik pembacaan " Don’t Trust " adalah hubungan antara lirik dan musiknya. Dalam metal ekstrem, tema kematian, kebencian, kehancuran, dan ketidakpercayaan sering berulang sampai berisiko menjadi katalog kata-kata yang kehilangan bobot. Namun, repetisi tematik tidak otomatis berarti kegagalan. Genre apa pun memiliki simbol dan persoalan yang terus kembali; yang menentukan adalah apakah sebuah band mampu memberi tekanan baru pada materi yang sudah dikenal. Harmony Dies terasa paling meyakinkan ketika musik dan sikapnya bergerak ke arah yang sama. Kekasaran sonik mereka tidak berusaha menyamarkan dirinya dengan kemegahan palsu. Ada keselarasan antara permainan yang lugas, ritme yang keras, dan pendekatan yang menolak kemewahan instrumental.

Tetapi kita tetap perlu membedakan kesesuaian estetika dari kedalaman gagasan. Musik yang terdengar marah tidak otomatis memiliki lirik yang tajam, sebagaimana lirik yang gelap tidak otomatis membuat sebuah album menjadi pernyataan filosofis. Tanpa menelaah teks lengkap setiap lagu, kualitas lirik " Don’t Trust " tidak bisa dinilai secara menyeluruh hanya berdasarkan kesan bahwa tema dan musiknya sejalan. Barangkali di situlah letak persoalan yang lebih luas: metal dapat membangun dunianya sendiri, tetapi ia tidak selalu berhasil melampaui batas-batas yang diciptakannya. Ia bisa menjadi bentuk perlawanan, ritual katarsis, atau sekadar pengulangan simbol yang sudah nyaman digunakan. Ketiganya dapat hidup berdampingan dalam satu album. Di tengah pendekatan yang keras dan repetitif, " Song of Sirens " menjadi penting justru karena menawarkan kontras minimalis. Kehadirannya memutus aliran agresi dan memberi pendengar kesempatan untuk mendengar album ini dari sudut yang berbeda. Kontras tersebut bekerja sebagai pengingat bahwa intensitas tidak selalu berarti memainkan lebih banyak nada atau memukul lebih keras. Kadang, satu perubahan suasana mampu melakukan sesuatu yang gagal dicapai oleh sederet riff brutal: membuat pendengar kembali memperhatikan musiknya. Jika seluruh album terus bergerak dalam satu tingkat agresi, setiap lagu berisiko menyatu menjadi massa sound yang tidak memiliki kontur. “Song of Sirens” memberi jarak di antara hantaman-hantaman itu. Ironisnya, momen yang paling sedikit mengandalkan kebrutalan justru membantu menegaskan karakter musik yang mendahuluinya.

" Don’t Trust " adalah rilisan death metal/grindcore yang memiliki fondasi jelas: riff kasar, permainan berorientasi ritme, perubahan tempo, dan penolakan terhadap ornamen yang tidak diperlukan. Harmony Dies menunjukkan bahwa musik ekstrem tidak harus teknis atau melodis untuk memiliki daya tarik. Akan tetapi, album ini juga membuktikan bahwa membuang hiasan tidak otomatis menghasilkan komposisi yang lebih tajam. Dibandingkan " Slaughtered ", " Don’t Trust " mendapat penilaian yang beragam. Sebagian melihatnya sebagai paket death/grind yang solid dan cukup bervariasi; sebagian lainnya merasa album ini kehilangan daya karena pengulangan riff serta minimnya perkembangan musikal. Kedua pandangan tersebut menyoroti persoalan yang sama: kekuatan Harmony Dies terletak pada ritme, tetapi kelemahannya muncul ketika ritme itu tidak lagi menghasilkan kejutan. Pada akhirnya, " Don’t Trust " bukan album yang harus dipuja sebagai mahakarya tersembunyi, tetapi juga tidak layak disingkirkan hanya karena musiknya kasar dan minim ornamen. Ia adalah potret band underground yang mencoba mengubah pengaruh menjadi identitas kadang berhasil, kadang terjebak dalam kebiasaan yang sama. Sebab, kebisingan memang bisa menjadi bahasa perlawanan. Namun, jika setiap kalimat hanya berisi teriakan yang sama, bahkan kemarahan paling tulus pun akhirnya terdengar seperti kaset yang tersangkut.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine