Morning Again - As Tradition Dies Slowly CD 1998

Morning Again - As Tradition Dies Slowly
Revelation Records CD 1998

01. Stones 03:57       
02. Seasons 03:40     
03. Murder You Call War 04:44       
04. As Tradition Dies Slowly 03:05       
05. Uncivil Hands 03:17       
06. Dictation of Beauty 03:22      
07. Free to Decide 03:42       
08. Martyr 02:37     
09. Words of a Chosen Few 03:36      
10. Rights of Passage 03:39


Kevin Byers - Vocals
John Wylie - Guitars 
Joseph Simmons - Guitars
Gerardo Villarroel - Bass 
Matthew Thomas - Drums


Ada sesuatu yang hampir absurd tentang " As Tradition Dies Slowly ". Pada 1998, Revelation Records bukanlah tempat yang secara otomatis membuat orang berharap mendengar gitar berat, riff death metal, tremolo picking, breakdown yang terdengar seperti bangunan runtuh, dan vokal yang seolah keluar dari tenggorokan seseorang yang sudah kehilangan seluruh alasan untuk hidup. Label itu punya sejarah hardcore yang kuat dan kemudian Morning Again datang dari Florida membawa album yang terdengar seperti hardcore yang dilempar ke dalam tungku death, thrash dan sedikit black metal. Hasilnya bukan crossover yang sopan. Ini tabrakan dan justru karena itulah album ini bertahan. Revelation mencatat Morning Again dibentuk di South Florida oleh gitaris John Wylie, dengan orientasi yang sejak awal menggabungkan musik sangat berat dan gagasan tentang free thought, pemberdayaan diri serta isu sosial-politik. " As Tradition Dies Slowly " direkam di Studio 13 pada Februari 1998 dan dirilis sebagai " REV070 " pada 30 Juni tahun yang sama. Namun data katalog tidak pernah cukup menjelaskan mengapa album ini terasa seperti seseorang sedang mencoba menghancurkan tembok menggunakan palu godam sambil memberikan kuliah filsafat. " Stones " langsung menghapus keraguan. Riff-nya berat, repetitif, melodis dalam cara yang muram, lalu dihantam vokal Kevin Byers yang tidak terdengar seperti penyanyi yang sedang mengejar nada. Ia terdengar seperti manusia yang sedang berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya sebelum terlambat. Dan di balik musik yang brutal itu, Morning Again justru menyodorkan gagasan tentang penerimaan cinta homoseksual. Kontrasnya sangat penting. Mereka tidak memisahkan " musik berat " dari " pesan serius ". Kekerasan musikal justru menjadi kendaraan bagi gagasan yang lebih manusiawi.

" Love is never wrong. " Kalimat itu tidak membutuhkan solo gitar untuk membuatnya terasa monumental. Lalu " Seasons " meneruskan tekanan tersebut dengan riff yang terus bergeser, sementara atmosfernya seperti kabut industri yang tidak pernah benar-benar terbuka. Morning Again memahami sesuatu yang sering gagal dipahami band metalcore: melodi tidak harus berarti kelembutan. Tremolo picking dan melodic lick mereka bukan ornamen Gothenburg yang ditempelkan setelah riff selesai. Ia menjadi bagian dari struktur emosional lagu. Itulah sebabnya membandingkan mereka begitu saja dengan Slayer sebenarnya terlalu malas. Memang ada jejak thrash. Ada riff yang agresif dan tajam. Tetapi Morning Again lebih tertarik pada massa dan gravitasi daripada kecepatan. Mereka tidak selalu berlari. Kadang mereka menyeret pendengar ke dasar lubang. " Murder You Call War " adalah contoh paling jelas. Tempo berubah, riff datang dan pergi, lalu bagian yang lebih tenang memberi ruang bagi ledakan berikutnya. Judulnya sendiri sudah cukup jelas: ini bukan lagu perang dalam pengertian romantis, melainkan pembongkaran terhadap bahasa yang membuat pembantaian terdengar seperti kepahlawanan. Di sinilah Morning Again menjadi lebih menarik daripada sebagian besar band hardcore yang sibuk menjadikan lirik sebagai daftar aturan moral. Mereka mengkritik dunia, tetapi juga mengkritik lingkungan sendiri.

" Free to Decide " bergerak lebih jauh dengan isu pilihan dan kontradiksi moral dalam komunitas hardcore tertentu. Wylie tidak hanya menyerang target yang nyaman dari luar. Ia juga mengarahkan pisau ke dalam rumah sendiri. Revelation menggambarkan band ini sebagai kelompok yang memang ingin menggunakan musik untuk memprovokasi pemikiran dan meningkatkan kesadaran, dan materi album membuktikan bahwa ambisi tersebut bukan sekadar teks promosi label. Ini penting karena " As Tradition Dies Slowly " lahir dari lingkungan vegan straight edge, tetapi musiknya tidak terdengar seperti pamflet yang diberi gitar. Justru sebaliknya. Musiknya terlalu liar untuk menjadi propaganda yang steril. Gitar Wylie dan Joseph Simmons bekerja melalui riff rendah, aksentuasi patah, melodic fragments, tremolo dan breakdown yang terasa seperti pergeseran lempeng bumi. Drum Matt Thomas tidak selalu terdengar seperti mesin presisi modern dan baguslah. Ada sedikit kekasaran yang membuat album ini bernapas. Produksinya tebal, keruh dan kasar; bukan jenis produksi yang ingin memamerkan setiap senar secara klinis. Sumber kontemporer 1998 bahkan menyoroti suara berat berlapis, vokal serak dan lagu-lagu yang terus berkembang tanpa sekadar mengulang riff. " Dictation of Beauty " memperlihatkan sisi lain dari formula tersebut. Riff berputar dengan gravitasi death-metal, sementara liriknya membongkar standar kecantikan yang dipaksakan terhadap perempuan. Ini bukan pendekatan baru dalam musik ekstrem, tetapi cara Morning Again mengemasnya terasa lebih pahit: mereka membuat musik yang terdengar seperti dunia sedang runtuh untuk membahas bagaimana manusia belajar membenci tubuhnya sendiri.

" As Tradition Dies Slowly " memiliki sepuluh lagu dengan total durasi sekitar 35½ menit. Tetapi album ini terasa lebih pendek karena enam lagu awal bekerja seperti satu arus panjang. Stones → Seasons → Murder You Call War → As Tradition Dies Slowly → Uncivil Hands → Dictation of Beauty membangun momentum melalui perubahan riff, chant, breakdown, melodic passages dan pergantian atmosfer. Morning Again juga memahami kekuatan kalimat yang bisa diteriakkan bersama. Itulah rahasia mereka. Di tengah riff yang gelap dan struktur yang berlapis, selalu ada satu frasa yang bisa menancap di kepala. Hardcore membutuhkan memori kolektif; metal membutuhkan atmosfer. Morning Again menemukan titik di mana keduanya bisa hidup tanpa saling membunuh. " Uncivil Hands " dan " Martyr " juga bukan sekadar pengisi album. Keduanya merupakan rekaman ulang materi sebelumnya, dan versi As Tradition Dies Slowly memberikan konteks baru terhadap evolusi band. Martyr khususnya membantu menghidupkan kembali sisi kedua album yang mulai kehilangan daya ledak setelah enam lagu pertama. Karena memang di sinilah kelemahan album mulai terlihat. Album ini terlalu front-loaded. Setelah " Stones " dan " Murder You Call War ", standar intensitasnya sudah ditempatkan terlalu tinggi. Lagu-lagu penutup tetap solid, tetapi beberapa bagian mulai melebur menjadi satu massa metalcore yang sama. Tidak buruk hanya tidak lagi seberbahaya paruh pertama. Namun bahkan kelemahan tersebut terasa lebih seperti masalah sequencing dan daya tahan momentum daripada kegagalan komposisi. Dan Morning Again memang tidak pernah benar-benar punya kesempatan memperbaikinya. Mereka bubar pada 1998, hanya beberapa bulan setelah album ini keluar. Revelation mencatat formasi yang terkait dengan album ini sebagai Kevin Byers, John Wylie, Joseph Simmons, Gerardo Villarroel dan Matthew Thomas; sejarah band kemudian berlanjut melalui berbagai proyek dan rilisan lain, tetapi " As Tradition Dies Slowly " tetap menjadi full-length tunggal mereka pada era awal tersebut.

Ironisnya, mungkin justru itu yang membuat rekaman ini semakin kuat. Tidak ada trilogi. Tidak ada album ketiga yang mulai terdengar aman. Tidak ada formula yang sempat diperah sampai kering. Tidak ada kesempatan untuk mengubah keanehan menjadi produk. Ada satu album, lalu semuanya berhenti. Pada zamannya, bahkan respons kritis terhadap album ini tidak sepenuhnya seragam. Lollipop Magazine pada 1998 menyerang keras kemiripan riff dan produksi mereka dengan Bolt Thrower, sementara Ox-Fanzine pada periode yang sama justru menangkap album ini sebagai ledakan hardcore yang mengadopsi agresi metal secara ekstrem. Kontradiksi itu masuk akal. Morning Again memang tidak sepenuhnya orisinal jika setiap riff dibedah sampai tulang. Jejak death metal, thrash dan hardcore jelas terdengar. Tetapi orisinalitas tidak selalu muncul dari menemukan bahasa baru; terkadang ia muncul dari cara bahasa lama disusun menjadi sesuatu yang belum pernah terdengar seperti itu. Dan di situlah Morning Again menang. Mereka bukan Slayer versi hardcore. Bukan Bolt Thrower versi vegan. Bukan sekadar Unbroken dengan riff lebih berat. Bukan pula klon Gothenburg yang terlambat datang ke pesta. Mereka mengambil beban hardcore, kegelapan metal, melodi yang menyayat, dan lirik yang menolak menjadi slogan murahan, kemudian mengaduk semuanya sampai batas kategorinya menjadi kabur. Itulah sebabnya " As Tradition Dies Slowly " masih terasa ganjil. Bukan sempurna. Justru ketidaksempurnaannya yang membuatnya hidup. Gitar tidak selalu terdengar seperti mesin. Drum tidak selalu terasa steril. Vokal tidak mencoba menjadi indah. Produksi tidak memberikan jarak aman kepada pendengar. Lagu-lagunya tidak selalu memberikan resolusi yang nyaman. Album ini seperti dunia yang sedang ia kritik: kasar, kontradiktif, keras kepala, tidak rapi tetapi masih berusaha menemukan alasan untuk peduli dan mungkin itu inti sebenarnya dari " As Tradition Dies Slowly ". Tradisi tidak mati karena sebuah band membuat musik yang lebih berat. Tradisi mati ketika seseorang cukup berani mempertanyakan mengapa tradisi itu harus dipertahankan. Morning Again melakukan keduanya. Mereka membawa hardcore ke wilayah metal tanpa kehilangan keberanian untuk mempertanyakan hardcore itu sendiri. Pada 1998, Revelation mungkin hanya menerbitkan satu album metalcore yang terasa terlalu metal untuk katalog mereka. Dua puluh delapan tahun kemudian, persoalannya jauh lebih sederhana: Morning Again membuat satu album yang terdengar seperti luka yang belum sempat menjadi bekas luka dan luka seperti itu tidak pernah benar-benar tua.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine