Charlie Christ - Symphonies Of Blasphemy CD 1994

Charlie Christ - Symphonies Of Blasphemy
Independent CD 1994

01. Transient Mind State 05:14      
02. Sins to Sacrifice 02:55      
03. Paranoid Ideation 02:56      
04. Second Nature 04:46      
05. Made Believe 03:43      
06. Charlie Christ 04:29


Erik Lindmark - Guitars, Vocals
Jonathan Boyle - Guitars
David Abbot - Bass
Scott Carson - Drums


Nama Seperti Lelucon namun Musik Seperti Ancaman. Mari selesaikan dulu masalah yang paling tidak bisa dihindari: Charlie Christ adalah nama band yang nyaris meminta untuk ditertawakan. Namun setelah lelucon itu selesai, musiknya justru memaksa kita berhenti tertawa. Berasal dari Los Osos, California, Charlie Christ aktif sejak 1993 dan hanya meninggalkan satu album penuh, Symphonies of Blasphemy, yang dirilis independen pada 1994. Enam lagu, sekitar 24 menit, dengan Erik Lindmark pada gitar ritmis/vokal, Jonathan Boyle pada lead guitar, David Abbot pada bass dan Scott Carson di belakang drum. Produksi dan mixing ditangani Ed Sandor, sementara mastering dikerjakan Tom Baker dan ya, Erik Lindmark. Nama yang kemudian jauh lebih dikenal melalui Deeds of Flesh. Dalam wawancara retrospektif, Lindmark sendiri menyebut Charlie Christ sebagai band yang lebih dekat dengan Death dan Morbid Angel, sementara Deeds of Flesh kemudian bergerak ke arah yang lebih brutal dan teknis, mendekati Suffocation dan Cannibal Corpse. Mendengarkan " Symphonies of Blasphemy " hari ini berarti mendengar sebuah persimpangan: sebelum Deeds of Flesh menemukan bentuk brutalnya, Lindmark sudah terlebih dahulu belajar bagaimana membuat Death Metal bekerja. " Transient Mind State " tidak membutuhkan ritual pembukaan. Riff Death Metal langsung menyambar, growl masuk, kemudian tempo bergeser menuju groove yang lebih berat sebelum menyentuh wilayah yang sedikit lebih gelap dan lambat. Dalam beberapa menit pertama, blueprint album sudah terbuka lebar: fast → groove → fast, tetapi dengan cukup banyak perubahan riff untuk mencegah formula tersebut menjadi sekadar autopilot. Inilah kekuatan utama Charlie Christ. Mereka tidak mencoba menciptakan bentuk baru. Mereka mencoba menulis Death Metal yang bekerja dan itu perbedaan besar. Riff-riffnya memiliki bobot thrash yang masih terasa kuat, tetapi struktur keseluruhannya sudah berakar pada Death Metal Amerika awal 1990-an. Ada kekasaran Death, agresivitas Morbid Angel, sedikit aroma groove yang kelak menjadi salah satu bahasa penting brutal Death Metal, tetapi belum ada kebutuhan untuk membuktikan siapa yang mampu memainkan 300 BPM paling lama. Ironisnya, justru kesederhanaan ini membuat Symphonies of Blasphemy terasa lebih manusiawi daripada banyak rekaman teknikal yang datang sesudahnya.

Charlie Christ bukan band yang mencoba membuat setiap bar terdengar seperti ujian masuk konservatorium. Riff-riffnya cukup kompleks untuk memberikan variasi, tetapi tidak sampai mengorbankan momentum. Pergantian tempo hadir sebagai bagian dari komposisi, bukan sebagai koleksi trik. " Second Nature " dan " Made Believe " memperlihatkan kecenderungan ini dengan jelas: riff cepat berganti dengan bagian mid-tempo yang lebih berat, kemudian kembali mempercepat langkah. Ada groove yang sengaja dibiarkan bernapas sebelum drum kembali menghantam. Inilah Death Metal yang masih percaya pada riff. Bukan sekadar teknik. Bukan sekadar kecepatan. Bukan sekadar suara manusia yang dipaksa terdengar seperti gorila yang sedang menjalani sidang pengadilan. Riff adalah pusat gravitasi dan itu membuat album ini tetap mudah diikuti meskipun struktur lagunya tidak selalu sederhana. Namun " Symphonies of Blasphemy " tidak tanpa cacat. Drum Carson cenderung terlalu menonjol dalam keseluruhan sound. Bukannya buruk justru permainan drumnya cukup agresif tetapi karakter pukulannya terkadang memotong lapisan gitar sehingga transisi terasa lebih patah daripada seharusnya. Ini terutama terasa ketika lagu berpindah dari riff cepat ke groove. Bukannya menciptakan efek " dihantam ", drum kadang terasa seperti memotong gambar menjadi beberapa frame terpisah. Produksi 1994 tentu tidak dapat dihakimi menggunakan standar rekaman Death Metal modern. Tetapi bahkan dalam konteks zamannya, gitar seharusnya dapat memperoleh sedikit lebih banyak ruang sonik. Ironisnya, bass David Abbot justru memperoleh keuntungan dari situasi ini. Bass terdengar dan ketika bass terdengar dalam Death Metal 1994, itu sudah merupakan kemenangan kecil melawan sejarah.

Jonathan Boyle memainkan lead guitar dengan kompetensi yang tidak diragukan. Masalahnya bukan kemampuan. Masalahnya adalah fungsi. Beberapa lead terasa seperti kewajiban kontraktual: sebuah band Death Metal memiliki gitaris lead, maka gitaris lead harus memainkan sesuatu di tengah lagu. Hasilnya tidak buruk. Tetapi juga tidak selalu diperlukan. Lead terbaik adalah yang memperluas bahasa lagu. Di sini, beberapa bagian solo lebih terasa seperti aksesoris yang ditempelkan pada tubuh lagu yang sebenarnya sudah cukup kuat. Tone gitar juga merupakan titik lemah lain. Distorsinya terdengar cukup standar untuk Death Metal era tersebut kasar, sedikit bergerigi, tetapi tidak terlalu berkarakter. Sedikit lebih banyak midrange akan membuat riff terdengar jauh lebih berat dan memungkinkan gitar memperoleh identitas yang lebih jelas. Dengan kata lain: lagunya lebih kuat daripada tone gitarnya dan itu justru menunjukkan bahwa materialnya memang memiliki fondasi yang sehat. Mendengar vokal Erik Lindmark di sini dari perspektif masa kini terasa seperti membuka foto lama seseorang yang kelak menjadi tokoh penting. Ia belum menggunakan pendekatan brutal yang kemudian menjadi ciri Deeds of Flesh. Growl-nya lebih tua, lebih terbuka, lebih mudah dikenali sebagai keturunan langsung Death Metal awal 1990-an. Tidak dipaksa terlalu rendah. Tidak dibuat menjadi suara monster digital dan itu cocok dengan musiknya. Dalam wawancara, Lindmark menjelaskan bahwa evolusi dari Charlie Christ menuju Deeds of Flesh memang merupakan perubahan musikal yang disengaja: Charlie Christ lebih dekat ke Death dan Morbid Angel, sementara Deeds of Flesh mengembangkan pendekatan yang lebih agresif dan teknis. Jadi " Symphonies of Blasphemy " bukan sekadar proyek masa lalu yang kebetulan memiliki anggota Deeds of Flesh. Ia adalah salah satu dokumen yang memperlihatkan dari mana Lindmark berangkat.

" Paranoid Ideation " merupakan salah satu contoh paling efektif dari kemampuan band memadatkan agresi ke dalam durasi pendek. Tidak ada kebutuhan untuk membangun klimaks selama lima menit. Riff masuk, tempo bekerja, groove muncul, lalu lagu bergerak lagi. Formula sederhana? Ya. Tetapi sederhana tidak sama dengan malas. Masalah besar Death Metal selalu sama: bagaimana membuat riff yang keras tetap menarik setelah pendengar melewati efek kejut pertama. Charlie Christ memahami bahwa jawabannya adalah ritme. Groove menjadi jangkar. Tempo cepat menjadi akselerator. Dan perubahan riff menjadi mekanisme yang menjaga lagu tetap bergerak. Menutup album dengan lagu berjudul " Charlie Christ " hampir terasa seperti sebuah lelucon internal. Tetapi setelah enam lagu, nama itu justru sudah tidak penting. Nama band mungkin terdengar seperti parodi Marilyn Manson sebelum Marilyn Manson bahkan menjadi bahan perbandingan yang relevan. Musiknya tidak. " Symphonies of Blasphemy " sama sekali tidak terdengar seperti band yang sedang mencari sensasi lewat nama. Sebaliknya, mereka terdengar seperti empat musisi yang sedang mencoba memahami bagaimana Death Metal dapat dibuat lebih berat tanpa kehilangan bentuk dan mungkin itulah sebabnya rekaman ini bertahan sebagai artefak underground. Bukan karena sempurna. Bukan karena Charlie Christ mengubah sejarah. Tetapi karena mereka menulis lagu yang benar-benar berfungsi. Charlie Christ akhirnya berhenti, sementara Erik Lindmark membawa pengalaman tersebut ke Deeds of Flesh. Metal Archives mencatat Symphonies of Blasphemy sebagai satu-satunya full-length Charlie Christ, dan Lindmark kemudian menjadi anggota pendiri Deeds of Flesh dari 1993 hingga wafat pada 2018. Di sinilah konteks sejarah menjadi menarik. Jika kita hanya melihat " Symphonies of Blasphemy " sebagai album Death Metal 1994, ia adalah rekaman underground yang solid tetapi bukan mahakarya yang mengguncang genre. Namun jika ditempatkan di jalur perkembangan Lindmark, album ini menjadi jauh lebih penting. Ia memperlihatkan titik nol sebelum Deeds of Flesh. Sebelum " Gradually Melted ". Sebelum " Trading Pieces ". Sebelum technical/brutal Death Metal menjadi bahasa yang kemudian mereka dorong jauh lebih ekstrem. Charlie Christ masih bermain di tanah yang sudah dibuka Death dan Morbid Angel. Deeds of Flesh kemudian mencoba menggali lebih dalam.

" Symphonies of Blasphemy " bukan album yang akan memenangkan perang melawan sejarah. Ia bahkan tidak mencoba. Produksinya memiliki kelemahan. Tone gitar generik. Drum terlalu dominan. Beberapa lead terdengar seperti formalitas genre. Dan sesekali muncul elemen keyboard yang terasa seperti keputusan yang lebih baik jika dibatalkan sebelum masuk studio. Tetapi fondasi songwriting-nya kuat. Riff-nya punya berat. Bass terdengar, Vokal memiliki karakter, Tempo bergerak, Groove hadir dan yang paling penting: lagu-lagunya memiliki bentuk. Dalam 24 menit, Charlie Christ membuktikan bahwa Death Metal tidak membutuhkan nama yang mengerikan untuk terdengar mengerikan. Nama mereka memang konyol. Musiknya tidak dan mungkin itu ironi terbaik dari semuanya: band dengan salah satu nama paling absurd dalam arsip Death Metal justru meninggalkan sebuah album yang jauh lebih serius daripada namanya. Sebuah batu kecil dari Los Osos yang kemudian, melalui Erik Lindmark, ikut menjadi bagian dari fondasi mesin brutal bernama Deeds of Flesh. " Symphonies of Blasphemy " bukan ledakan besar. Ia adalah detonator kecil yang kemudian terdengar jauh lebih keras setelah kita tahu apa yang datang sesudahnya.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine