Soilwork - The Chainheart Machine
Soundholic Co. Ltd. CD 1999
01. The Chainheart Machine 04:02
02. Bulletbeast 04:38
03. Millionflame 04:20
04. Generation Speedkill 04:28
05. Neon Rebels 03:24
06. Possessing the Angels 03:56
07. Spirits of the Future Sun 06:00
08. Machinegun Majesty 05:06
09. Room No. 99 07:40
10. Shadowchild 04:49
11. Egypt (Mercyful Fate cover) 05:22
12. Sadistic Lullabye (live) 03:17
Björn "Speed" Strid - Vocals
Peter Wichers - Guitars
Ola Frenning - Guitars
Ola Flink - Bass
Carlos Del Olmo Holmberg - Keyboards
Henry Ranta - Drums
Di akhir 90-an, ketika MDM mulai berubah dari gerakan bawah tanah penuh kreativitas menjadi ladang panen formula massal, banyak band mulai kehilangan taring. Sebagian terlalu sibuk mengejar melodi manis agar bisa masuk majalah mainstream metal Eropa. Sebagian lagi malah terjebak dalam kompetisi teknikal tanpa jiwa, bermain cepat hanya demi terlihat progresif di mata anak-anak forum internet yang mengukur kualitas musik dari jumlah not per detik. Lalu nongol Soilwork dengan album ke-2 " The Chainheart Machine " yang sangat menyita konsentrasi. Dan album ini seperti tamparan baja berkarat ke wajah seluruh scene MDM. Karena alih-alih mencoba menemukan kembali roda, Soilwork justru melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: mereka menyempurnakan fondasi yang sudah ada ! " The Chainheart Machine " bukan revolusi besar dibanding debut mereka, " Steelbath Suicide ". Ini bukan album yang tiba-tiba mengubah arah genre atau memunculkan elemen avant-garde sok eksperimental demi pujian media. Yang dilakukan album ini jauh lebih efektif dan jauh lebih mematikan: ia mengambil seluruh elemen terbaik debutnya, lalu mengencangkan semuanya sampai terdengar seperti mesin perang biologis bertenaga testosteron dan kebencian industri modern. Dan hasilnya Agresif !
Sejak detik pertama title track " The Chainheart Machine " meledak, jelas terasa bahwa Soilwork datang dengan fokus yang jauh lebih tajam dibanding debut mereka. Produksi terdengar lebih bersih, lebih padat, lebih menghantam. Tidak kehilangan agresi khas Swedia, tetapi kini setiap instrumen punya ruang bernapas yang jauh lebih baik. Formasi kuat pada album kedua ini adalah Vocalis Björn "Speed" Strid (Act of Denial, Hespera, Nemesis Alpha, Terror 2000, The Lord in Vein, The Night Flight Orchestra, At the Movies, Donna Cannone, Gathering of Kings, Nighthawk, Nu Jävlar!, Punktus and Björn Strid, ex-Darkane, ex-Coldseed, ex-Dog Faced Gods, ex-Highball Shooters, ex-Inferior Breed) pengalaman performance act-nya memang tidak diragukan ! Gitaris Peter Wicher (sex-Nuclear Blast Allstars, Peter Wichers, ex-Killswitch Engage (live), ex-Warrel Dane, ex-Inferior Breed, ex-King Fighter, ex-Tone Assassins), Gitaris kedua Ola Frenning (Into Dust, ex-Acacia, ex-Fifty Grand Suicide), Bassis Ola Flink (ex-Hatelight), Keyboardis Carlos Del Olmo Holmberg dan Drummer Henry Ranta (ex-Nuclear Blast Allstars, ex-Spiteful, ex-Terror 2000, ex-The Defaced, ex-5th Sonic Brigade) yang semuanya sudah menjadi alumni band menyisakan vocalis Björn "Speed" Strid sebagai frontman-nya sampai sekarang. Riff-riff gitar tidak lagi sekadar harmonisasi Gothenburg generik yang berputar-putar tanpa tujuan. Kini semuanya terasa terarah, presisi, dan punya momentum. Ada pembangunan tensi yang matang, transisi yang lebih cerdas, dan chorus yang benar-benar terasa seperti ledakan emosional, bukan sekadar pengulangan hook murah. Dan inilah titik ketika Soilwork mulai memisahkan diri dari lautan kloning " Slaughter of the Soul " yang memenuhi pasar kala itu. Ya, pengaruh At The Gates masih sangat jelas. Sangat jelas malah. Tetapi Soilwork tidak terdengar seperti band tribute murahan. Mereka mengambil fondasi death/thrash melodik Swedia lalu menyuntikkan presisi progresif, groove modern, dan teknik permainan yang nyaris tidak manusiawi untuk ukuran zamannya. Masuknya drummer Henry Ranta menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat album ini terdengar jauh lebih ganas dibanding pendahulunya. Permainan drumnya benar-benar seperti mesin industri yang baru saja diberi akses narkotika militer. Presisi, penuh tenaga, dan sangat hidup. Tidak sekadar blasting membabi buta atau double pedal tanpa arah seperti banyak drummer melodeath modern yang terdengar seperti software drum dengan krisis identitas. Ranta berhasil memberi nyawa menjadi hidup album ini. Ia tahu kapan harus menghantam. Kapan harus groove. Kapan harus memberi ruang bagi riff. Dan itu membuat seluruh album terasa seperti organisme mekanis yang terus bergerak tanpa kehilangan momentum. " Millionflame " mungkin contoh terbaiknya.
Lagu ini praktis adalah manifesto Soilwork era awal: riff pembuka yang langsung menghajar, drum agresif, vokal ganas, dan transisi groove di pertengahan lagu yang begitu mulus sampai terdengar ilegal. Bagian dari sekitar menit kedua hingga solo gitar benar-benar menunjukkan betapa gilanya chemistry antara agresi thrash modern dan melodi Gothenburg yang mereka miliki. Dan solo-solo gitar di album ini? Anjritt ! Masih terdengar luar biasa bahkan puluhan tahun kemudian. Peter Wichers dan Ola Frenning bermain seperti dua ilmuwan gila yang mencoba membedah heavy metal klasik lalu merakit ulang tubuhnya dengan mesin dan kabel listrik. Riff mereka sederhana di permukaan, tetapi punya detail dan struktur yang membuat banyak gitaris berpikir: " Kenapa w tidak kepikiran bikin riff seperti ini? " Itulah ciri riff hebat. Bukan sekadar teknikal. Tetapi terasa natural dan ikonik. Kadang mereka menghantam dengan groove thrash modern yang kasar. Kadang berubah menjadi harmoni melankolis bernuansa black metal. Kadang solo meledak seperti duel neoklasikal yang nyaris kehilangan kendali. Dan semuanya tetap terasa menyatu. Bahkan ketika Mattias Eklundh (Freak Guitar, Freak Kitchen, ex-Frozen Eyes, ex-Metal Against Coronavirus, ex-Planet Alliance, Art Metal) muncul di " Machinegun Majesty ", level permainan gitar album ini naik ke titik yang hampir absurd. Solo di lagu itu bukan sekadar pamer skill. Ia terdengar liar, arogan, dan penuh karakter, sesuatu yang mulai hilang di banyak solo metal modern yang terdengar seperti latihan YouTube dengan backing track steril. Lalu ada gitar tone-nya. Dan jujur saja: ini salah satu tone gitar terbaik yang pernah lahir dari MDM. Tidak terlalu tipis. Tidak terlalu low-end berlumpur. Tidak terlalu scooped seperti band nu-metal gagal.
Tone ini punya mid yang sempurna. Tajam, Berisi Tetapi tetap hangat. Setiap palm mute terasa seperti pukulan beton. Setiap harmoni gitar punya kilau melodis tanpa kehilangan kekotoran death metalnya. Inilah sound mereka ketika produksi metal menemukan keseimbangan ideal antara agresi dan kejernihan. Vokal Björn Strid atau Speed nya semakin berkembang signifikan di sini. Masih ada sisi restrained dibanding era-era berikutnya, tetapi justru itu membuat performanya terdengar lebih ganas dan lebih tulus. Ia belum terlalu " modern ", belum terlalu polished, belum terlalu sadar pasar. Ia masih terdengar seperti orang yang benar-benar marah. Dan itu penting. Karena salah satu kekuatan terbesar " The Chainheart Machine " adalah ketulusannya. Album ini lahir sebelum Soilwork mulai bersinggungan dengan pasar nu-metal atau modern metal yang lebih luas. Sebelum industri mulai menyadari bahwa MDM bisa dijual ke audiens mainstream dengan chorus clean vocal dan video klip slow-motion berfilter biru. Di sini Soilwork masih lapar, Masih liar, Masih bermain untuk membunuh. Meski begitu, tanda-tanda evolusi sudah mulai terlihat. Keyboard dan synthesizer mulai masuk dengan nuansa progresif yang lebih modern. Struktur lagu mulai lebih dinamis. Groove mulai lebih dominan. Dan ya, ini memang album yang nantinya membuka jalan menuju era Soilwork yang lebih accessible.
Tetapi berbeda dengan banyak band lain yang kehilangan identitas saat bergerak ke arah modern, " The Chainheart Machine " masih berdiri kokoh di antara dua dunia: cukup brutal untuk penggemar death metal, cukup catchy untuk pendengar melodic metal dan cukup teknikal tanpa berubah menjadi masturbasi instrumen tanpa emosi. Lirik-liriknya juga menarik. Era 90-an memang masa ketika band-band Eropa suka menciptakan kata-kata gabungan pseudo-filosofis seperti " Chainheart ", " Bulletbeast ", atau " Generation Speedkill ". Terdengar seperti istilah cyberpunk hasil begadang tiga malam sambil membaca majalah sci-fi murah dan minum kopi hitam terlalu banyak. Dan anehnya malah justru keren ! Karena semuanya cocok dengan atmosfer album: modern, dingin, mekanis, emosional tetapi tetap penuh amarah manusia. Secara keseluruhan, " The Chainheart Machine " adalah salah satu contoh terbaik bagaimana MDM bisa berkembang tanpa kehilangan tulang punggung ekstremnya. Ia tidak mencoba menjadi paling brutal. Tidak mencoba menjadi paling progresif. Tidak mencoba menjadi paling teknikal. Ia hanya mencoba menjadi album yang efektif. Album ini seperti mesin industri Swedia yang dirakit dengan riff tajam, groove mematikan, solo monumental, dan agresi modern yang nyaris sempurna. Tidak semua eksperimen Soilwork di masa depan akan sesolid ini. Bahkan beberapa album berikutnya mulai terseret ke wilayah yang lebih aman dan lebih mudah dijual. Tetapi di sini? Mereka masih berdiri di titik ideal antara kecerdasan musikal dan kekerasan murni. Dan itulah alasan kenapa " The Chainheart Machine " tetap terdengar relevan sampai hari ini: karena ia dibuat bukan demi tren, bukan demi algoritma bukan demi sponsor festival. Melainkan demi riff yang menghancurkan kepala pendengarnya tanpa ampun.
Home
[CLASSIX MOST WANTED]
[Melodic Death Metal]
* Soilwork
#Sweden
★ Classic Release Academy ★
1999
Soilwork - The Chainheart Machine CD 1999
Soilwork - The Chainheart Machine CD 1999
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Juni 07, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !