October Tide - Rain Without End CD 1997

October Tide - Rain Without End
Vic Records CD 1997

01. 12 Days of Rain 06:43      
02. Ephemeral 06:22      
03. All Painted Cold 05:45      
04. Sightless 06:28      
05. Losing Tomorrow 02:35      
06. Blue Gallery 05:43      
07. Infinite Submission 05:36


Jonas Renkse - Vocals, Drums
Fredrik Norrman - Guitars, Bass


Ada album-album tertentu yang tidak sekadar terdengar sedih. Mereka terasa seperti musim dingin yang membusuk perlahan di dalam kepala. Musik yang tidak berusaha menghibur, tidak mencoba menjadi " epic ", bahkan tidak peduli apakah pendengarnya mampu bertahan sampai akhir. Album seperti itu jarang lahir, dan ketika lahir, biasanya datang dari Swedia. Negara yang entah bagaimana berhasil mengubah depresi, hujan, kesepian, dan dingin menjadi bentuk seni ekstrem yang nyaris spiritual. Dan jika berbicara tentang death/doom Swedia yang benar-benar memahami makna melankolia, mustahil menghindari nama Katatonia dan proyek sampingannya yang sama suramnya: October Tide ! Album debut mereka, " Rain Without End ", bukan hanya salah satu rilisan terbaik dalam sejarah death/doom Swedia, tetapi juga salah satu album paling emosional yang pernah keluar dari gelombang pertengahan 90-an. Sebuah karya yang terasa seperti persimpangan kabut antara " Dance of December Souls " dan " Brave Murder Day ", dua monumen kesedihan yang sampai hari ini masih terdengar seperti surat bunuh diri yang direkam di ruang bawah tanah beku. Dan ironisnya, " Rain Without End " justru lahir dari perpecahan kecil antara dua otak utama Katatonia saat itu: Jonas Renkse dan Anders Nyström. Ketika Nyström tetap fokus pada Katatonia, Renkse membentuk October Tide bersama Gitaris Fredrik Norrman (Uncanny, ex-Trees of Eternity, Thenighttimeproject, ex-Katatonia, ex-Kryptan (live), ex-Fulmination, ex-Tearstained). Hasilnya bukan sekadar proyek sampingan biasa. Ini seperti fragmen jiwa Katatonia yang dipisahkan dan dibentuk menjadi sesuatu yang lebih lembut, lebih melankolis, lebih berkabut, namun tetap menghantam secara emosional. Yang membuat " Rain Without End " begitu spesial adalah caranya memadukan keindahan dan kesedihan tanpa terdengar dibuat-buat. Banyak band doom/death modern gagal memahami ini. Mereka terlalu sibuk terdengar depresif sampai musiknya berubah menjadi lumpur monoton penuh klise kesedihan murahan. October Tide justru melakukan sebaliknya. Mereka menciptakan suasana yang sangat suram, tetapi juga hangat dan menenangkan.

Tetapi begitulah rasanya mendengarkan " Rain Without End ". Seperti bangun terlalu pagi di hari hujan, masih terbungkus selimut hangat, sadar bahwa hidup di luar sana tetap menyebalkan, tetapi untuk beberapa menit singkat, kalian masih bisa bersembunyi dari dunia. Ada rasa nyaman dalam kesedihannya. Sebuah terapi muram yang sulit dijelaskan. Secara musikal, album ini berada tepat di antara dua era awal Katatonia. Ia membawa melodi etereal dan atmosfer berkabut dari " Dance of December Souls ", tetapi juga menyerap pendekatan MDM yang lebih ritmis dari " Brave Murder Day ". Hasilnya adalah perpaduan unik antara doom/death klasik dan cikal bakal MDM atmosferik yang nantinya banyak ditiru band-band modern seperti Insomnium, Ghost Brigade, hingga Daylight Dies. Tetapi tentu saja, sebagian besar peniru itu hanya berhasil menyalin permukaannya saja. Karena " Rain Without End " punya sesuatu yang tidak bisa direplikasi dengan mudah: kejujuran emosional. Riff melodius gitar di album ini terasa seperti kabut biru yang terus bergerak perlahan di atas lanskap kosong. Harmoni utamanya megah namun tetap sederhana, sementara progresi akornya membangun suasana nostalgia yang hampir menyakitkan. Ada penggunaan biola dan keyboard, tetapi semuanya dipakai dengan sangat hemat dan cerdas. Tidak berlebihan. Tidak teatrikal seperti Gothic metal murahan penuh drama vampir romantis. Semua elemen di sini hadir untuk memperkuat atmosfer, bukan mencuri perhatian. Tempo lagu-lagunya sendiri sebagian besar bergerak pada pola mid-tempo 4/4 yang stabil. Tidak terlalu lambat seperti funeral doom, tetapi juga tidak terburu-buru. Musiknya seperti berjalan lesu menembus hujan dingin. Dan ketika tempo melambat menjadi bagian-bagian paling suram, rasa putus asa itu langsung terasa menghantam. Vokal Jonas Renkse (Katatonia, Korda, ex-Bloodbath, ex-Melancholium, ex-Tearstained, ex-Wisdom of Crowds) di sini juga sangat menarik. Jika di " Dance of December Souls " ia terdengar seperti roh tersiksa yang berteriak dari sumur kematian, maka di " Rain Without End " ia justru terdengar lebih tenang, lebih sinis, lebih lelah. Growl-nya lebih dalam dan menyatu dengan musik, tenggelam di bawah aliran melodi seperti bayangan samar yang terus menghantui. Dan justru karena vokalnya tidak terlalu dominan, ketika ia benar-benar muncul ke permukaan dalam lagu seperti " Blue Gallery " atau " Infinite Submission ", dampaknya terasa jauh lebih emosional. Lirik-lirik samar tentang kehilangan, penyesalan, dan keterasingan muncul seperti bisikan dari seseorang yang sudah terlalu lama menyerah pada hidup. Kemudian datang " Losing Tomorrow ". Dan di sinilah kalian mulai melihat masa depan Katatonia.

Lagu ini menjadi interlude depresif yang nyaris sepenuhnya bersih, dipenuhi gitar clean, keyboard lembut, dan vokal tenor rapuh dari Renkse. Sangat jelas bahwa lagu ini menjadi jembatan menuju arah gothic dan alternatif yang nantinya akan berkembang penuh dalam Discouraged Ones. Tetapi yang menarik, lagu ini tidak terasa seperti eksperimen gagal. Ia menyatu alami dengan keseluruhan atmosfer album. Pada era 90-an memang banyak band doom/death mencoba menyisipkan interlude akustik depresif demi kontras emosional. My Dying Bride dan Anathema juga melakukan itu. Tetapi " Losing Tomorrow " terasa berbeda karena kesederhanaannya sangat tulus. Tidak berusaha terdengar artistik. Tidak sok puitis. Hanya kesedihan murni. Dan itulah kekuatan utama album ini secara keseluruhan. Ia tidak pernah terdengar dipaksakan. Bahkan ketika lagu-lagu seperti " Ephemeral " atau " All Painted Cold " mulai bergerak lebih cepat dengan riff yang hampir mengingatkan pada heavy metal klasik ala Iron Maiden, semuanya tetap terasa alami. Ada energi MDM di sana, tetapi dibungkus dalam atmosfer doom yang tebal dan dingin. Yang menarik lagi, album ini juga menunjukkan bahwa death/doom Swedia sebenarnya jauh lebih dinamis dibanding banyak stereotip yang muncul kemudian. Mereka tidak terpaku pada tempo super lambat sepanjang waktu seperti funeral doom modern yang kadang terdengar seperti musik untuk menunggu kematian sambil menghitung retakan dinding. " Rain Without End" justru bergerak bebas antara tempo, melodi, dan suasana tanpa kehilangan identitasnya. Dan mungkin itulah alasan album ini masih terasa hidup sampai sekarang. Ia lahir pada masa ketika genre belum sepenuhnya membeku menjadi formula. Saat death/doom, MDM, dan black metal Swedia masih saling bertabrakan dan mempengaruhi satu sama lain secara alami. Era ketika Dissection sedang membawa black metal ke wilayah melodi death metal, sementara Gothenburg scene mulai meledak lewat At The Gates dan In Flames. Di tengah semua kekacauan kreatif itu, October Tide berhasil menciptakan album yang terasa sangat personal.

Dan meskipun Katatonia kemudian bergerak ke gothic metal, alternative rock, hingga progressive rock modern, sementara October Tide sendiri berkembang menjadi lebih abrasif dan lebih dekat ke MDM modern, mereka tidak pernah benar-benar kembali ke sound unik yang ada di " Rain Without End ". Banyak yang mencoba meniru. Sedikit yang berhasil menyentuh level emosionalnya. Karena album ini bukan sekadar kumpulan lagu doom/death. Ini adalah pengalaman suasana. Sebuah potret kesedihan yang tenang, dingin, namun anehnya menenangkan. Dan di dunia metal modern yang terlalu sibuk mengejar produksi steril, drama estetika media sosial, dan depresi sintetis penuh filter, " Rain Without End " tetap berdiri seperti hujan abadi di pagi kelabu Skandinavia: sederhana, jujur, dan menghancurkan hati secara perlahan. Ultimately, despite this small peeve, I would regard this album as what should be the posterchild for what death-doom should sound like. It is a staple not only of the subgenre, but for me it is a staple of metal itself. What sets this album so well apart from all others, in my opinion, is its ability to be so atmospheric, so cohesive while still maintaining such a high degree of dynamics. A brilliant work of metal.

 

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine