Malefic Throne - The Conquering Darkness
Agonia Records CD 2025
01. Blasphémait Desecration 06:04
02. The Voice of My Ghost 06:07
03. Athirst for Dissonance 05:01
04. Born of Plague 04:42
05. Divine Tragedy 04:12
06. Carnage of the Forgotten 05:03
07. When Our Shadows Align 05:11
08. Forged of Stone 07:57
Steve Tucker - Bass, Vocals
Gene Palubicki - Guitars
John Longstreth - Drums
Istilah Supergroup sering kali terdengar seperti brosur pemasaran yang terlalu percaya diri. Sebuah label yang biasanya lebih sibuk menjual nama besar daripada kualitas musik. Banyak proyek yang dibangun dari tumpukan CV mentereng akhirnya terdengar seperti rapat alumni yang direkam di studio. Namun Malefic Throne adalah salah satu pengecualian langka yang memaksa kita menelan sinisme tersebut mentah-mentah. Trio asal Tampa, Florida ini terbentuk sejak tahun 2020 an oleh Gitaris Gene Palubicki (Demonized, Hexorcist, Perdition Temple, ex-Angelcorpse, ex-Apocalypse Command, ex-Blasphemic Cruelty, ex-Impiety, ex-Anal Blast), Bassis/Vocalis Steve Tucker (Arise from Worms, Morbid Angel, ex-Merciless Onslaught, ex-Warfather, ex-Ceremony, ex-Nader Sadek, ex-Internecine, ex-UnderCurrent) dan drummer John Longstreth (Dim Mak, Hate Eternal, Krokmitën, Neurectomy, Nordjevel, Origin, Philippe Drouin Obvurt, ex-Malicious Intent, ex-Possession, ex-Crator, ex-Gorguts, ex-Skinless, ex-The Red Chord, ex-Unmerciful, ex-Angelcorpse) muncul pertama kali melalui EP self-titled mereka pada tahun 2022 via Hells Headbangers Records. Sebuah rilisan yang sudah cukup membuat fans death metal veteran mengangkat alis, namun belum sepenuhnya memperlihatkan potensi destruktif yang sebenarnya. Kini melalui debut penuh mereka, " The Conquering Darkness " via Agonia Records, Malefic Throne datang bukan untuk memperkenalkan diri, melainkan untuk mengebom seluruh lanskap death metal modern dengan hulu ledak berisi riff, blast beat, dan kebencian yang dirancang secara presisi. Menariknya dari album ini bukan sekadar siapa yang memainkannya, melainkan bagaimana identitas musikal para personelnya bertabrakan dan melebur dalam satu wadah. Di dalamnya terdapat keganasan hiperaktif ala Angelcorpse, denyut mengerikan dan bergelombang khas era Steve Tucker di Morbid Angel, serta kecanggihan teknikal yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas Origin. Secara teori, kombinasi tersebut seharusnya menghasilkan monster yang tidak terkendali. Dalam praktiknya, Malefic Throne justru menciptakan sesuatu yang jauh lebih terstruktur daripada yang diperkirakan. Meski demikian, album ini juga menghadirkan paradoks menarik. Di satu sisi, setiap musisi tampil luar biasa. Tidak ada yang saling menginjak. Tidak ada ego yang terdengar berebut ruang. Namun justru karena semuanya bekerja begitu rapi, beberapa bagian terasa terlalu aman dibandingkan potensi eksplosif yang sebenarnya dimiliki proyek ini. Hasilnya bukan kekacauan yang gagal, bukan pula sintesis sempurna. Malefic Throne memilih jalur ketiga yang aneh: sebuah mesin perang yang efektif, tetapi terkadang terasa lebih terkendali daripada yang diharapkan dari para pelaku kriminal riff kelas kakap seperti ini.
Untungnya, begitu lagu pembuka " Blasphemait Desecration " menghantam pendengar, segala keraguan langsung dihajar sampai babak belur. Produksi yang ditangani Colin Marston di Menegroth, The Thousand Caves memberikan ruang bernapas yang jauh lebih baik dibanding EP mereka. Setiap instrumen terdengar tajam, brutal, dan memiliki bobot yang nyata tanpa kehilangan karakter organiknya. Longstreth kembali membuktikan mengapa dirinya masih menjadi salah satu drummer paling mengintimidasi dalam death metal modern. Permainannya bukan sekadar cepat. Banyak drummer mampu bermain cepat. Longstreth bermain cepat sambil tetap menjaga struktur lagu agar tidak berubah menjadi kecelakaan lalu lintas sonik. Blast beat beruntun, fill yang nyaris absurd, dan perubahan ritme yang brutal dieksekusi dengan presisi yang membuat sebagian besar drummer terdengar seperti sedang mengetik surat pengunduran diri. Sementara itu Riff gitar di album ini Umercifull banget. Tidak ada ruang kosong yang sia-sia. Riff demi riff dilemparkan dengan kecepatan yang hampir tidak manusiawi. Namun yang membedakan " The Conquering Darkness " dari banyak album death metal teknikal modern adalah kemampuannya mempertahankan groove di tengah kompleksitas. Mereka tidak terjebak dalam penyakit kronis yang sering menyerang genre ini: memainkan sejuta nada hanya karena mampu melakukannya. Pengaruh death metal militan Eropa, khususnya tradisi Brasil, Polandia, dan Belanda, terasa sangat kuat. Penggemar Centurian akan langsung menemukan banyak alasan untuk tersenyum jahat sepanjang album ini. Serangan riff yang padat namun tetap mengalir menciptakan pengalaman yang lebih menyerupai serangan artileri daripada sekadar koleksi lagu. 3 pertama album ini adalah demonstrasi kekuatan yang nyaris tidak masuk akal. " The Voice of My Ghost " menjadi titik di mana seluruh elemen mulai mencapai sinkronisasi sempurna. Di sinilah Malefic Throne berhenti terdengar seperti kumpulan referensi dan mulai membangun identitasnya sendiri. Perubahan ritme menuju bagian akhir lagu tersebut adalah salah satu momen paling menghancurkan yang muncul dari death metal Amerika dalam beberapa tahun terakhir. Kemudian hadir " Athirst For Dissonance ", sebuah komposisi yang memperlihatkan bagaimana band ini mampu memadukan kegilaan teknikal dengan atmosfer yang benar-benar mengancam. Tidak sekadar brutal, tetapi juga terasa jahat dalam arti yang sesungguhnya. Jenis kejahatan musikal yang tidak bisa diproduksi hanya dengan setting gain gitar ke angka maksimum.
Steve Tucker juga tampil sangat dominan sepanjang album. Vokalnya tetap membawa karakter khas yang telah dikenal selama puluhan tahun. Geraman dalam, berat, dan penuh otoritas yang terdengar seperti suara makhluk purba yang baru saja dibangunkan dari makam kosmik. Menariknya, ketika tempo sedikit melambat, performanya justru semakin bersinar karena setiap frase memiliki ruang untuk menghantam dengan kekuatan penuh. Dan di sinilah salah satu aspek terbaik album ini muncul. Ketika Malefic Throne berhenti mencoba menjadi peluru dan memilih menjadi longsoran gunung. Part-part yang paling mengingatkan pada Morbid Angel era " Formulas Fatal to the Flesh " dan " Gateways to Annihilation " justru menjadi titik paling memikat di album ini. Riff-riff bergelombang yang terasa Lovecraftian, tempo yang lebih lambat namun jauh lebih mengancam, serta permainan gitar yang membangun atmosfer ketimbang hanya menyerang. Di area inilah album menemukan identitas yang paling kuat. " Carnage of the Forgotten " menjadi salah satu ledakan terbesar pada sisi kedua album, sementara lagu penutup " Forged of Stone " berfungsi sebagai klimaks yang luar biasa. Dengan durasi lebih dari delapan menit, lagu ini mampu mempertahankan ketegangan hingga akhir tanpa kehilangan momentum. Sebuah penutup epik yang tidak hanya menghancurkan, tetapi juga memberikan kesan bahwa seluruh perjalanan album memang diarahkan menuju titik ini. Namun bukan berarti " The Conquering Darkness " tanpa cela. Seperti halnya Angelcorpse yang menjadi salah satu sumber DNA utamanya, album ini kadang terlalu bersemangat untuk memamerkan semua amunisi sekaligus. Ada begitu banyak ide, begitu banyak riff, begitu banyak perubahan struktur yang dilemparkan kepada pendengar dalam waktu singkat. Pada beberapa kesempatan, material yang luar biasa ini terasa seperti dipadatkan terlalu rapat sehingga sebagian dampaknya justru berkurang. Ini bukan masalah kemampuan. Jelas bukan. Ini adalah kasus klasik ketika musisi yang sangat berbakat memiliki terlalu banyak ide bagus dan memutuskan untuk menggunakan semuanya sekaligus. Meski demikian, kelemahan tersebut tidak cukup besar untuk mengurangi pencapaian album ini secara keseluruhan. Secara musikal, " The Conquering Darkness " adalah demonstrasi brutal tentang bagaimana veteran death metal masih mampu terdengar relevan tanpa harus mengejar tren. Tidak ada unsur modern yang dipaksakan. Tidak ada breakdown untuk algoritma media sosial. Tidak ada kompromi untuk playlist digital.
Yang ada hanyalah death metal Amerika yang ganas, teknikal, militan, dan sangat percaya diri. Pada akhirnya, " The Conquering Darkness " mungkin tidak akan menjadi album yang mengubah arah genre. Namun ia berhasil melakukan sesuatu yang mungkin lebih penting: mengingatkan bahwa ketika para veteran benar-benar fokus pada kekuatan mereka sendiri, hasilnya masih bisa terdengar jauh lebih mematikan daripada sebagian besar pendatang baru yang sibuk mengejar validasi internet. Ini adalah album yang menghormati masa lalu tanpa terjebak di dalamnya, memanfaatkan pengalaman puluhan tahun tanpa terdengar lelah, dan membuktikan bahwa kemarahan, jika dipersenjatai dengan riff yang tepat, tetap merupakan bahasa universal dalam death metal. Dan untuk genre yang sering terjebak antara nostalgia dan imitasi, itu adalah kemenangan yang tidak kecil. " The Conquering Darkness " is the epitome of Malefic Throne damned work, in my opinion. It's a relentless assault, forged in the fires of Hell, and hurled at the heavens in pure odium. Everything about this album growled sonic destruction. The riffs, their phrasing and the controlled chaos that is weaved throughout every composition is the work of madness and genius. Palubicki's ability to tap into Lucifer's musical prowess and regurgitate them for us mortals to absorb is mystifying. He is, by far, the most underrated death metal musician of our time. the delivery is true and passionately FUCK YOU all around. This is vitriolic death metal at its finest !
Home
(8.3/10)
[Blackened Death Metal]
* Malefic Throne
#Usa
2025
Malefic Throne - The Conquering Darkness CD 2025
Malefic Throne - The Conquering Darkness CD 2025
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Juni 03, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !