Ceremonial Oath - Carpet
Black Sun Records CD 1995
01. The Day I Buried 06:06
02. Dreamsong 03:44
03. Carpet 03:30
04. The Shadowed End 03:16
05. One of Us / Nightshade 03:54
06. Immortalized 03:48
07. Hallowed Be Thy Name (Iron Maiden cover) 06:46
Anders Friden - Vocals
Anders Iwers - Guitars
Mikael Andersson - Guitars
Thomas Johansson - Bass
Markus Nordberg - Drums
Di tengah lautan nostalgia Scene Gothenburg yang hari ini diperah habis-habisan layaknya sapi tua di festival bir murah, nama Ceremonial Oath justru masih terdengar seperti bisikan samar dari ruang rehearsal lembab yang lupa dibersihkan sejak 1994. Ironis? Sangat. Apalagi jika mengingat band ini bukan sekadar band kecil random Swedia yang kebetulan lewat di jalur sejarah MDM. Mereka adalah salah satu fondasi awal, titik embrio, laboratorium kasar tempat berbagai karakteristik penting genre ini dibentuk sebelum kemudian dicuri perhatian publik oleh nama-nama yang lebih licin secara pemasaran dan lebih rapi secara produksi. Fakta bahwa ada nama Jesper Stromblad (Cyhra, Dimension Zero, The Halo Effect, ex-Desecrator, ex-HammerFall, ex-In Flames, ex-Sinergy, ex-The Resistance, ex-All Ends) di dalam tubuh band ini seharusnya sudah cukup untuk membuat para pemuja MDM generasi Spotify pura-pura menjadi sejarawan dadakan. Namun kenyataannya, album " Carpet " justru tenggelam dalam status rilis cult yang lebih sering dibicarakan oleh kolektor kaset berdebu dibanding generasi penikmat playlist algoritma modern yang mengira MDM dimulai dari breakdown metalcore dan kaos hitam ukuran slim fit. Dan di situlah menariknya " Carpet ". Album ini bukan mahakarya. Bukan pula permata tersembunyi sempurna yang luput dari perhatian dunia. Tidak. Album ini adalah kekacauan setengah matang yang secara ajaib justru berhasil menangkap spirit asli MDM era 90-an sebelum genre itu dipoles menjadi produk steril penuh trigger drum plastik dan chorus radio-friendly. Secara musikal, " Carpet terdengar " seperti tiga raksasa Gothenburg, At the Gates, Dark Tranquillity, dan In Flames, dilempar ke dalam blender rusak lalu dipaksa bertarung memperebutkan identitas. Dan anehnya, itu justru menjadi daya tarik utama album ini.
Paruh pertama album dipenuhi solo gitar melankolis dan lead harmonis ala era awal Dark Tranquillity; melodi yang terdengar murung, melayang, namun tetap menggigit. Kemudian tiba-tiba paruh berikutnya berubah menjadi ledakan riff tremolo kasar ala At The Gates yang terdengar seperti pisau dapur karatan digesekkan ke tulang manusia. Perubahan arah ini begitu drastis hingga album terasa seperti dua EP berbeda yang dipaksa tidur serumah demi menghemat biaya studio. Yang membuat situasi makin absurd adalah kehadiran dua vokalis legendaris sekaligus: Anders Friden (In Flames, ex-Septic Broiler, If Anything, Suspicious, ex-Dark Tranquillity, ex-Dead Man's Banquet, ex-Passenger) dan Tomas Lindberg. Ya, ini bukan mimpi mabuk fans MDM. Dua ikon vokal Gothenburg itu benar-benar berbagi tugas di album ini. Hasilnya? Kadang terdengar monumental, kadang terdengar seperti proyek amal dadakan yang direkam sambil menunggu jadwal manggung festival musim panas selesai. Anders terdengar jauh lebih liar dibanding era-era awal In Flames. Growl-nya di sini seperti seseorang yang baru saja dilempar keluar dari bar Swedia pukul tiga pagi dan memutuskan melampiaskan frustrasi ke mikrofon studio. Kasar, mentah, berantakan, tapi justru penuh karakter. Sebaliknya, Tomas Lindberg membawa aura chaos khas At The Gates: teriakan histeris yang terdengar seperti manusia yang sedang bernegosiasi dengan kehancuran mentalnya sendiri. Tidak selalu memorable, tapi tetap efektif menambah nuansa agresif album.
Namun mari bicara jujur tanpa romantisme sejarah murahan: " Carpet " juga penuh cacat. Drumnya sering terdengar malas dan goyah, seperti drummer yang baru belajar pentingnya metronom lima menit sebelum rekaman dimulai. Harmonisasi gitar kadang terasa kacau balau; bukan harmoni elegan, melainkan dua remaja keras kepala yang saling berebut spotlight di studio sempit penuh asap rokok. Ada banyak momen di mana lead gitar terdengar nyaris keluar jalur nada, tetapi anehnya justru memberikan tekstur mentah yang hari ini hampir mustahil ditemukan dalam MDM modern. Karena sekarang? Semua terlalu bersih. Terlalu sempurna. Terlalu dipoles sampai kehilangan bau darah dan keringatnya. " Carpet " tidak punya kemewahan produksi modern. Tidak ada trigger drum steril, tidak ada editing digital presisi bedah syaraf, tidak ada polishing ala industri metal kontemporer yang membuat semua band terdengar seperti copy-paste plugin studio. Album ini hidup dari ketidaksempurnaannya. Dari kebocoran energinya. Dari kesan bahwa semuanya bisa runtuh sewaktu-waktu namun tetap dipaksa berjalan dengan kecepatan penuh.
Lagu seperti " The Day I Buried " menjadi bukti paling jelas bagaimana kekacauan bisa berubah menjadi kekuatan. Riff Gothenburg klasik berpadu dengan solo gitar yang emosional dan ledakan energi vokal Anders menciptakan atmosfer yang terasa heroik sekaligus brutal. Ada juga " Dreamsong ", yang secara mengejutkan memunculkan pola riff yang bertahun-tahun kemudian akan dijarah habis-habisan oleh band-band metalcore Amerika. Bedanya? Di tangan Ceremonial Oath, riff seperti ini masih punya keganasan alami. Belum berubah menjadi soundtrack gym komersial untuk orang-orang bertato kompas dan berjenggot minyak pomade. Di sinilah " Carpet " menjadi penting secara historis. Album ini seperti cetak biru setengah rusak yang nantinya menginspirasi banyak formula MDM modern, bahkan metalcore melodik generasi awal. Ada elemen thrash metal tersembunyi di balik struktur lagunya, ada aroma blackened tremolo riffing, ada agresi punk yang belum sepenuhnya hilang dari akar death metal Swedia kala itu. Semuanya mentah, belum stabil, namun terasa hidup. Dan hidup adalah sesuatu yang sangat langka dalam banyak rilisan MDM modern. Closing setlist album berupa cover " Hallowed Be Thy Name " milik Iron Maiden juga layak diapresiasi. Bukan karena dimainkan dengan sempurna, justru jauh dari itu, melainkan karena Ceremonial Oath berhasil mempertahankan karakter berantakan mereka tanpa menghancurkan esensi lagu aslinya. Cover ini terdengar seperti sekelompok maniak Swedia yang sangat mencintai heavy metal klasik namun terlalu brutal untuk memainkannya secara rapi. Dan itu pujian. Lalu soal sampul albumnya? Astaga. Itu mungkin salah satu artwork paling tidak membantu dalam sejarah MDM. Tampak seperti desain poster rental karpet diskon akhir tahun yang tersesat ke toko kaset underground. Bisa jadi banyak orang mengabaikan album ini hanya karena cover-nya terlihat seperti hasil eksperimen Photoshop gagal sebelum Photoshop bahkan populer. Tetapi mungkin justru itu yang membuat Carpet bertahan sebagai artefak kultus.
" Carpet " tidak sempurna. Tidak revolusioner secara mutlak. Tidak pula sekonsisten rilisan klasik Gothenburg lainnya. Namun di balik seluruh kekacauan, ketidakmatangan, dan identitas yang compang-camping, album ini tetap memancarkan sesuatu yang hari ini nyaris punah dari MDM: kejujuran brutal. " Carpet " bukan album untuk semua orang. Ini bukan gerbang utama menuju MDM. Tetapi bagi mereka yang benar-benar ingin memahami bagaimana genre ini berkembang sebelum dipoles industri dan dijadikan komoditas nostalgia, album ini adalah dokumen penting. Sebuah rekaman tentang scene yang masih lapar, masih liar, dan masih cukup Unyu-unyu untuk terdengar berbahaya.
Home
[CLASSIX MOST WANTED]
[Melodic Death Metal]
* Ceremonial Oath
#Sweden
★ Classic Release Academy ★
1995
Ceremonial Oath - Carpet CD 1995
Ceremonial Oath - Carpet CD 1995
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Juni 06, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !