Buried Dreams - Beyond Your Mind CD 1997

Buried Dreams - Beyond Your Mind
Oz Productions CD 1997

01. The Sword and the Cross 08:23       
02. Black Dragon 06:21     
03. Reflexions in the Light 07:15     
04. The Battle 06:07       
05. Beyond Your Mind 07:07     
06. Limits of Fantasy 08:47       
07. Looking Through the Fire 05:11     
08. Irony 06:09       
09. Moxtla 03:12      
10. Her Beauty 06:32


Ivan Santos - Vocals
Ndua Valdespino - Guitars
Antonio De Yta - Guitars, Keyboards, Vocals
Ezequiel Mendoza - Bass, Keyboards
Anuar Bautista - Drums


Ketika pasar metal bawah tanah mulai dipenuhi parade band epic hasil fotokopi kaset ketiga dari band tetangga, lahirlah pula sekian banyak album yang terdengar seperti proyek tugas sekolah dengan dana receh dan ambisi stadion. Semua ingin terdengar gelap. Semua ingin terdengar heroik. Semua ingin terdengar brutal. Tapi yang terjadi justru parade riff generik, produksi plastik murahan, dan vokalis yang menjerit seperti orang tersandung kabel amplifier di studio latihan. Dan di antara tumpukan puing-puing itulah album ini berdiri bukan sebagai mahakarya, melainkan sebagai contoh sempurna bagaimana ide yang mungkin lumayan bisa dibunuh secara perlahan oleh eksekusi setengah matang dan rasa percaya diri yang terlalu tinggi. Sejak detik pertama " The Sword And The Cross " dibuka, aroma klise langsung menyeruak seperti asap knalpot bus tua di terminal malam hari. Dentuman drum sederhana dengan string latar yang mencoba terdengar epic muncul tanpa malu-malu, seolah formula murahan itu belum pernah dipakai ribuan band fantasy metal kelas dua sebelumnya. Ini tipe intro yang mungkin terdengar megah bagi anak baru yang baru mengenal metal seminggu lalu, tapi bagi pendengar yang sudah kenyang dihajar rilisan Swedia, Finlandia, atau Jerman era 90-an, semuanya terdengar seperti template preset MIDI yang lupa dimatikan.

Masalah terbesar album ini bukan cuma soal buruknya produksi. Itu terlalu mudah dijadikan kambing hitam. Banyak album klasik black metal terdengar seperti direkam di ruang bawah tanah lembab dekat kandang kambing, tapi tetap punya karakter dan nyawa. Persoalannya di sini adalah musiknya sendiri memang terasa kosong. Gitar terdengar kaku seperti diprogram komputer murah, kehilangan sentuhan manusia, kehilangan rasa bahaya, kehilangan kotoran alami yang seharusnya membuat extreme metal terasa hidup. Nada demi nada keluar dengan steril namun anehnya tetap berantakan, seperti robot mabuk yang dipaksa memainkan heavy metal sambil disetrum aki motor. Komposisinya pun nyaris tanpa identitas. Riff-riff generik berjatuhan satu demi satu tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Progression chord terasa seperti hasil undian acak dari buku panduan " How To Write Metal Songs For Beginners ". Tidak ada hook mematikan. Tidak ada melodi yang menghantui kepala. Tidak ada dinamika yang membuat lagu berkembang. Semuanya hanya bergerak dari satu bagian membosankan menuju bagian membosankan berikutnya dengan antusiasme setara pegawai administrasi mengisi formulir pajak. Yang membuat frustrasi adalah album ini sebenarnya sesekali memperlihatkan secuil ide yang lumayan. Ada beberapa momen ketika atmosfer mencoba dibangun, ketika gitar mencoba merangkak menuju sesuatu yang lebih emosional atau lebih gelap. Tapi semua itu langsung runtuh karena band ini tampaknya tidak tahu bagaimana mengembangkan ide. Mereka seperti punya bahan mentah tapi tidak punya kemampuan memasaknya. Hasil akhirnya setengah matang, hambar, dan sulit dicerna.

Vokal menjadi salah satu titik paling menyiksa di sini. Sang vokalis tampaknya sangat ingin terdengar ganas, tetapi hasil akhirnya justru terdengar seperti orang sedang memaksa batuk berdarah sambil meniru scream vokalis black metal favoritnya di depan cermin kamar mandi. Tidak ada artikulasi yang kuat, tidak ada kharisma, tidak ada aura ancaman. Yang ada hanya jeritan monoton yang lama-lama terdengar melelahkan. Extreme metal membutuhkan vokal yang bisa menjadi senjata; di sini vokalnya malah menjadi beban. Lebih parah lagi, sinkronisasi antar instrumen sering terasa goyah. Ada bagian ketika gitar seperti kehilangan tempo dari lagu utama, membuat keseluruhan permainan terdengar seolah direkam dalam satu kali take tanpa revisi, tanpa disiplin, tanpa produser yang cukup peduli untuk berkata: " Stop. Ulang dari awal. " Dan sayangnya, banyak rilisan underground memang mati karena penyakit klasik ini terlalu cepat ingin merilis album sebelum benar-benar siap menjadi band yang solid. Lagu-lagu lambat di album ini juga gagal total mencapai efek epic yang mereka incar. Mereka ingin terdengar megah dan emosional, tetapi justru jatuh menjadi repetitif dan membius dalam arti terburuk. Bukan hipnotis atmosferik ala doom metal klasik, melainkan rasa kantuk brutal akibat struktur lagu yang datar dan minim perkembangan. Ketika bagian lambat datang, energi album ambruk seperti panggung festival murahan diterjang hujan badai. Liriknya pun tidak membantu. Tema-tema yang diangkat terasa seperti kumpulan jargon fantasy dan pseudo-darkness tanpa kedalaman emosional. Pedang, salib, peperangan, penderitaan, bla bla bla semua ada, tapi tanpa jiwa. Seolah mereka hanya mencentang daftar stereotip metal tanpa benar-benar memahami bagaimana membangun narasi atau atmosfer yang kuat.

Dan di sinilah letak tragedinya: album ini bukan rilisan yang sepenuhnya tanpa harapan. Ada fondasi ide yang sebenarnya bisa diarahkan menjadi sesuatu yang menarik jika digarap dengan lebih serius, dengan produksi yang lebih organik, penulisan lagu yang lebih disiplin, dan keberanian untuk mencari identitas sendiri alih-alih berenang di lautan klise. Namun yang tersisa hanyalah album yang terdengar seperti demo panjang yang dilepas terlalu dini ke pasar. Di era ketika banyak band Swedia, Finlandia, dan Norwegia berlomba menciptakan identitas kuat melalui melodi dingin, atmosfer suram, atau agresi barbarik, album ini justru terjebak menjadi bayangan samar dari semua pengaruh itu tanpa pernah benar-benar berdiri dengan kaki sendiri. Ia mencoba menjadi epik, brutal, dan emosional sekaligus, namun gagal menyeimbangkan ketiganya. Hasilnya adalah rekaman yang terdengar seperti konsep setengah jadi yang kehilangan arah di tengah jalan. Pada akhirnya, album ini adalah pengingat pahit bahwa niat besar tidak otomatis menghasilkan karya besar. Kadang sebuah band memiliki terlalu banyak ambisi tetapi terlalu sedikit kemampuan untuk menerjemahkannya menjadi musik yang benar-benar hidup. Dan di dunia metal, terutama di skena 90-an yang brutal dan kompetitif, kelemahan seperti itu tidak akan diampuni. Bukan oleh waktu. Bukan oleh pendengar. Dan jelas bukan oleh sejarah.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine