Armageddon - Crossing the Rubicon
War Music CD 1997
01. 2022 (Intro) 01:59
02. Godforsaken 04:39
03. The Juggernaut Divine 05:18
04. Astral Adventure 04:59
05. Funeral in Space 03:01
06. Asteroid Dominion 04:38
07. Galaxies Away 03:49
08. Faithless 02:11
09. Children of the New Sun 02:45
10. Into the Sun 04:33
Jonas Nyrén - Vocals
Christopher Amott - Guitars
Martin Bengtsson - Bass
Peter Wildoer - Drums
Ada satu ironi besar yang terus berulang: terlalu banyak band besar dipuja setinggi langit hanya karena nama dan momentum, sementara beberapa album yang benar-benar punya taring justru tenggelam di bawah bayang-bayang keluarga besar mereka sendiri. Dan jika ada satu contoh paling brutal tentang fenomena itu, maka Armageddon adalah salah satunya. Band ini sering dianggap sekadar proyek sampingan milik Christopher Amott yang kita tahu adalah adik kandung dari Michael Amott, otak utama di Arch Enemy dan mantan member Carcass. Dan mungkin disitulah kesalahan besar banyak orang: mereka datang ke Armageddon dengan ekspektasi side project kecil, padahal debut mereka justru terdengar seperti monster yang sanggup menelan sebagian besar diskografi awal Arch Enemy hidup-hidup. Karena album debut " Crossing the Rubicon " bukan sekadar rilisan MDM biasa yang menumpang nama besar keluarga Amott. Ini adalah album yang menunjukkan bagaimana MDM bisa terdengar megah, agresif, teknikal, melodis, dan liar tanpa kehilangan arah. Sebuah album yang datang dari era ketika genre ini masih lapar dan belum berubah menjadi jalur produksi massal untuk band metalcore berponi yang sibuk menjual patah hati lewat breakdown steril. Dan sebelum terlalu jauh membahas album ini, penting juga memahami siapa sebenarnya Christopher Amott bagi mereka yang hanya mengenalnya sebagai adik Michael. Terinspirasi oleh permainan gitar sang kakak dan pengaruh besar Carcass, Christopher mulai bermain gitar pada usia empat belas tahun. Ia menghabiskan masa mudanya bermain di band-band lokal sebelum akhirnya masuk sekolah musik pada usia delapan belas tahun. Di titik itulah Michael menghubunginya untuk mengisi solo gitar dalam proyek baru bernama Arch Enemy.
Hasilnya adalah " Black Earth " (1996), album debut Arch Enemy yang langsung meledak terutama di Jepang. Namun menariknya, saat tur Jepang bersama Arch Enemy pada 1996, Christopher justru mendapat kontrak rekaman untuk proyek pribadinya sendiri: Armageddon. Dan untunglah itu terjadi. Karena " Crossing the Rubicon " terdengar seperti ruang bebas bagi Christopher untuk memuntahkan semua ide gitar gilanya tanpa harus sepenuhnya tunduk pada format Arch Enemy. Bahkan bisa dibilang, album ini jauh lebih liar secara musikal dibanding sebagian besar rilisan awal Arch Enemy sendiri. Lucunya lagi, cover albumnya saja sudah cukup absurd dan ikonik untuk membuat orang lapar sambil mendengarkan solo gitar. Sebuah komentar yang terdengar bercanda, tetapi anehnya cukup tepat menggambarkan aura album ini: berlebihan, unik, sedikit nyeleneh, tetapi sangat memorable. Secara musikal, fondasi album ini jelas berada di MDM, tetapi ada suntikan heavy metal klasik dan power metal yang sangat kuat di dalam karakteristik-nya. Dan itu terutama muncul lewat permainan riff gitar Christopher Amott yang benar-benar menjadi pusat gravitasi album ini. Permainan gitarnya? Gila. Ini adalah salah satu contoh terbaik bagaimana riff MDM seharusnya terdengar. Sangat dipengaruhi oleh Iron Maiden, tetapi dibawa masuk ke wilayah yang lebih agresif dan thrashy. Christopher bermain dengan gaya yang cepat, ekspresif, melodis, tajam, dan penuh karakter. Solo-solonya tidak terasa seperti latihan teknik kosong untuk pamer skill. Setiap solo punya narasi dan emosi sendiri. Dan ketika album ini masuk ke bagian solo, di situlah semuanya benar-benar menggila.
" The Juggernaut Divine " menghadirkan solo hampir dua menit yang terasa seperti perang kosmik antara heavy metal klasik dan MDM modern. " Astral Adventure ", yang mungkin menjadi lagu terbaik di album ini, memiliki solo panjang yang benar-benar luar biasa, melodis, heroik, dan penuh energi. Lalu ada " Faithless " dan " Into the Sun " yang memperlihatkan bagaimana Christopher mampu membuat gitar berbicara lebih keras daripada sebagian besar vokalis dalam genre ini. Inilah jenis permainan gitar yang membuat banyak band MDM modern terdengar seperti tutorial YouTube mahal tanpa jiwa. Namun album ini tidak hanya hidup dari gitar. Vokal Johan Liiva memang sering dibandingkan dengan pendekatan awal Arch Enemy, tetapi di sini karakter vokalnya terasa berbeda. Sementara Liiva di Arch Enemy terdengar seperti monster bawah tanah dengan growl rendah dan kotor, vokalis Armageddon, Mats Levén Nyrén, justru lebih banyak menggunakan scream tinggi yang penuh kemarahan. Dan ya, mungkin vokalnya memang elemen paling lemah di album ini. Tetapi bahkan kelemahan itu masih sangat bisa ditoleransi. Karena ada sesuatu yang mentah dan jujur dalam cara dia berteriak. Teriakannya terdengar seperti manusia sungguhan yang sedang marah, bukan vokalis modern yang terlalu sibuk mengejar teknik ekstrem sambil terdengar seperti plugin digital. Dan yang paling penting: vokalnya memberi identitas unik pada album ini. Lalu ada permainan drum dari Adrian Erlandsson alias Wildoer, yang benar-benar menjadi mesin perang album ini. Permainannya brutal, teknikal, ritmis, tetapi juga tahu kapan harus menjadi megah dan atmosferik. Dia mampu berpindah dari intensitas death metal penuh ledakan ke groove epik tanpa kehilangan momentum. Produksi albumnya juga cukup kuat untuk membuat setiap pukulan drum terdengar jelas dan tajam. Bassnya mungkin tidak terlalu menonjol, tetapi justru itu yang dibutuhkan album seperti ini. Ia bekerja sebagai fondasi yang memberi bobot pada seluruh komposisi tanpa mencoba mencuri perhatian. Dan yang paling menarik dari " Crossing the Rubicon " adalah keberanian Armageddon keluar dari formula standar MDM. Mereka tidak puas hanya membuat lagu agresif penuh harmonisasi gitar. Mereka bereksperimen.
" 2022 " misalnya, hanyalah intro menuju " Godforsaken ", tetapi berhasil membangun atmosfer yang sangat kuat. " Funeral in Space " terdengar seperti soundtrack film Asia epik atau anime sci-fi kuno yang diseret masuk ke dunia death metal. Ada nuansa oriental yang aneh namun justru sangat cocok dengan tema kosmik album ini. Lalu datang " Galaxies Away ", mungkin lagu paling eksperimental di album ini. Drum tribal, atmosfer ruang angkasa, dan permainan ritmis yang nyaris terasa seperti ritual alien kuno. Lagu seperti ini seharusnya terdengar konyol di album MDM, tetapi Armageddon entah bagaimana berhasil membuatnya masuk akal. Dan itu yang membuat album ini spesial: keberanian. Mereka tidak takut terdengar aneh. Tidak takut keluar jalur. Tidak takut memasukkan ide-ide yang mungkin dianggap terlalu eksperimental untuk MDM akhir 90-an. Sayangnya, setelah album ini Armageddon perlahan bergerak lebih jauh ke arah power metal. Dan meskipun perubahan itu sebenarnya cukup menarik, tetap saja ada rasa kehilangan besar karena " Crossing the Rubicon " terasa seperti fondasi untuk sesuatu yang jauh lebih besar.
Christopher sendiri kemudian keluar dari Arch Enemy pada 2005 dengan alasan ia " tidak merasakan band itu lagi. " Ia sempat mengajar musik dan kuliah sebelum kembali lagi ke Arch Enemy pada 2007, lalu keluar untuk kedua kalinya pada 2011. Setelah itu ia menghidupkan kembali Armageddon pada 2012 sambil terus mengeksplorasi proyek solo, termasuk album atmosferik " Follow Your Heart " (2010), " Impulses " (2012), hingga album synthwave " Electric Twilight " (2020), yang bahkan menampilkan beberapa kolaborasi penulisan bersama Michael Amott. Namun sejujurnya, seberapa jauh pun Christopher bereksperimen di masa depan, " Crossing the Rubicon " tetap terasa seperti momen paling liar dan paling lapar dalam karirnya. Sebuah album MDM yang tidak hanya mengandalkan agresi atau melodi, tetapi juga imajinasi. Dan di tengah genre yang terlalu sering terjebak dalam pengulangan formula, itu adalah kualitas yang jauh lebih langka daripada sekadar skill teknis atau produksi mahal.
Home
[CLASSIX MOST WANTED]
[Melodic Death Metal]
[Progressive Metal]
* Armageddon
#Sweden
★ Classic Release Academy ★
1997
Armageddon - Crossing the Rubicon CD 1997
Armageddon - Crossing the Rubicon CD 1997
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Juni 06, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !