Doodswens - Doodswens
Svart Records CD 2026
01. Driven by Death 04:37
02. Verrot 04:57
03. The Black Flame 06:13
04. These Wounds Never Healed 06:03
05. She Carries the Curse 06:29
06. Devils Stone 04:26
07. Vlaamse vloek 04:46
I. - Drums, Vocals
P. - Guitars
R. - Bass
Era ketika terlalu banyak band black metal modern terdengar seperti hasil kawin silang antara soundtrack Netflix murahan dan influencer gelap penuh eyeliner mahal, Doodswens datang membawa sesuatu yang mulai langka di scene ekstrem: rasa lapar, rasa sakit, dan ketulusan yang benar-benar busuk dari dalam. Tidak ada orkestrasi megah. Tidak ada synth sinematik. Tidak ada produksi steril yang dipoles sampai semua rasa bahaya hilang. Yang ada hanya suara manusia yang terdengar seperti sedang perlahan membusuk hidup-hidup. Doodswens adalah proyek duo antara Inge van der Zon (Riot Pill, ex-Gestalte, ex-The Fifth Alliance) Drummer dan Vocalis cewek dibelakangnya dan Fraukje van Burg, nama band yang berarti " keinginan untuk mati " dalam bahasa Belanda, Doodswens berkembang menjadi trio ketika merilis debut mereka di Svart Records berjudul " Lichtvrees ". Namun pada album kedua yang kini menyandang nama band itu sendiri, formasi mereka praktis berubah total. Inge menjadi satu-satunya anggota asli yang tersisa, mengambil alih vokal untuk pertama kalinya sambil tetap duduk di balik drum kit, ditemani line-up baru pada gitar dan bass. Dan ironisnya, justru setelah semua perubahan itu, Doodswens terdengar semakin murni. Karena album ini tidak terdengar seperti proyek yang dibangun untuk scene. Ia terdengar seperti luka terbuka. Secara musikal, Doodswens bermain di wilayah black metal yang benar-benar mentah dan totalitas. Tidak ada lapisan simfonik ala Emperor. Tidak ada teatrikal megah ala Dimmu Borgir. Mereka jauh lebih dekat pada kebusukan awal Darkthrone dan Mayhem, ketika black metal masih terdengar seperti suara ruang bawah tanah lembab yang dipenuhi amarah, depresi, dan nihilisme nyata, bukan sekadar estetika Instagram hitam-putih.
Produksi album ini sangat lo-fi, kasar, dan kumuh. Tetapi ini bukan jenis raw production palsu yang sengaja dibuat buruk demi terlihat " trve ". Ada rasa organik di sini. Drum terdengar seperti direkam di ruangan sempit penuh asap dan dinding berjamur, gitar berdengung seperti generator rusak, dan bass muncul samar seperti bayangan di kabut. Semua terasa kotor, tetapi hidup. Yang membuat Doodswens semakin menarik adalah penggunaan bahasa Belanda dalam mayoritas lirik mereka. Di dunia metal ekstrem yang terlalu sering terjebak dalam bahasa Inggris generik penuh klise setan supermarket, mendengar black metal dilantunkan dalam bahasa asli mereka memberi nuansa yang jauh lebih personal dan mengganggu. Ini bukan occult cosplay murahan. Lirik mereka lebih banyak berbicara tentang demon internal, penderitaan mental, luka emosional, dan rasa hancur yang sangat manusiawi. Dan itu membuat semuanya terasa lebih mengerikan. Karena monster paling brutal sering kali bukan iblis bertanduk dalam cerita fantasi, tetapi pikiran manusia itu sendiri. " Driven by Death " membuka album seperti serangan panik yang direkam di tengah hutan mati. Lagu ini meledak keluar dari speaker dengan suara gitar berisik, drum yang dihajar tanpa belas kasihan, dan vokal Inge yang terdengar seperti roh kelaparan menjerit dari sumur tua. Rasanya seperti masuk ke bagian yang hilang dari The Blair Witch Project, hanya saja kali ini penyihirnya membawa blast beat dan trauma psikologis.
Terasa lucunya, lagu pembuka ini justru sedikit menipu. Karena pada awalnya, Doodswens terdengar hampir terlalu kacau. Seolah mereka sengaja melempar part paling berisik dan paling menjijikkan di depan untuk mengusir pendengar manja yang mengira black metal hanyalah soundtrack aesthetic doomscrolling sambil minum kopi artisan. Dan jujur saja, itu keputusan yang bagus. Biarkan mereka kembali ke Sleep Token dan pencahayaan panggung TikTok mereka. Karena begitu melewati tiga menit pertama yang penuh sound itu, album ini mulai memperlihatkan kedalamannya. Doodswens ternyata tidak sekadar bermain cepat dan kasar tanpa arah. Mereka memahami dinamika. Mereka tahu kapan harus menghantam, kapan harus membiarkan riff terbakar perlahan, dan kapan harus menciptakan ruang kosong yang terasa lebih menyakitkan dibanding ledakan blast beat mana pun. " These Wounds Never Healed " menjadi titik di mana album mulai menunjukkan sisi paling depresifnya. Lagu ini bergerak lebih lambat, lebih suram, dengan riff yang terasa seperti bara hitam yang perlahan membakar paru-paru. Atmosfernya begitu dingin dan melelahkan sampai hampir terasa fisik. Dan di sinilah vokal Inge benar-benar bersinar, bukan karena tekniknya sempurna, tetapi karena terdengar nyata. Tidak dibuat-buat. Tidak teatrikal. Ia terdengar seperti seseorang yang benar-benar sedang runtuh. " She Carries the Curse " melanjutkan nuansa itu dengan pendekatan yang lebih melankolis namun tetap brutal. Gitar berdengung panjang di bawah ritme drum yang terus bergerak seperti denyut jantung penuh kecemasan, sementara vokalnya melayang di atas semuanya seperti ratapan dari tubuh yang sudah menyerah tetapi belum mati. Yang paling menarik dari album ini adalah bagaimana Doodswens berhasil membuat black metal terasa intim.
Kebanyakan band black metal modern terlalu sibuk terdengar " Epic ". Mereka ingin terdengar kosmik, megah, sinematik, atau intelektual. Doodswens justru terasa sempit, pengap, dan personal. Mendengarkan album ini seperti duduk sendirian di kamar gelap pukul tiga pagi sambil mendengar suara pikiran sendiri perlahan berubah menjadi musuh. Dan justru itu kekuatannya. Karena black metal sejati seharusnya tidak selalu terdengar heroik atau mistis. Kadang ia seharusnya terdengar menyedihkan, jelek, dan sangat manusiawi. Album ini bukan tentang kesempurnaan teknis. Bukan tentang produksi modern. Bukan tentang menjadi evolusi black metal demi headline media musik. Doodswens lebih tertarik pada emosi mentah, rasa sakit yang tidak dibersihkan, kemarahan yang tidak diarahkan, dan kehancuran psikologis yang tidak diberi filter. Dan di tengah scene ekstrem modern yang terlalu sering terdengar seperti produk fashion gelap dengan preset produksi identik, Doodswens muncul seperti luka terbuka yang menolak sembuh: kotor, menyakitkan, tidak nyaman, tetapi mustahil diabaikan.
Home
(08/10)
[Black Metal]
[Female Fronted]
* Doodswens
#Netherland
2026
Doodswens - Doodswens CD 2026
Doodswens - Doodswens CD 2026
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Mei 27, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !