Defiled - Erupted Wrath CD 1999

Defiled - Erupted Wrath 
Bizarre Records CD 1999

01. Fall into Dilemma 02:39      
02. Nihilism 03:07       
03. Rush of Hostility 03:14      
04. Erupted Wrath 03:56      
05. Defiled 03:28      
06. Boiled in Limbo 03:26      
07. Intro 00:13       
08. Addicted to Occult Oath 03:15      
09. Crush the Enemy Rising 02:47       
10. Depth of Psycho 00:50      
11. Defeat of Sanity 03:22


Hideki Fujimoto - Vocals
Yusuke Sumita - Guitars
Norihisa Fukuda - Bass
Naoki Akamatsu - Drums

 
Ada death metal brutal yang mengandalkan kecepatan sebagai senjata, lalu ada yang menumpuk riff, blast beat, perubahan tempo, dan jeda mendadak sampai pendengarnya seperti dipaksa menyusun kembali serpihan tulang di tengah ledakan. " Erupted Wrath ", debut full-length Defiled asal Jepang, berada di wilayah kedua. Album ini tidak menawarkan keramahan, apalagi jalan masuk yang mudah. Ia menyerang dengan struktur yang gelisah, permainan instrumental yang padat, dan intensitas yang nyaris tidak memberi kesempatan bagi otak untuk bernapas. Defiled terbentuk pada 1992, merilis demo pada 1993 dan EP " Defeat of Sanity " pada 1994. Album ini semula direncanakan hadir pada 1997, tetapi persoalan dengan label menundanya hingga September 1999. Lima lagu dari EP tersebut direkam ulang untuk album ini, dengan Naoki Akamatsu mengambil posisi drum dan Hideki Fujimoto menggantikan vokalis sebelumnya, Masafumi Kitamura. Penundaan dua tahun itu mungkin menyebalkan bagi sebuah band, tetapi hasil akhirnya bukan dokumen yang terdengar kehilangan momentum. Justru, " Erupted Wrath " datang dengan keganasan yang terasa masih menyala. Menempatkan Defiled sebagai band technical death metal sepenuhnya terasa sedikit menyederhanakan persoalan. Memang, unsur teknisnya bertebaran: riff gitar yang berkelok, perpindahan tempo mendadak, blast beat tanpa ampun, serta permainan bass yang sesekali menerobos ke depan dengan kelincahan hampir jazzy. Namun, fondasi musik mereka tetap berpijak pada kebrutalan death metal era 1990-an bayangkan pertemuan intensitas Sinister, Morbid Angel, Deranged, Suffocation, dan Cannibal Corpse dengan kerumitan gitar yang mengingatkan pada pendekatan Death dan Pestilence.

Yang membuat " Erupted Wrath " menarik bukan semata-mata banyaknya nada yang dimainkan, melainkan cara Defiled mengacaukan ekspektasi pendengar. Riff tidak selalu bergerak menuju klimaks yang mudah ditebak. Ketika satu bagian tampak mulai menemukan pijakan, tempo bisa berubah, pola gitar berbelok, atau lagu mendadak menghantam dengan hentian yang terasa seperti rem blong. Musiknya memiliki logika internal, tetapi logika itu tidak merasa berkewajiban menjelaskan dirinya kepada siapa pun. Di sinilah perbedaan antara permainan teknis dan komposisi yang benar-benar hidup menjadi penting. Teknik dapat menjadi sirkus jari: mengesankan selama beberapa menit, kemudian melelahkan begitu lampu panggung padam. Defiled relatif berhasil menghindari jebakan tersebut karena kerumitan mereka masih terikat pada tujuan yang jelas membangun tekanan, mempertahankan kegelisahan, lalu menghantam kembali sebelum pendengar sempat merasa aman. Gitar menjadi pusat gravitasi album. Riff-riffnya bergerak liar, berliku, dan sering kali menolak pengulangan yang nyaman. Namun, Defiled memahami bahwa kebrutalan tidak harus terus-menerus dibangun lewat kecepatan maksimal. Pada sejumlah bagian, akor gitar yang ditahan di atas drum yang terus menggelora menghasilkan atmosfer gelap dan mengancam. Formula semacam ini bukan penemuan baru death metal telah lama menggunakannya tetapi efektivitasnya tidak ditentukan oleh usia trik, melainkan oleh ketepatan penempatan. Di tangan Defiled, kesederhanaan sesaat itu menjadi kontras yang memperkeras kekacauan di sekelilingnya.

Bass juga bukan sekadar bayangan frekuensi rendah yang bertugas mengikuti gitar. Permainannya terkadang muncul dengan cukup menonjol, menyisipkan gerakan rumit di tengah komposisi yang sudah sesak. Pada momen tertentu, kelincahan tersebut menyentuh wilayah yang mengingatkan pada Watchtower atau Confessor: bukan karena Defiled berubah menjadi band prog metal, melainkan karena instrumennya menunjukkan kebebasan bergerak yang jarang mendapat ruang dalam death metal yang hanya sibuk menghitung blast beat. Di balik semua itu, permainan drum Akamatsu menjaga musik tetap bergerak dengan energi agresif. Pergantian tempo dan jeda yang tajam membuat lagu-lagunya terasa seperti organisme yang terus kejang. Namun, kepadatan ini sekaligus menjadi kelemahan album. Ketika hampir setiap bagian ingin menjadi kejutan, kejutan itu sendiri berisiko kehilangan daya. Ada kalanya Defiled terdengar seperti tidak rela membiarkan satu riff bernapas cukup lama sebelum menghancurkannya dengan ide berikutnya. Vokal Hideki Fujimoto cocok dengan karakter musiknya: geraman kasar, padat, dan agresif, tanpa perlu menambahkan teatrikalitas berlebihan. Ia tidak berusaha menjadi pusat perhatian yang menelan seluruh instrumen. Sebaliknya, suaranya menjadi satu lagi elemen brutal dalam mesin yang sudah bekerja terlalu keras untuk disebut santai.

Produksinya memiliki karakter organik, gelap, dan mentah, dengan gitar ditempatkan cukup dominan. Keputusan itu tepat untuk album yang kekuatannya bergantung pada detail riff dan perubahan struktur. Lapisan suara masih cukup terbaca, sementara bagian bawah memberikan bobot yang dibutuhkan agar musik tidak terdengar kurus. Ini bukan produksi yang memoles kebrutalan sampai kehilangan giginya; ada tekstur kasar yang justru memperkuat kesan bahwa Defiled sedang bermain di wilayah yang tidak mengenal kompromi. Sayangnya, perkusi sesekali terdengar terlalu sintetis dan terproses dibandingkan karakter instrumen lainnya. Ketimpangan kecil ini mengganggu kesatuan suara album, terutama ketika permainan drum begitu penting dalam mengendalikan perubahan tempo. Kekurangannya bukan bencana, tetapi cukup terasa untuk mengingatkan bahwa produksi yang solid tidak otomatis berarti produksi yang sempurna. " Erupted Wrath " bukan album yang selalu memberi imbalan pada pendengaran pertama. Struktur yang padat dan perpindahan bagian yang nyaris tanpa aba-aba menuntut beberapa kali pemutaran untuk menangkap bagaimana riff, bass, dan drum saling mengunci. Namun, tidak semua pendengar akan menemukan hadiah di ujung proses itu. Sebagian mungkin justru merasa kelelahan oleh rentetan ide yang tak kunjung memberi ruang kosong dan kritik tersebut sah. Intensitas tanpa jeda bisa berubah menjadi kebisingan yang kehilangan hierarki; kompleksitas tanpa pengaturan bisa terasa seperti demonstrasi kemampuan yang lupa bahwa lagu tetap membutuhkan arah. Defiled memang tidak selalu lolos dari masalah itu. Meski begitu, mereka memiliki sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kecepatan atau kesulitan teknis: naluri untuk membuat kebrutalan terasa tidak stabil, seolah musiknya bisa berubah bentuk sewaktu-waktu.

Album ini juga memperlihatkan bagaimana band Jepang tersebut mengambil bahasa death metal ekstrem yang telah berkembang di Eropa dan Amerika, lalu menyusunnya dengan karakter sendiri. Tidak perlu menganggap faktor geografis atau budaya sebagai penjelasan ajaib atas keunikan mereka. Yang terdengar jelas adalah keputusan musikalnya: riff yang tidak mudah ditebak, bass yang berani muncul, tempo yang berubah agresif, dan atmosfer gelap yang tidak bergantung pada produksi berlebihan. Putusan akhir: " Erupted Wrath " adalah debut yang kuat, brutal, dan menantang, meski sesekali terlalu rakus terhadap ide-idenya sendiri. Defiled tidak sekadar memainkan death metal dengan lebih cepat atau lebih rumit; mereka mengubah ketidakstabilan menjadi bagian dari identitas musiknya. Album ini memang bukan pintu masuk ideal bagi pendengar yang menginginkan death metal lugas dan mudah dicerna. Namun, bagi mereka yang menikmati riff berliku, eksekusi teknis, dan kekacauan yang masih memiliki arah, inilah sebuah ledakan yang layak ditelusuri berulang kali. Sebab, dalam death metal, menjadi brutal itu relatif mudah. Yang jauh lebih sulit adalah tetap terdengar berbahaya setelah pendengar memahami cara kerja senjatanya.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine