Agony - Apocalyptic Dawning CD 1995

Agony - Apocalyptic Dawning
Independen ' Kaset 1995

01. Cyberpsychosis 04:08       
02. Post-Cataclysm... Suffering Days 03:45       
03. Apocalyptic Dawning 03:45       
04. An Instrumental Agony 02:45     
05. Orbital Hide-Out 04:56     
06. Outro 01:22       
07. Silence! 03:48       
08. Vociferation 02:17     
09. Homicide 04:45       
10. After Death / Evicerated Pig 01:04       
11. Visions cadavériques 02:18 
12. Death by Suffocation in a Vagina 02:59


Stéphane Gauvreau - Vocals, Guitars
Martin Héroux - Guitars
Gus Savard - Bass
Érick Beaudet - Drums 


Kanada melahirkan nama-nama seperti Cryptopsy, Martyr, dan Gorguts band-band yang membuktikan bahwa death metal tidak harus memilih antara kebrutalan dan kecerdasan. Agony ikut meramaikan lanskap tersebut melalui " Apocalyptic Dawning ", sebuah hantaman BDM yang lebih dekat dengan tradisi Suffocation dan New York death metal daripada karakter eksperimental sebagian rekan senegaranya. Album ini punya riff penghancur, solo gitar yang mencengangkan, dan kemampuan teknis yang tidak main-main. Sayangnya, ia juga menyimpan keputusan musikal yang begitu ganjil hingga batas antara keberanian dan kekonyolan beberapa kali lenyap ditelan distorsi. Pembuka " Cyberpsychosis " langsung memperlihatkan ambisi Agony. Di atas ritme ganjil 7/8, gitar utama melontarkan rentetan shredding yang cepat, presisi, dan tidak sekadar menjadi demonstrasi jari berkecepatan tinggi. Teknik tersebut berlanjut sepanjang album, terutama dalam " An Instrumental Agony " dan " Silence!”, yang menampilkan sweep-picking, frase melodis panjang, serta solo dengan pengaruh James Murphy yang cukup kentara. Di tengah bombardir riff chugging dan tremolo picking, permainan gitar utama menjadi daya tarik paling konsisten bukti bahwa brutalitas tidak harus berarti membuang seluruh gagasan musikal ke dalam mesin penghancur.

Namun, ada jurang antara kecanggihan solo dan kekuatan komposisi secara keseluruhan. Riff-riff ritmis Agony cenderung bergerak dalam wilayah brutal death metal yang familier: chugging lambat hingga menengah, tremolo picking, blast beat, dan double bass yang menghantam tanpa kompromi. Formula ini efektif, tetapi tidak selalu menghasilkan identitas yang kuat. " Homicide " menjadi pengecualian yang meyakinkan melalui groove pembuka yang besar dan mengancam bagian yang menunjukkan bahwa satu riff dengan karakter jelas terkadang lebih berharga daripada sepuluh menit pamer teknik. Produksi menjadi hambatan serius. Ironisnya, album ini ditangani J-F Dagenais, nama yang dikenal dalam lingkaran metal Kanada, tetapi hasil akhirnya terdengar kasar dengan definisi frekuensi rendah yang lemah dan bass yang terlalu tipis untuk menopang musik sebrutal ini. Snare sesekali terlalu dominan, sementara keseluruhan sound terasa kurang berbobot. Laporan bahwa album ini direkam dalam waktu sekitar 27 jam mungkin membantu menjelaskan kesan terburu-buru tersebut, tetapi bukan alasan untuk menganggap setiap kekurangan sebagai bagian dari pesona underground. Produksi kasar bisa memberi karakter; di sini, beberapa kali ia justru mengurangi daya pukul materi.

Vokal menjadi pedang bermata dua. Geraman guttural dan growl rendahnya terdengar mengancam, sementara jeritan bernada tinggi mampu menambah intensitas. Namun, pada lagu utama, tiruan gaya John Tardy terasa canggung dan mengganggu alih-alih memperkuat atmosfer. " After Death / Evicerated Pig " bahkan memperparah keadaan melalui pig squeal berlebihan yang terasa seperti lelucon internal yang lupa diberi tahu kepada pendengarnya. Lagu tersebut tidak memperluas karakter album; ia hanya menguji kesabaran. Dalam genre yang kerap berlomba mencapai tingkat ekstrem berikutnya, Agony sesekali tampak lupa bahwa ekstremitas tanpa kendali artistik hanyalah kebisingan dengan ambisi besar. Anehnya, justru keputusan-keputusan ganjil inilah yang membuat " Apocalyptic Dawning " sulit dilupakan. Ada momen ketika permainan teknisnya benar-benar mengesankan, lalu disusul bagian vokal yang membuat pendengar bertanya apakah band ini serius atau sedang mengerjai siapa pun yang menekan tombol putar. Ketidakseimbangan itu memang memberi album ini pesona yang tidak lazim, tetapi jangan keliru: keanehan tidak otomatis berarti inovasi, sebagaimana kesalahan tidak serta-merta berubah menjadi kejeniusan hanya karena usianya sudah puluhan tahun.

Sebagai salah satu rilisan awal brutal death metal dari Quebec, album ini tetap menarik dalam konteks perkembangan Scene yang kala itu sedang mencari bentuk. Agony belum menawarkan orisinalitas setingkat Gorguts atau daya hantam seefektif " Pierced from Within " milik Suffocation. Dibandingkan sejumlah rilisan death metal sezamannya, " Apocalyptic Dawning " juga belum menua dengan anggun. Namun, riff-riff kuat, groove yang efektif, dan solo gitar yang penuh karakter membuatnya lebih dari sekadar artefak yang hanya pantas dikenang oleh kolektor. " Apocalyptic Dawning " adalah album brutal death metal yang memiliki kemampuan teknis tinggi, tetapi belum sepenuhnya menguasai cara menggunakan kemampuan tersebut secara konsisten. Produksi yang kurus, riff yang relatif konvensional, serta beberapa eksperimen vokal yang memalukan menghalangi potensinya. Meski demikian, " Cyberpsychosis ", " Homicide ", dan solo-solo gitar terbaiknya cukup menjadi alasan untuk menyelidiki rilisan ini lebih jauh. Agony tidak sedang merevolusi death metal, dan album ini tidak perlu dipoles menjadi mahakarya hanya karena berasal dari masa ketika skena underground terasa lebih misterius. Nilainya justru terletak pada kontradiksi: teknis tetapi belum matang, brutal tetapi sesekali konyol, menjanjikan sekaligus frustratif. " Apocalyptic Dawning " bukan monumen kesempurnaan melainkan potret band yang memiliki senjata mematikan, tetapi belum selalu tahu kapan harus menarik pelatuknya.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine