Gorefest - The Eindhoven Insanity CD 1993

Gorefest - The Eindhoven Insanity
Nuclear Blast Records CD 1993

01. The Glorious Dead 04:50     
02. State of Mind 05:30 
03. Get-A-Life 04:18       
04. Mental Misery 04:50       
05. From Ignorance to Oblivion 04:55      
06. Reality - When You Die 06:49       
07. The Mass Insanity 03:51       
08. Confessions of a Serial Killer 06:21     
09. Eindhoven Roar 01:04


Jan-Chris de Koeijer - Bass, Vocals
Frank Harthoorn - Guitars
Boudewijn Bonebakker - Guitars
Ed Warby - Drums 


Sejauh ini w jujur bilang kalo Album live " The Eindhoven Insanity " adalah album terbaik death metal Belanda asal belanda, Gorefest ! Kalau bicara tentang album live death metal yang benar-benar punya nyali, punya atmosfer busuk yang hidup, dan tidak terdengar seperti rekaman gladi resik band kampung yang dipaksa masuk studio, maka w akan tetap keras kepala menaruh " The Eindhoven Insanity " tetap di posisi paling atas. Sampai hari ini, w masih menganggap rilisan live ini sebagai salah satu representasi paling brutal, paling jujur, dan paling penting dari scene death metal Belanda awal 90-an. Dan w tahu pernyataan itu akan mengundang muka sinis dari para pemuja album studio murni yang menganggap semua album live hanyalah produk tempelan label untuk memeras nama besar band. Tapi justru disitulah letak masalahnya: sebagian besar album live death metal memang sampah setengah matang. " The Eindhoven Insanity " bukan salah satunya. Sebelum semuanya runtuh, sebelum identitas musikal mereka berubah arah seperti truk rem blong di jalan pegunungan, Gorefest sebenarnya sudah memiliki fondasi karir yang nyaris sempurna melalui " Mindloss " (1991) dan " False " (1992). Dua album itu bukan sekadar koleksi riff berat dengan growl kuburan biasa. Itu adalah masa ketika Gorefest terdengar lapar, sadis, dan punya aura yang benar-benar mengancam. " Mindloss " adalah monster OSDM yang kotor, raw, dan tanpa kompromi, sementara " False " mulai memperlihatkan evolusi yang lebih teknis, lebih rapi, namun masih memiliki aroma mayat busuk yang pekat.

Ironisnya, justru " False " pula yang diam-diam menjadi awal keretakan identitas mereka. Album itu memang sukses memperluas audiens, dipuja banyak orang, dan dianggap tonggak penting death metal Eropa, tetapi perlahan Gorefest mulai kehilangan sisi primitifnya. Ketika " Erase " dirilis, perpecahan pendapat langsung meledak. Ada yang menyebutnya karya paling berani dalam karir mereka, ada juga yang menganggap itu awal pengkhianatan terhadap akar death metal mereka sendiri. Dan seperti biasa, skena metal selalu punya kemampuan luar biasa untuk berubah menjadi pengadilan massal penuh manusia sok puritan. Lalu datanglah " Soul Survivor ", album yang bagi banyak orang terdengar seperti pengumuman resmi bahwa Gorefest sudah selesai sebagai band death metal. Atmosfer muram dan groove rock yang lebih dominan membuat banyak fans lama merasa ditinggalkan. Band yang dulu terdengar seperti bulldozer kuburan berubah menjadi kelompok musisi yang tampak lebih nyaman memainkan hard rock suram ketimbang death metal penghancur tengkorak. Tidak heran jika akhirnya karir mereka seperti berjalan menuju jurang secara perlahan sebelum resmi bubar pada Desember 1998. Namun sebelum semua kekacauan identitas itu terjadi, Gorefest sempat mengabadikan satu dokumen hidup yang sampai sekarang masih terdengar ganas: " The Eindhoven Insanity ", dirilis melalui Nuclear Blast pada Agustus 1993. Album ini merekam penampilan mereka di festival Dynamo Open Air tanggal 30 Mei 1993, sebuah era ketika death metal sedang berada di titik paling liar, paling lapar, dan paling jujur sebelum industri mulai sibuk menjual citra ekstrem dalam kemasan aman.

Materinya sederhana: 9 track yang sebagian besar diambil dari Album " Mindloss " dan " False ". 6 lagu berasal dari " False ", dua dari " Mindloss ", dan penutup " Eindhoven Roar " hanyalah dokumentasi apresiasi penonton tanpa musik. Tidak ada basa-basi. Tidak ada interlude sok artistik. Tidak ada eksperimen progresif yang memancing tepuk tangan kritikus indie. Yang ada hanyalah death metal tua dengan riff gemuk, drum menghantam, dan atmosfer venue yang terasa pengap bahkan hanya lewat speaker rumah. Dan inilah yang membuat album ini begitu penting: sound produksinya benar-benar hidup. Untuk ukuran rekaman live death metal tahun 1993, kualitas audio " The Eindhoven Insanity " terdengar sangat kuat. Tebal, kasar, tapi tetap jelas. Bahkan sampai sekarang banyak album live death metal modern justru terdengar lebih steril dan kehilangan energi mentah seperti ini. Rekamannya mengingatkan pada dokumentasi live band-band death metal awal 90-an yang belum terobsesi memperbaiki semuanya lewat komputer. Masih ada napas manusia di sana. Masih ada kesalahan kecil. Masih ada kekacauan alami yang justru membuatnya terasa nyata. Karena mari jujur saja, sebagian besar album live death metal biasanya gagal total. Lagu-lagu yang di studio terdengar menghancurkan berubah menjadi versi pincang dengan sound tipis, permainan berantakan, dan vokal ngos-ngosan. Death metal memang genre yang lebih cocok dinikmati langsung di venue sempit penuh bau alkohol, keringat, rokok, dan manusia mabuk yang saling menghantam di circle pit. Energinya sulit dipindahkan ke format audio biasa. Banyak band gagal menangkap atmosfer itu di-era 90'an, akan sangat sulit jika Live album band saat ini sudah terlalu tidak jujur !. Gorefest justru berhasil.

Salah satu alasan terbesar mengapa album ini masih sulit w lepaskan adalah penampilan vokalis sekaligus bassist mereka, Jan-Chris de Koeijer. Growl rendah miliknya benar-benar terdengar seperti mesin penghancur beton. Agresif, berat, dan punya tenaga yang tidak dibuat-buat. Yang menarik, secara fisik dia bahkan tidak terlihat seperti monster binaragawan death metal stereotip, tetapi ketika mulutnya terbuka, seluruh venue seperti berubah menjadi ruang penyiksaan bawah tanah. Ada karakter yang sangat khas pada vokalnya, sesuatu yang sekarang mulai langka di era modern ketika terlalu banyak vokalis death metal terdengar seperti salinan digital satu sama lain. Track seperti " Confessions of a Serial Killer ", " Reality When You Die ", dan terutama " The Glorious Dead " terdengar monumental di sini. Riff-riffnya menggiling tanpa ampun dan crowd jelas tenggelam dalam kekacauan massal yang indah. Ironisnya, beberapa lagu terbaik justru ditempatkan di awal setlist, membuat energi pertunjukan langsung meledak sejak menit pertama. Dari dokumentasi video amatir yang masih beredar, suasananya benar-benar brutal: moshpit besar, headbanging tanpa henti, dan tubuh manusia beterbangan melewati pagar pembatas seperti ritual wajib festival death metal era itu.

Dan itu yang tidak bisa dipalsukan oleh teknologi modern: atmosfer. Keringat. Kekacauan. Bahaya kecil yang terasa nyata. Bukan konser steril penuh layar LED dan backing track seperti sekarang, dimana beberapa band extreme metal terdengar lebih cocok jadi soundtrack iklan minuman energi daripada ancaman bagi peradaban. Kalau dinilai murni dari sisi audio, mungkin album ini memang layak berada di kisaran 60% atau tiga bintang. Ada beberapa bagian yang tidak sempurna, beberapa detail yang terasa kurang menggigit dibanding versi studio. Tapi ketika digabungkan dengan konteks sejarah, energi panggung, dan dokumentasi visualnya, " The Eindhoven Insanity " berubah menjadi kapsul waktu yang sangat penting untuk memahami bagaimana death metal dulu benar-benar hidup di atas panggung. Setelah bubar tahun 1998 dan masing-masing personel sibuk mengejar proyek musik lain, yang ironisnya banyak justru menjauh dari death metal, Gorefest sempat bangkit kembali pada 2004. Mereka merilis " La Muerte " (2006) dan " Rise to Ruin " (2007), dua album comeback yang sebenarnya cukup solid meski tidak pernah benar-benar mampu menghidupkan kembali sihir era awal mereka. Akhirnya pada 15 Juni 2009, Gorefest kembali membubarkan diri. Dan mungkin memang begitu takdir banyak band death metal besar: lahir dengan kemarahan, tumbuh dengan ambisi, lalu perlahan hancur oleh eksperimen, usia, industri, dan perubahan selera. Tapi setidaknya, sebelum semuanya selesai, Gorefest sempat meninggalkan " The Eindhoven Insanity ", sebuah rekaman live yang sampai hari ini masih terdengar seperti suara kuburan yang dibuka paksa di tengah festival musim panas Belanda.


0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine