Insatanity - Divine Decomposition
Unisound Records CD 1996
01. Begotten, Not Made 05:14
02. Shemhamforash 05:55
03. Diabolical Indignation 05:00
04. Transfiguration 05:03
05. Divine Decomposition 06:31
06. Under the Baphomet 05:33
07. Rex Judaeorum 05:13
08. Angels of the Apocalypse 05:27
09. The Blood Is the Life 04:41
Mark Rhochar - Vocals
Dan Roberts - Guitars
Jay Lipitz - Guitars, Vocals
Christopher Lytle - Bass
Matt Mazzenga - Drums
Tidak semua album death metal perlu menjadi mahakarya untuk membuktikan bahwa kebrutalan masih punya harga diri. " Divine Decomposition ", debut Insatanity, adalah produk death metal pertengahan 1990-an yang mengandalkan riff berat, vokal seolah keluar dari tenggorokan makhluk nonmanusia, serta permainan drum yang menghajar tanpa kehilangan kendali. Hasilnya cukup solid: kasar tanpa terdengar seperti demo yang belum selesai, agresif tanpa terjebak dalam perlombaan kecepatan, dan punya beberapa komposisi yang langsung mencengkeram sejak awal. Sayangnya, di tengah fondasi yang meyakinkan itu, ada keputusan musikal yang terasa seperti seseorang sengaja melempar pasir ke mesin yang sedang bekerja sempurna. Kekuatan utama Insatanity terletak pada gitar Dan Roberts dan Jay Lipitz. Keduanya membangun dinding riff dengan tuning rendah, tekanan ritmis yang tebal, dan aksen harmonik yang ditempatkan secara efektif. Tiga lagu pembuka menjadi bukti paling kuat: gitar bergerak cepat, tetapi tidak membabi buta; setiap hentakan masih punya bentuk, setiap perubahan ritme tetap terasa sebagai bagian dari komposisi. Teknik pinch harmonic digunakan secukupnya untuk menambah rasa sakit, bukan sebagai demonstrasi ego gitaris yang kehabisan ide. Tidak adanya solo gitar juga bukan masalah. Materi ini tidak membutuhkan parade nada tinggi untuk membuktikan keganasannya. Riff yang tepat jauh lebih berguna daripada solo panjang yang sekadar meminta tepuk tangan. Pada departemen vokal, Mark Rhochar tampil sebagai pusat gravitasi album. Growl rendahnya memiliki karakter mengerikan, terutama pada lagu utama " Divine Decomposition ". Dalam sekitar 40 detik pertama saja, suaranya sudah membangun kesan seperti sesuatu yang seharusnya tetap dikurung di ruang bawah tanah. Ada jejak tradisi death metal ekstrem yang mengingatkan pada Deicide, tetapi kekuatan Rhochar bukan semata-mata kemiripan gaya: ia menghadirkan tekstur vokal yang terasa kasar, pekat, dan nyaris tidak manusiawi. Artikulasi lirik memang sulit ditangkap, tetapi dalam musik seperti ini, vokal berfungsi sebagai bagian dari instrumen penghancur, bukan pembawa pidato yang harus dipahami setiap katanya.
Masalah muncul ketika Lipitz mengambil alih vokal latar dengan register lebih tinggi. Pendekatan tersebut kadang memberi kontras, tetapi pada beberapa bagian justru terasa mengganggu dan tidak diperlukan. Karakter suaranya lebih dekat pada teriakan black metal daripada meniru lengkingan Glen Benton, tetapi perbedaan warna saja tidak otomatis membuatnya efektif. Alih-alih memperluas dimensi vokal, lapisan tambahan ini kadang mengacaukan kekompakan yang sudah dibangun oleh growl utama. Lipitz tetap kompeten sebagai gitaris; sebagai vokalis pendamping, kontribusinya tidak selalu memberi nilai tambah. Ada saatnya sebuah lagu membutuhkan lapisan suara baru, dan ada saatnya band cukup percaya diri untuk membiarkan riff berbicara sendiri. Untungnya, Matt Mazzenga di balik drum kit nyaris tidak memberi alasan untuk mengeluh. Permainannya menjadi salah satu aset terbesar " Divine Decomposition ". Blast beat pada " Diabolic Indignation " dan " Rex Judaeorum " terdengar ganas, sementara drum roll cepat dan pukulan simbal yang tajam menambah daya rusak tanpa membuat keseluruhan musik kehilangan bentuk. Mazzenga tidak sekadar mengejar kecepatan; ia mengendalikan tekanan dan intensitas dengan ketepatan yang membuat gitar terdengar semakin berat. Christopher Lytle, di sisi bass, menjalankan tugasnya dengan baik, menjaga fondasi ritmis tetap utuh meski tidak banyak mendapatkan ruang untuk menonjol. Tidak setiap pemain harus mencuri perhatian. Kadang, menjaga mesin tetap bergerak adalah kontribusi yang paling masuk akal.
Pada " Shemhamforash ", bunyi lonceng sintetis terasa janggal dan merusak atmosfer yang semestinya dibangun melalui gitar, vokal, dan drum. Efek organ yang muncul menjelang akhir " Transfiguration " serta di bagian tengah " Angels of the Apocalypse " juga tidak memperkaya komposisi. Sebaliknya, bunyi tersebut terasa seperti ornamen yang salah alamat seolah seseorang mengira setiap lagu ekstrem membutuhkan efek tambahan agar terdengar lebih megah. Tidak semua ruang kosong harus diisi, dan tidak semua instrumen yang tersedia wajib digunakan. Keyboard tentu bukan musuh death metal. Nocturnus membuktikan bahwa elemen tersebut dapat menjadi bagian integral dari identitas musik ketika komposisi memang dirancang untuk mengakomodasinya. Namun, pada " Divine Decomposition ", keyboard Berends lebih sering terdengar sebagai gangguan daripada kebutuhan. Ironisnya, Berends juga tercatat menangani mixing, recording, dan produksi album. Pekerjaan di balik konsolnya menghasilkan rekaman yang cukup kuat, tebal, dan kasar dengan kadar yang tepat; justru intervensi keyboard-nya menjadi keputusan yang paling sulit dipahami. Barangkali gitar tambahan atau ruang kosong yang dibiarkan bernapas akan jauh lebih efektif daripada bunyi sintetis yang terasa ditempelkan belakangan. Di luar dua ganjalan tersebut vokal latar yang kadang berlebihan dan keyboard yang salah tempat debut ini tetap memiliki daya tarik nyata. Insatanity memahami dasar death metal yang efektif: riff harus memiliki bobot, drum harus menggerakkan lagu, dan vokal harus menyatu dengan atmosfer, bukan sekadar menjadi aksesori kebrutalan. Album ini memang tidak menawarkan terobosan besar, tetapi juga tidak membutuhkan klaim revolusioner untuk menjalankan tugasnya. Ia bermain dalam bahasa death metal era 1990-an yang lugas, berat, dan tidak terlalu sibuk memoles setiap sudut hingga kehilangan karakter.
" Divine Decomposition " adalah debut yang meyakinkan, bukan mahakarya yang hilang ditelan sejarah. Gitar yang solid, vokal utama yang buas, dan permainan drum yang mengesankan membuatnya layak disimak oleh penggemar death metal pertengahan 1990-an. Namun, vokal latar yang kurang terkontrol dan keyboard yang terasa dipaksakan mengurangi daya pukul beberapa bagian. Kekurangannya sebenarnya sederhana: terlalu banyak tambahan yang tidak dibutuhkan oleh musik yang sudah cukup kuat berdiri sendiri. Insatanity tidak kekurangan kebrutalan. Mereka hanya sesekali lupa bahwa dalam death metal, sebagaimana dalam kehidupan, sesuatu yang sudah mengerikan tidak selalu menjadi lebih baik ketika diberi hiasan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !