Motordeath - Despair
Extreme Souls Production EP ' Kaset 1998
01. Demonstration 02:27
02. Born from Hate 03:44
03. Despair 00:47
04. Screaming of the Grave 03:19
05. Breath in the Suffering 03:33
06. Diktator 03:17
07. Under Suppression 02:30
08. Despair (Live) 00:57
Yadi - Vocals
Ratno - Bass
Yana - Guitars
Hendra - Drums
Sejarah musik ekstrem ditanah air sering kali ditulis oleh nama-nama yang berhasil bertahan paling lama. Padahal, sejarah yang sesungguhnya justru dibangun oleh mereka yang datang lebih dulu membawa luka, keberanian, dan suara yang belum tentu sempurna. Di pertengahan 1990-an, ketika Ujungberung mulai memantapkan reputasinya sebagai episentrum Death Metal Indonesia, sorotan publik perlahan mengarah kepada nama-nama yang kini dianggap fondasi. Di balik bayang-bayang itu, berdiri satu monster lain yang sama lapar dan sama berbahayanya: MOTORDEATH ! Jika Jasad menjadi salah satu wajah paling dikenal dari Bandung, maka Motordeath adalah sisi lain yang lebih gelap, lebih liar, lebih teknikal, dan sama sekali tidak tertarik mencari kompromi. Mereka bukan band yang mengejar perhatian. Mereka lebih memilih membiarkan musiknya menghajar pendengar hingga perhatian itu datang sendiri dan demo " Born From Hate " adalah bukti pertama bahwa ancaman tersebut bukan sekadar omong kosong.
Dibangun dari Persaudaraan, Ditempa oleh Kebrutalan, Motordeath lahir pada 1993, digerakkan oleh dua bersaudara, Ratno dan Yana, ketika gelombang Death Metal dunia sedang mencapai salah satu fase paling agresif. Pengaruh dari Cannibal Corpse dan Suffocation memang terdengar jelas dalam fondasi musikal mereka. Namun pengaruh bukan berarti kehilangan jati diri. Yang dilakukan Motordeath adalah menyerap bahasa BDM Amerika, lalu menerjemahkannya ke dalam dialek Ujungberung yang jauh lebih kasar, lebih padat, dan memiliki naluri menyerang yang khas. Setelah melewati fase demo, latihan panjang, serta dinamika pergantian personel yang lazim dialami band bawah tanah era itu, mereka akhirnya melahirkan Debut rekaman serius pada 1996 lewat EP " Despair " ini bukan terdengar seperti langkah pertama sebuah band, Ia terdengar seperti vonis serta Masuknya Yadi Behom: Mesin Brutal Mendapat Predator Baru ! Salah satu perubahan paling menentukan dalam fase ini adalah bergabungnya Yadi "Behom", yang sebelumnya dikenal bersama Jasad. Kehadirannya bukan sekadar pergantian vokalis, Ia mengubah karakter band. Growl Behom membawa tekanan yang lebih pekat, lebih liar, dan lebih dominan. Ia tidak menutupi instrumen lain, tetapi menjadi pusat gravitasi yang mengikat seluruh ledakan musikal Motordeath. Setiap frase terdengar seperti perintah untuk menghancurkan, bukan sekadar bagian dari aransemen lagu.
Masuknya Behom membuat Motordeath terdengar lebih cepat, lebih ganas, dan lebih percaya diri dibanding fase awal mereka. Produksi yang Merekam Energi, Bukan Kesempurnaan. EP ini direkam di Lasut Studio, Bandung, bersama Iram, gitaris band rock U'Camp, kemudian melalui proses lanjutan di Reverse Studio dengan penanganan Yayat dari Jasad. Kolaborasi dua nama tersebut memberi fondasi produksi yang cukup solid untuk ukuran rilisan independen Indonesia pada pertengahan 1990-an. Apakah terdengar sebersih standar rekaman modern? Tentu tidak. Namun itulah konteks zamannya. Karakter sound " Despair " memang masih menyimpan tekstur analog yang kasar, dengan distorsi yang sesekali saling bertabrakan dan ruang frekuensi yang belum sepenuhnya rapi. Tetapi alih-alih menjadi kelemahan, karakter tersebut justru memperkuat identitas rekaman. Ia terdengar seperti ruang latihan yang dipaksa masuk ke dalam pita kaset dan justru karena itu ia terasa jujur. Salah satu keunggulan terbesar Motordeath adalah keseimbangan antara kemampuan teknis dan naluri menyerang.
Permainan gitar Yana menjadi poros utama EP ini. Riff-riff yang dibangun bergerak cepat, penuh perubahan ritme, namun tetap memiliki arah yang jelas. Tidak ada kesan bahwa kompleksitas dipakai hanya untuk memamerkan kemampuan. Setiap transisi memiliki fungsi, setiap jeda memberi ruang bagi ledakan berikutnya. Di belakangnya, Hendra menghadirkan permainan drum yang disiplin sekaligus eksplosif. Kecepatannya bukan sekadar soal stamina, melainkan kemampuan menjaga presisi di tengah komposisi yang padat. Hingga kini, tidak berlebihan jika banyak drummer generasi berikutnya menjadikan permainan seperti ini sebagai salah satu acuan bagaimana BDM dimainkan dengan efektif. Inilah salah satu alasan mengapa " Despair " masih menarik didengar ulang setiap saat tanpa lekang oleh waktu. Ia tidak hanya brutal, Ia memiliki struktur. 20 Menit Tanpa Kesempatan Bernapas, Selama 20 menit 34 detik, Motordeath tidak memberi ruang bagi pendengar untuk merasa aman. Tempo terus bergerak bahkan meledak ledak hebat. Riff datang bertubi-tubi. Drum menghantam tanpa kehilangan kendali. Vokal Behom berdiri di atas semuanya seperti algojo yang memastikan tidak ada korban yang lolos. Namun yang paling mengesankan bukan sekadar intensitasnya, Melainkan konsistensinya.
Tidak ada lagu yang terasa menjadi pengisi durasi. Setiap komposisi memiliki bobot yang sama, menjaga tekanan tetap tinggi dari awal hingga akhir. Ini adalah pendekatan yang jauh lebih sulit daripada sekadar memainkan musik secepat mungkin. BDM sejatinya bukan perlombaan siapa yang paling bising, Ia adalah seni menjaga ketegangan dan Motordeath memahami prinsip itu dengan sangat baik. kemudian cover EP " Despair " adalah pernyataan visual yang sama ekstremnya dengan musik di dalamnya. Pada era ketika akses terhadap ilustrasi ekstrem masih terbatas dan distribusi berlangsung melalui kaset, zine, dan pertukaran surat, artwork seperti ini jelas dirancang untuk memancing reaksi. Sebagian orang mungkin menganggapnya menjijikkan, sebagian lain melihatnya sebagai bagian dari estetika Death Metal yang memang gemar mengeksplorasi horor tubuh, kematian, dan dekadensi. Apa pun reaksinya, satu hal pasti: sampul ini tidak dibuat agar nyaman dipandang. Ia dibuat agar sulit dilupakan. Warisan dari Era Ketika Skill Masih Menjadi Mata Uang Utama. Mendengarkan " Despair " hari ini menghadirkan satu kesadaran sederhana. Musisi-musisi ekstrem Indonesia pada pertengahan 1990-an sesungguhnya telah memiliki kemampuan teknis yang tidak bisa diremehkan. Dengan fasilitas rekaman yang jauh lebih terbatas dibanding sekarang, mereka tetap mampu menghasilkan komposisi yang kompleks, dinamis, dan penuh karakter. Tidak ada bantuan perangkat lunak untuk merapikan tempo. Tidak ada proses penyuntingan digital yang berlebihan. Yang terdengar adalah kemampuan bermain yang benar-benar harus dibuktikan di ruang latihan dan di atas panggung. Itulah sebabnya EP ini tetap memiliki nilai historis. Bukan karena ia sempurna. Melainkan karena ia menangkap momen ketika BDM Indonesia mulai menunjukkan bahwa kualitas musikal tidak mengenal batas geografis maupun keterbatasan fasilitas.
EP " Despair " bukan hanya milik Motordeath. Ia juga merupakan bagian dari mosaik besar yang membentuk identitas Death Metal Indonesia. Bersama rilisan-rilisan penting lain dari Bandung dan berbagai kota, EP ini memperlihatkan bahwa skena lokal pada era 1990-an tidak sekadar mengikuti perkembangan dunia, tetapi mulai membangun karakter sendiri melalui kombinasi pengaruh global, disiplin bermusik, dan keberanian bereksperimen. 20 menit mungkin terdengar singkat. Namun bagi mereka yang pernah tumbuh bersama kaset-kaset bawah tanah, dua puluh menit itu cukup untuk memahami mengapa nama Motordeath tetap disebut ketika membahas fondasi BDM Indonesia. Karena sebelum algoritma menentukan apa yang layak didengar, sebelum media sosial mengukur popularitas dengan angka, dan sebelum produksi digital menghaluskan setiap ketidaksempurnaan, masih ada sekelompok musisi yang membuktikan satu hal sederhana: Kebrutalan sejati tidak pernah lahir dari teknologi. Ia lahir dari keyakinan, disiplin, dan keberanian memainkan musik sekeras mungkin tanpa kehilangan jiwanya.
Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !