Death Vomit - Eternally Deprecated
Demented Mind Records EP ' Kaset 1999
01. Mental Disorder Sufferer 00:34
02. Senseless Revenge 02:06
03. Atrocious Behaviour 01:09
04. G.B.M 00:28
05. Perpetual Punishment02:02
06. Into My Flesh 01:53
07. Victim of Your Lies 01:09
08. Spirit of Blasphemy 01:23
09. To Oppress the Weak 01:30
10. Disaster Encountered 02:47
Agung - Vocals
Sofyan - Guitars
Ary - Bass
Roy - Drums
Ada rekaman yang meminta pendengarnya bersabar, Ada pula rekaman yang langsung menghantam tengkorak tanpa memberi kesempatan menarik napas, " Eternally Deprecated " sepertinya termasuk kategori kedua. Satu kata pertama yang terlintas di kepala saya ketika EP ini mulai berputar adalah: akhirnya. Bukan karena Death Vomit baru belajar menjadi brutal, melainkan karena inilah momen ketika seluruh potensi yang selama bertahun-tahun hanya terdengar melalui demo-demo bawah tanah akhirnya menemukan bentuk yang benar-benar layak disebut sebagai identitas. Bagi para fans lama, EP ini bukan sekadar rilisan baru pada masanya, melainkan jawaban atas penantian panjang sejak band ini berdiri pada 1995. Sebelum " Eternally Deprecated " lahir, nama Death Vomit sudah lebih dulu beredar dari tangan ke tangan melalui kaset-kaset demo seperti " Promo Tape '96 ", " Promo Tape ", hingga " Spirit of Blasphemy ". Kualitas produksinya memang jauh dari kata ideal. Kasarnya suara, dengung pita, dan keterbatasan teknis adalah bagian dari realitas scene bawah tanah era itu. Namun bahkan di balik segala kekurangannya, satu hal sudah terdengar jelas: Death Vomit tidak sedang mengejar tren. Mereka sedang membangun mesin pembantai dan " Eternally Deprecated " adalah saat mesin itu benar-benar dinyalakan. Ketika Jogja Membalas Dominasi Kota Lain Lewat Kebrutalan, Pada akhir dekade 1990-an, percakapan mengenai Death Metal Indonesia sering berputar di kota-kota yang lebih dahulu dikenal sebagai pusat pergerakan musik ekstrem. Namun Yogyakarta memiliki cara sendiri untuk berbicara, Bukan melalui slogan bukan lewat sensasi, melainkan melalui musik yang terasa seperti eksekusi massal.
Direkam di Blass Studios dan diselesaikan proses akhirnya di IPC Bulaksumur, EP ini memang tidak menawarkan produksi yang steril. Bahkan menurut standar sekarang, karakternya cenderung raw, kasar, dan sesekali terasa liar di spektrum frekuensi. Namun justru di situlah kekuatannya. Rekaman ini tidak terdengar seperti hasil laboratorium digital, Ia terdengar seperti ruang latihan yang dindingnya dipenuhi keringat, distorsi, dan aroma besi berkarat. Kasar? Ya, Tetapi juga hidup dalam musik seekstrem ini, terkadang sedikit kekacauan justru menjadi bagian dari ekspresi : Brutal Death Metal Tanpa Basa-Basi ! 10 lagu, sekitar lima belas menit, Tidak ada intro sinematik yang berlarut-larut, Tidak ada interlude yang mencoba terlihat artistik hanya bagian outro yang mengundang senyum kecil, tidak ada ruang bagi pendengar untuk merasa nyaman. Begitu lagu pertama dimulai, Death Vomit langsung memperlakukan pendengarnya seperti tahanan yang baru memasuki ruang interogasi. Tempo tinggi, riff padat, perubahan ritme yang agresif, serta vokal yang nyaris tidak memberi ruang bernapas membentuk aliran kekerasan sonik yang nyaris konstan. Namun yang membuat EP ini tetap menarik bukan sekadar kecepatannya. Kecepatan bisa dipelajari, Kebrutalan bisa ditiru, Tetapi kemampuan menjaga intensitas selama lima belas menit tanpa kehilangan fokus adalah perkara lain, Di sinilah Death Vomit menunjukkan kedewasaan musikalnya. Ketika Pengaruh Tidak Berarti Kehilangan Identitas Jejak pengaruh para raksasa BDM jelas dapat dirasakan. Ada tekanan groove yang mengingatkan pada Suffocation, ada keganasan tanpa kompromi ala Cannibal Corpse, Sesekali muncul atmosfer yang mengingatkan pada nama-nama seperti Infernal Torment maupun Deprecated, terutama dalam cara lagu-lagu dibangun untuk terus menekan tanpa memberi ruang lega karena Death Vomit menggeber-nya 2 ketukan lebih cepat lagi, karena Death Vomit tidak berhenti sebagai kumpulan referensi. Mereka menyerap pengaruh tersebut, lalu memadatkannya menjadi karakter yang terasa lebih liar, lebih mentah, dan lebih dekat dengan denyut skena bawah tanah Indonesia. Tidak ada kesan sedang menjadi band tiruan. Yang terdengar justru sebuah kelompok musisi yang memahami akar BDM, lalu mengartikulasikannya lewat konteks lokal dengan keyakinan penuh. 15 Menit yang Tidak Mengenal Belas Kasihan !
Yang paling mengesankan dari EP ini bukan hanya kualitas riff atau permainan teknis setiap personel, Melainkan konsistensi, Tidak ada satu lagu pun yang terdengar seperti pengisi durasi. Setiap komposisi terasa dirancang sebagai bagian dari satu serangan besar yang tidak pernah benar-benar melambat. Tidak ada momen sentimental. Tidak ada bagian yang sengaja dibuat " Ramah " agar mudah diterima pendengar baru. Death Vomit memahami siapa audiens mereka dan mereka tidak merasa perlu meminta maaf karena memilih tetap ekstrem. Sikap seperti inilah yang membedakan BDM era 1990-an dengan banyak rilisan modern yang terkadang terlalu sibuk mengejar presisi teknis hingga lupa menghadirkan ancaman. Bukan Sekadar Brutal, Tetapi Terstruktur, Ada stereotip lama yang mengatakan bahwa Brutal Death Metal hanyalah kumpulan blast beat dan growl tanpa arah. " Eternally Deprecated " mematahkan anggapan itu. Di balik agresivitasnya, setiap perpindahan riff terasa memiliki tujuan. Pergantian tempo tidak hadir sekadar untuk memamerkan kemampuan teknis, melainkan membangun tekanan yang terus meningkat. Permainan gitar dan ritme saling mengunci dengan disiplin, sementara fondasi bass dan drum menjaga setiap ledakan tetap berada dalam koridor komposisi. Inilah alasan mengapa EP ini masih terasa relevan ketika didengar ulang. Ia tidak hanya keras, Ia tersusun, Sertifikat Kelayakan Brutal !
Jika harus menggunakan analogi yang sedikit satir, maka " Eternally Deprecated " adalah semacam sertifikat kelayakan bagi Death Vomit. Seluruh eksperimen yang mereka bangun sejak era demo akhirnya memperoleh legitimasi melalui rilisan ini. Bukan karena tiba-tiba terdengar bersih atau lebih komersial, melainkan karena visi musikal mereka kini tampil utuh. Band ini tidak berubah menjadi lebih jinak. Mereka justru menjadi lebih percaya diri untuk terdengar buas dan terkadang, itulah evolusi terbaik yang bisa dimiliki sebuah band ekstrem. Seiring waktu, banyak EP datang dan pergi. Sebagian hanya dikenang oleh lingkaran kecil kolektor kaset, sebagian lain tenggelam bersama pita yang mulai rapuh dimakan usia. Namun " Eternally Deprecated " tetap berdiri sebagai salah satu artefak penting dalam sejarah BDM Indonesia. Bukan karena ia sempurna, Bukan pula karena produksinya melampaui zamannya. Melainkan karena ia menangkap satu fase penting ketika Death Vomit berhasil mengubah reputasi bawah tanah menjadi pernyataan artistik yang utuh. Rekaman ini memperlihatkan bagaimana sebuah band dari Yogyakarta mampu menyusun kebrutalan dengan disiplin, memadukan pengaruh global tanpa kehilangan aksen lokal, dan membuktikan bahwa ekstremitas bukan sekadar soal volume atau kecepatan, melainkan soal keyakinan terhadap identitas. Di era ketika banyak musik berat dipoles hingga steril dan kehilangan bau ruang latihan, " Eternally Deprecated " tetap terdengar seperti besi yang baru ditempa: kasar, panas, tidak nyaman disentuh, tetapi justru karena itulah ia memiliki karakter yang sulit dipalsukan. 15 menit mungkin terdengar singkat, Namun bagi Death Vomit, lima belas menit itu cukup untuk mengukir salah satu prasasti paling penting dalam perjalanan BDM Indonesia sebuah pengingat bahwa terkadang sejarah tidak ditulis oleh rekaman yang paling bersih, melainkan oleh rekaman yang paling berani meninggalkan luka di telinga pendengarnya.
Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !