Morbid Angel - Abominations of Desolation
Earache Records CD 1991
01. The Invocation / Chapel of Ghouls 07:11
02. Unholy Blasphemies 04:00
03. Angel of Disease 05:36
04. Azagthoth 05:49
05. The Gate / Lord of All Fevers 05:55
06. Hell Spawn 02:32
07. Abominations 04:19
08. Demon Seed 02:12
09. Welcome to Hell 04:57
Mike Browning - Drums, Vocals
Trey Azagthoth - Guitars, Keyboards
Richard Brunelle - Guitars
John Ortega - Bass
Catatan ini mungkin bisa menjadi Informasi Penting meski telat ditambahkan karena informasi yang beredar : Album " Abominations of Desolation " ini sebenarnya sudah direkam pada tahun 1986 sebagai album pertama mereka, dengan David Vincent sebagai produser jauh sebelum dirinya menjadi bagian utama di Morbid Angel, tetapi sayangnya tidak pernah dirilis. Mereka akhirnya merilisnya melalui Earache sebagai respons terhadap maraknya bootleg. Salah satunya adalah rilis di label Jepang (sebenarnya jelas palsu, sebenarnya Italia) Satanic Records yang merilis format vinyl dengan sajian luxury dan berkilau dalam gelap, vinyl merah, vinyl splatter, dan vinyl hitam yang terbatas hingga 1000 Kopi Justru Bootleg. Telah dijelaskan di cover album ini bahwa dimaksudkan sebagai album penuh pertama mereka, namun belum dirilis, yang akan menjadikan " Altars of Madness " sebagai debut resmi mereka. Band ini merekam dan awalnya mempromosikan album tersebut dengan premis ini, tetapi rencana tersebut dibatalkan setelah Mike Browning meninggalkan band pada tahun 1986 karena perselisihan dengan Trey Azagthoth. Trey telah mengatakan dalam wawancara bahwa " Abominations of Desolation " sebenarnya bukanlah sebuah album dan seharusnya dianggap sebagai demo, tetapi itu memang merupakan album penuh pertama band tersebut. Sebagian besar lagu-lagu tersebut telah di garap ulang muncul di album Morbid Angel berikutnya. " Chapel of Ghouls ", " Lord of All Fevers " (diganti nama menjadi " Lord of All Fevers & Plague "), dan " Welcome to Hell " (diganti nama menjadi " Evil Spells ") dapat didengar di " Altars of Madness " (meskipun yang kedua hanya ada di versi CD, dan hanya beberapa versi vinyl dan kaset sepanjang tahun). " Unholy Blasphemies ", " Abominations ", dan " Azagthoth " (diberi nama baru " The Ancient Ones ") ada di " Blessed Are the Sick ". " Angel of Disease " direkam untuk " Covenant ", dan akhirnya, " Hell Spawn" muncul di " Formulas Fatal to the Flesh " sebagai " Hellspawn: The Rebirth ". Hingga saat ini " Demon Seed " adalah satu-satunya lagu dari sesi-sesi ini yang belum direkam ulang untuk album penuh. " The Abomination of Desolation " adalah sebuah puisi-prosa yang ditulis pada tahun 1929 oleh penulis horor/sci-fi/fantasi Clark Ashton Smith dan kemungkinan besar menjadi sumber inspirasi untuk judul rilis tersebut.
" Abominations of Desolation " adalah rekaman yang bahkan nyaris tidak sempat berbicara sebelum dikubur hidup-hidup oleh penciptanya sendiri. Ironisnya, justru dari " kegagalan " itulah salah satu fondasi death metal modern mulai dibangun. Di dunia yang gemar mengultuskan hasil akhir, " Abominations of Desolation " adalah pengingat pahit bahwa terkadang versi yang paling liar, paling belum selesai, justru menyimpan DNA paling murni dari sebuah revolusi. Ini bukan album yang sempurna. Bahkan Morbid Angel sendiri menganggapnya belum layak dirilis pada masanya. Namun justru di situlah letak nilai sejarahnya: ia menangkap seekor monster ketika masih belajar menggeram sebelum akhirnya menjadi dewa. Pertengahan dekade 80-an adalah masa ketika batas ekstrem masih terus didorong. Thrash metal sedang mencapai puncaknya, Bathory sedang menghitamkan langit Skandinavia, Possessed baru membuka gerbang neraka, sementara Death sedang membentuk anatomi genre baru. Di Florida, Morbid Angel datang bukan sekadar untuk ikut lomba menjadi lebih cepat atau lebih brutal. Mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya: visi ! Gitaris Trey Azagthoth tidak sekadar menulis riff. Ia membangun labirin disonansi yang terdengar seperti ritual kuno diterjemahkan ke dalam bahasa gitar listrik. Inspirasi H.P. Lovecraft, mitologi Sumeria, Necronomicon versi Simon, hingga obsesi terhadap kosmologi gelap bukan dipakai sebagai aksesori lirik, melainkan menjadi fondasi estetika keseluruhan musik, sehingga Death metal di tangan Morbid Angel tidak lagi terdengar seperti sekadar kemarahan manusia, lebih terdengar seperti sesuatu yang bukan manusia.
Produksi " Abominations of Desolation " jelas jauh dari standar yang kemudian dicapai " Altars of Madness ". Rekamannya kasar, tipis, penuh gesekan analog, dan hampir tanpa polesan overdub. Namun justru karena itu album ini memiliki karakter yang tidak bisa direplikasi. Segala sesuatu terdengar hidup. Kesalahan kecil masih dibiarkan bernapas, Tempo kadang goyah dan Permainan terasa spontan. Seluruh band terdengar seperti lima orang yang sedang berusaha membuka portal dimensi lain tanpa benar-benar tahu apakah mereka mampu menutupnya kembali. Di sinilah paradoks mulai bekerja. Semakin kasar produksinya, semakin nyata atmosfernya. Banyak album death metal modern terdengar sempurna secara teknis tetapi steril secara spiritual. " Abominations of Desolation " justru kebalikannya. Ia penuh cacat, tetapi setiap cacat memancarkan aura yang nyaris mistis. Perdebatan terbesar tentu selalu mengarah kepada Mike Browning. Drumming-nya jauh dari standar Pete Sandoval yang kelak mengubah definisi permainan death metal. Blast beat belum berkembang, double bass masih sederhana, fill drum cenderung repetitif dan groove kadang kehilangan presisi. Secara teknis?Jelas Browning kalah. Namun berbicara hanya soal teknik sama dangkalnya dengan menilai lukisan hanya dari kualitas kuas. Browning membawa sesuatu yang tidak pernah bisa digantikan setelah ia keluar: insting primitif. Vokalnya terdengar seperti seseorang yang benar-benar percaya kepada setiap kata yang diteriakkannya. Tidak teatrikal. Tidak dibuat-buat. Tidak terdengar seperti aktor yang sedang memainkan tokoh iblis, Ia terdengar seperti seseorang yang sudah dirasuki. Perbedaan itulah yang membuat versi awal " Chapel of Ghouls ", " Angel of Disease ", " Azagthoth ", atau " Hellspawn" memiliki nuansa yang jauh lebih liar dibanding versi-versi berikutnya.
David Vincent memang kemudian menghadirkan karisma, otoritas, dan artikulasi yang lebih kuat, Pete Sandoval membawa presisi yang belum pernah ada, Tetapi Mike Browning membawa kekacauan yang masih murni dan kekacauan itu tidak pernah benar-benar kembali. Trey Azagthoth adalah pusat gravitasi album ini. Banyak riff terdengar belum sepenuhnya matang, tetapi benih kejeniusannya sudah terlihat jelas. Perubahan tempo yang aneh. Perpindahan riff yang tidak lazim. Frase gitar yang terdengar seperti melawan logika harmoni. Solo yang lebih menyerupai ledakan psikosis daripada demonstrasi teknik. Ia tidak bermain untuk menunjukkan kemampuan, Ia bermain untuk mengganggu persepsi. Beberapa riff yang nantinya disempurnakan dalam " Altars of Madness ", " Blessed Are the Sick ", " Covenant ", hingga " Formulas Fatal to the Flesh " sebenarnya sudah hadir di sini dalam bentuk embrio. Justru menarik melihat bagaimana lagu-lagu tersebut berkembang. Versi awal terdengar seperti makhluk liar yang baru keluar dari rawa. Versi berikutnya menjadi predator sempurna. Namun bagi sebagian pendengar, justru bentuk liarnya menyimpan daya tarik yang lebih besar. Album yang Ditolak... Karena Terlalu Belum Selesai
Keputusan Earache dan Morbid Angel untuk menyimpan album ini selama bertahun-tahun sering dianggap sebagai kesalahan sejarah. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Masalah utama bukan kualitas penulisan lagu. Komposisinya bahkan sudah sangat matang. Yang dianggap belum siap adalah eksekusinya. Band sadar mereka mampu melakukan lebih baik dan benar saja. Ketika " Altars of Madness " akhirnya muncul pada 1989, hampir seluruh kelemahan teknis " Abominations of Desolation " telah diperbaiki. Drum menjadi lebih ganas. Produksi jauh lebih padat. Permainan gitar lebih presisi. Seluruh lagu berkembang menjadi mesin pembantai yang hampir sempurna. Dalam konteks itu, keputusan mengarsipkan album ini sebenarnya masuk akal. Namun ketika akhirnya dirilis bertahun-tahun kemudian, " Abominations of Desolation " berubah fungsi. Bukan lagi album baru. Melainkan fosil hidup. Yang membuat album ini bertahan bukan sekadar sejarahnya. Bukan pula daftar lagu yang kemudian menjadi klasik. Melainkan pengalaman psikologis yang ditawarkan. Musik ini tidak mengajak pendengar melarikan diri dari kenyataan, Sebaliknya Ia memaksa dunia nyata bertabrakan dengan dunia imajinasi kosmik.
Secara musikal, fondasi death metal modern sudah berdiri tegak di sini. Riff Trey Azagthoth sudah memamerkan disonansi aneh, harmoni yang seolah berasal dari kitab Lovecraft, dipadukan dengan serangan speed metal, proto-black metal, dan atmosfer horor kosmis yang jauh melampaui zamannya. Memang, ritme Browning terasa repetitif dan eksekusinya belum setajam era Sandoval. Tetapi menyalahkan album ini karena belum menjadi " Altars of Madness " sama bodohnya dengan mencibir cetak biru karena belum berubah menjadi katedral. " Abominations of Desolation " adalah potret ketika death metal belum menjadi industri, belum menjadi formula, dan belum dipenuhi kompetisi teknik tanpa jiwa. Album ini terdengar seperti sekelompok pemuda yang benar-benar percaya pada mitologi gelap yang mereka nyanyikan. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kosmetik modern, hanya keyakinan liar yang dituangkan melalui riff, geraman, dan kekacauan yang hampir runtuh oleh beratnya sendiri. Apakah ini album terbaik Morbid Angel? Tidak. Apakah layak disebut rilisan paling penting untuk memahami DNA band tersebut? Tanpa ragu, ya. " Abominations of Desolation " bukan monumen kesempurnaan, melainkan dokumen arkeologi yang memperlihatkan bagaimana seekor iblis belajar berjalan sebelum akhirnya berlari dan menginjak seluruh dunia death metal. Kadang sejarah tidak ditulis oleh karya yang paling sempurna, tetapi oleh karya yang paling berani membuka pintu menuju sesuatu yang sebelumnya bahkan belum memiliki nama.
Lovecraft, dewa-dewa purba, ritual kuno, dan horor metafisik tidak hadir sebagai narasi, Mereka hadir sebagai sensasi. Pendengar tidak sekadar mendengar musik, Pendengar diajak memasuki kondisi mental yang berada di antara keteraturan dan kegilaan. Di situlah letak kekuatan Morbid Angel. Kekacauan mereka selalu memiliki struktur. Kebrutalan mereka selalu memiliki tujuan. Semua terasa liar, tetapi tidak pernah benar-benar kehilangan arah. Hari ini, hampir seluruh materi di album ini memiliki versi yang lebih superior secara teknis, Sebagian besar sudah direkam ulang. Sebagian besar dimainkan lebih rapi, Sebagian besar terdengar lebih menghancurkan, Namun tidak ada satu pun yang mampu menggantikan aura purba " Abominations of Desolation " . Album ini adalah foto hitam-putih seekor naga sebelum belajar terbang. Ia mungkin belum sempurna. Namun justru karena belum sempurna, ia memperlihatkan proses evolusi yang tidak pernah lagi bisa direkam. " Abominations of Desolation " bukanlah album terbaik Morbid Angel dalam pengertian teknis. Altars of Madness tetap menjadi mahakarya definitif yang mengubah wajah death metal. Namun mengabaikan " Abominations of Desolation " berarti menghapus bab paling penting dalam proses kelahiran monster tersebut. Ini adalah rekaman tentang keberanian sebelum kesempurnaan, intuisi sebelum kalkulasi, dan kekacauan sebelum disiplin. Sebuah dokumen sonik yang memperlihatkan bagaimana empat musisi muda menolak tunduk pada aturan musik ekstrem yang bahkan saat itu belum selesai ditulis. Sebagian album klasik lahir karena nyaris tanpa cela. " Abominations of Desolation " dikenang justru karena keberaniannya mempertontonkan cela-cela itu tanpa rasa malu. Dari retakan-retakan itulah cahaya pertama Morbid Angel memancar, kasar, liar, tidak stabil, namun cukup terang untuk menerangi jalan menuju lahirnya salah satu monumen terbesar dalam sejarah death metal.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !