Gorgasm - Stabwound Intercourse
Pulverizer Records EP 1998
01. Necrosodomy 02:32
02. Disembodied 03:01
03. Stabwound Intercourse 02:10
04. Coprophiliac 02:45
05. Horrendous Rebirth 03:23
06. Clitoral Circumcision 02:27
Tom Tangalos - Guitars, Vocals
Russ Powell - Bass, Vocals
Damian Leski - Guitars, Vocals, Keyboards
Derek Hoffman - Drums
Akhir dekade 1990-an adalah masa yang aneh bagi brutal death metal. Genre ini masih relatif muda, tetapi sudah mulai menunjukkan gejala yang nantinya menjadi masalah kronis: semua band terdengar semakin brutal, semakin teknis, semakin dalam vokalnya, dan semakin sulit dibedakan satu sama lain. di tengah perlombaan menuju kebrutalan absolut tersebut, muncul sebuah nama yang bahkan terdengar seperti hasil brainstorming yang dilakukan setelah terlalu banyak menonton film horor murahan dan membaca majalah medis bekas, Gorgasm ! sejak terbentuk Gorgasm memperkenalkan demo-nya langsung " Gorgasm " dengan formasi Damian Leski (Guitars, Vocals, Broken Hope, Serpents Whisper, ex-Corphagy, ex-Sadichist, ex-Morgue Supplier, ex-Embodied, ex-Human Remains), Russ Powell (Bass, Vocals, ex-Peshmerga, ex-Agony Climax, ex-Embodied), Tom Tangalos (Guitars, Vocals,ex-Peshmerga, ex-Worms Inside, ex-Crematorium, ex-Earthen, ex-Ad Infinitum, ex-Disinter, ex-Mortdant, ex-Agony Climax, ex-Blackened Faith, ex-Depths of Agony, ex-Embodied) dan Craig Hoeffleur (Drums) kemudian dengan demo ini Gorgasm bertemu dengan Pulverizer Records dan 1 tahun kemudian Gorgasm memperkenalkan demo ke-2 " Gorgasm " yang banyak dipuji dunia internasional hingga memaksa mereka melepas debut EP fenomenal pertama tahun 1998 " Stabwound Intercourse ", sebuah rilisan yang secara musikal mungkin tidak menemukan kembali BDM, tetapi cukup brutal untuk membuat sebagian besar kompetitornya terdengar seperti sedang pemanasan. Drummer Craig digantikan oleh Derek Hoffman (ex-Decrepit, ex-Headless Christ, ex-Incestuous, ex-Peshmerga, Murderfier, ex-Lividity, ex-Cinerary, ex-Fleshgrind, ex-Worms Inside, ex-Mass Mutilation, ex-Phacalicy, ex-Polluted Death)
Sebelum mendengar satu nada pun, kebanyakan orang sudah tahu kira-kira apa yang akan mereka dapatkan dari band bernama Gorgasm. tidak ada yang berharap akan menemukan jazz progresif, folk akustik, atau lagu tentang keindahan matahari terbenam. yang ada hanyalah janji kekerasan sonik, tema lirik menjijikkan, dan estetika yang sengaja dirancang untuk membuat orang normal mempertanyakan pilihan hidup para pendengarnya dan Gorgasm memenuhi semua ekspektasi itu dengan sangat efisien. EP ini hanya berdurasi sekitar enam belas menit, tetapi dalam waktu sesingkat itu mereka berhasil menjejalkan blast beat tanpa ampun, riff-riff brutal, vokal toilet-bowl guttural, dan energi yang nyaris tidak pernah berhenti, tidak ada basa-basi, tidak ada ruang bernapas, tidak ada niat menjadi ramah pendengar dan inilah mesin Penghancur dari Midwest, secara musikal, Gorgasm berdiri di persimpangan antara beberapa raksasa brutal death metal saat itu. riff-riff mereka membawa aroma awal karier Deicide, tetapi dimainkan dengan agresivitas yang lebih dekat kepada Suffocation. Tempo lagu terus berubah tanpa kehilangan momentum, sementara breakdown muncul pada waktu yang tepat untuk menghantam pendengar sebelum kembali meledak dalam rentetan blast beat. tidak ada revolusi di sini, namun ada efisiensi dan terkadang efisiensi lebih mematikan daripada inovasi. Band-band seperti Deeds of Flesh, Cryptopsy, atau Suffocation mungkin menawarkan visi yang lebih luas dan progresif. Gorgasm memilih pendekatan berbeda: menghantam wajah pendengar berkali-kali sampai mereka berhenti bertanya.
Salah satu kontribusi terbesar Gorgasm terhadap brutal death metal mungkin justru berasal dari departemen vokal. di era ketika growl ekstrem mulai berkembang ke arah yang semakin tidak manusiawi, Gorgasm termasuk pionir penggunaan gaya guttural super rendah yang kemudian menjadi standar slam dan brutal death metal modern. suara vokalnya terdengar seperti seseorang sedang bertarung dengan sistem pembuangan limbah industri dan anehnya, justru itulah yang dicari banyak penggemar. setelah rilisan seperti ini, seolah muncul kompetisi tidak resmi di kalangan vokalis death metal: siapa yang bisa terdengar paling dalam? Siapa yang paling tidak bisa dipahami? siapa yang paling terdengar seperti toilet mampet setelah badai? sebuah perlombaan yang, secara mengejutkan, masih berlangsung hingga hari ini. di banyak rilisan BDM, bass sering menjadi korban pertama dalam proses produksi. ada tapi tidak terdengar atau kalau terdengar, keberadaannya hanya sebagai bayangan samar di balik gitar, namun tidak demikian dengan Gorgasm, Bass dalam " Stabwound Intercourse " justru sangat jelas terdengar sepanjang album. Nadanya kasar, tajam, dan aktif mengikuti setiap perubahan ritme. bagi fans instrumen bass, EP ini bisa dianggap sebagai hadiah kecil dari dunia BDM yang biasanya tidak terlalu peduli pada kejelasan frekuensi rendah. kehadiran bass yang menonjol membantu menjaga musik tetap kohesif meskipun lagu-lagunya bergerak dengan intensitas tinggi hampir tanpa jeda.
Ada yang bilang jika masalah Utama: Lagu-Lagunya Tidak Selalu Bertahan Lama di Ingatan, di sinilah letak kelemahan terbesar " Stabwound Intercourse ". banyak riff terdengar mengesankan saat dimainkan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menetap dalam ingatan setelah lagu selesai, ada beberapa pengecualian, " Horrendous Rebirth " menjadi salah satu titik tertinggi album dengan atmosfer yang lebih kuat dan penggunaan elemen sintetis yang tidak biasa. Lagu ini memperlihatkan sisi Gorgasm yang sebenarnya mampu menciptakan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar kebrutalan tanpa arah, begitu pula bagian riff death/thrash klasik dalam " Coprophiliac " yang menunjukkan bahwa band ini memiliki kemampuan musikal lebih luas daripada yang sering mereka tunjukkan, Ironisnya, justru ketika mereka mencoba keluar sedikit dari formula BDM, musik mereka menjadi jauh lebih menarik. Brutal, lirik-lirik Gorgasm pada masa ini jelas tidak dirancang untuk memenangkan penghargaan sastra, mereka lebih merupakan bentuk kompetisi internal untuk mencari tema paling ekstrem yang mungkin dituliskan ke dalam booklet album dan seperti banyak band brutal death metal era itu, pendekatan tersebut kini terasa lebih sebagai bagian dari budaya shock value ketimbang sesuatu yang benar-benar penting secara artistik, Namun di balik semua kebodohan yang disengaja tersebut, ada musisi yang sebenarnya cukup berbakat, mereka tahu cara membangun groove, mereka tahu cara mengendalikan tempo dan yang terpenting, mereka tahu cara membuat enam belas menit terasa seperti tabrakan kereta api yang sangat terorganisir.
" Stabwound Intercourse " bukanlah mahakarya brutal death metal yang sempurna. Penulisan lagunya sering kalah oleh kualitas permainannya sendiri. Banyak ide bagus muncul sekilas lalu menghilang sebelum sempat berkembang. Dan beberapa bagian terasa terlalu bergantung pada formula yang bahkan pada tahun 1998 mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan, namun demikian, EP ini tetap menjadi salah satu rilisan BDM paling berpengaruh dari generasi akhir 1990-an, bukan karena inovasinya, bukan karena kedalaman artistiknya, melainkan karena Gorgasm memahami satu hal yang sering dilupakan banyak band ekstrem: Jika kalian ingin terdengar brutal, jangan hanya terlihat brutal. pastikan musiknya benar-benar menghantam dan dalam enam belas menit yang padat, kotor, dan tanpa ampun ini, Gorgasm melakukan tepat seperti itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !