Excess Of Cruelty - Under The Ivy Of Ithamar
Wood-Nymph Records CD 1998
01. The Dreamweaver's Illusion 02:50
02. Wafts from Birch and Briar Breath 03:07
03. The Reaper of the Harvest 03:03
04. Fionnuala 04:25
05. Nangara 04:08
06. Beholding the Crimson Tide 02:46
07. When at Eventide 04:49
08. Under the Ivy of Ithamar 02:53
09. Solemn Sounds of the Soul 03:27
10. Northern Shekinah Light 02:48
11. The Trooper (Iron Maiden cover) 03:01
Johan Detraux - Vocals
Joeri Caluwaerts - Drums
Jan Verschueren - Guitars
Joris Tallon - Guitars
Raf Veulemans - Bass
Joeri Caluwaerts - Drums
Ada satu penyakit kronis dalam dunia MDM: terlalu banyak band yang terdengar seperti hasil copycat rusak dari tiga nama besar Swedia, lalu berharap publik menganggap mereka revolusioner hanya karena menambahkan intro akustik atau chorus murung. Genre yang awalnya lahir dari keseimbangan agresi dan melodi itu perlahan berubah menjadi jalur produksi massal untuk band-band yang terdengar identik satu sama lain. Dan justru karena itulah ketika muncul sebuah band yang benar-benar punya identitas, meski belum sempurna, keberadaannya langsung terasa berbeda. Salah satu contoh paling menarik dari kategori itu adalah Excess Of Cruelty. Band asal Linden, Flemish Brabant, Belgia ini mungkin hanya meninggalkan satu album penuh sebelum menghilang ke kabut sejarah underground, tetapi rilisan tunggal mereka tetap memiliki sesuatu yang banyak album MDM modern gagal miliki: karakter. Dan bukan karakter palsu hasil polesan produksi mahal atau branding media sosial. Karakter yang muncul dari penulisan lagu, atmosfer, dan keberanian untuk terdengar melodis tanpa berubah menjadi murahan. Hal pertama yang langsung mencolok dari album ini adalah betapa melodis dan catchy-nya musik mereka. Bahkan mungkin terlalu catchy untuk ukuran MDM era 90-an. Tetapi anehnya, mereka tetap mampu menjaga nuansa gelap dan dingin khas genre tersebut tanpa jatuh menjadi heavy metal manis penuh chorus stadion. Itu pencapaian yang jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan banyak orang. Mayoritas band melodeath gagal menjaga keseimbangan ini: terlalu agresif dan mereka kehilangan identitas melodis, terlalu melodis dan mereka berubah jadi soundtrack anime fantasi murahan. Riff-riff mereka dipenuhi potongan melodi harmonis yang saling bertabrakan secara indah. Banyak bagian gitar terasa seperti percakapan antara dua dunia: satu dingin dan agresif, satu lagi melankolis dan penuh refleksi. Harmoni gitarnya tidak sekadar tempelan kosmetik ala Gothenburg generik, tetapi benar-benar menjadi fondasi emosional lagu-lagunya.
Track seperti " Wafts from Birch and Briar Breath " adalah contoh sempurna bagaimana band ini memahami kekuatan melodi. Lagu itu memiliki alur gitar yang benar-benar menghantui dan emosional, dengan solo yang terdengar unik dan sedikit eksperimental. Memang ada masalah dalam penyusunan beberapa bagian karena solo tersebut terasa berakhir terlalu cepat, seolah band ini masih belum sepenuhnya yakin kapan harus membiarkan sebuah momen berkembang lebih lama. Tapi justru ketidaksempurnaan itu membuat album ini terasa manusiawi. Bahkan nada gitar mereka yang terkadang terdengar sedikit bergetar atau goyah justru memberi warna tersendiri. Dalam produksi modern yang terlalu steril, kekurangan seperti itu biasanya langsung dihapus demi kesempurnaan digital. Padahal justru tekstur kecil seperti ini yang membuat sebuah album punya nyawa. Gitar utama memiliki tone yang kotor, penuh distorsi dan overdrive yang cukup kasar untuk menjaga energi death metal-nya tetap hidup, namun masih cukup jernih untuk membiarkan melodi bernapas. Dan di sinilah kekuatan terbesar Excess Of Cruelty sebenarnya muncul: mereka mengerti atmosfer. Tidak hanya mengandalkan kecepatan atau agresi, tetapi membangun suasana yang terasa seperti musim gugur dingin di hutan Eropa Utara. Musik mereka punya aroma daun basah, kabut pagi, dan kesedihan samar yang terus mengendap di belakang setiap riff. Vokal utama juga menjadi elemen yang menarik. Pendekatan yang dipilih sangat cocok untuk gaya musik mereka: growl yang cukup kasar tetapi tidak terlalu brutal hingga menenggelamkan melodi. Namun memang harus diakui, tidak semua eksekusinya berhasil sempurna. Ada beberapa bagian dimana vokal terdengar sedikit datar atau kurang bertenaga. Kelemahan itu paling terasa dalam cover " The Trooper " milik legendaris Iron Maiden. Dan jujur saja, itu mungkin keputusan paling berisiko di album ini.
Karena mari realistis: meng-cover lagu legendaris seperti " The Trooper " adalah seperti masuk ring tinju melawan hantu sejarah heavy metal itu sendiri. Versi Excess Of Cruelty memang menarik dari sudut pandang atmosfer dan pendekatan MDM-nya, tetapi jelas tidak sepenuhnya berhasil menangkap energi heroik dan liar dari versi aslinya. Beberapa bagian terasa kehilangan tenaga, dan vokalnya terdengar kurang meyakinkan. Untungnya, kelemahan itu tidak cukup besar untuk merusak keseluruhan album. Sebaliknya, ketika band ini bermain di wilayah mereka sendiri, hasilnya jauh lebih kuat. Bagian gitar akustik dan clean passage terdengar sangat alami dan emosional. Mereka tidak terasa seperti jeda tempelan wajib demi memenuhi checklist album MDM artistik. Semuanya menyatu dengan alur lagu. Track instrumental " Fionnuala " misalnya, memang tenang dan cukup indah, walaupun sedikit terlalu panjang dan mendekati wilayah membosankan. Tetapi lagu itu tetap berhasil menjaga nuansa atmosferik album secara keseluruhan. Ini semacam momen jeda napas sebelum band kembali menghantam dengan kombinasi riff dan melodi berikutnya. Lalu ada " When at Eventide ", salah satu lagu paling menonjol di album ini. Kehadiran vokal wanita di lagu tersebut benar-benar memberikan dimensi berbeda. Bersih, menghantui, dan elegan tanpa terasa cheesy seperti banyak eksperimen gothic metal era itu. Lagu ini menunjukkan bahwa Gandalf sebenarnya punya potensi berkembang jauh lebih besar daripada sekadar band MDM underground biasa.
Lirik mereka juga cukup menarik karena tidak jatuh ke klise perang, setan, atau pembantaian generik yang terlalu sering dipakai scene death metal. Tema-temanya lebih banyak menyentuh alam, perubahan musim, pergulatan batin, hingga nuansa spiritual samar. Bahkan " Nangara " terdengar seperti penghormatan terhadap masyarakat pribumi Australia, sesuatu yang cukup unik untuk band MDM Eropa saat itu. Dan justru detail-detail semacam inilah yang membuat Gandalf terasa berbeda. Mereka tidak terdengar seperti band yang hanya ingin menjadi " lebih brutal dari band sebelah ". Ada usaha membangun dunia dan atmosfer sendiri di dalam musik mereka. Tentu album ini tidak sempurna. Beberapa transisi terasa belum matang. Ada momen dimana struktur lagu sedikit kehilangan fokus. Sebagian ide tampaknya belum berkembang sepenuhnya. Tetapi kekuatan album ini jauh lebih besar daripada kelemahannya. Yang paling penting: mereka punya identitas yang jelas. Dan dalam genre yang dipenuhi band kloningan, identitas adalah mata uang paling mahal. Sayangnya, seperti banyak band underground berbakat lainnya, Gandalf menghilang terlalu cepat. Mereka hanya meninggalkan satu album, satu jejak singkat yang sekarang lebih sering ditemukan oleh kolektor obsesif dan penggali arsip MDM lama daripada publik luas. Dan itu menyisakan pertanyaan yang cukup menyakitkan: bagaimana jadinya jika band ini terus berkembang?
Karena jujur saja, mereka memiliki semua fondasi untuk menjadi cult classic MDM. Dengan sedikit penyempurnaan dalam penulisan lagu, produksi, dan konsistensi vokal, bukan tidak mungkin Gandalf bisa berdiri sejajar dengan banyak nama besar era 90-an. Tapi sejarah metal selalu kejam terhadap band-band yang datang terlalu cepat, terlalu berbeda, atau terlalu tidak peduli pada tren pasar. Pada akhirnya, album tunggal Gandalf terasa seperti surat yang belum selesai ditulis. Sebuah janji besar yang terputus di tengah jalan. Namun justru karena itu, ia tetap menarik untuk kembali didengarkan seperti reruntuhan indah dari sesuatu yang seharusnya bisa menjadi jauh lebih besar daripada yang pernah diberikan dunia kepada mereka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !