Deaden - Hymns of the Sick
Deadrot Records and Productions CD 1997
01. Ejaculation to a Rotting Orifice 04:04
02. Sculpted in Flesh 03:53
03. John's List 03:14
04. Subconscious Holocaust 02:33
05. He Wore the Flesh 01:37
06. Butchered Whore 03:54
07. Genocide by Asphyxiation 03:28
08. Land of Larvae 04:01
09. Stretched 08:16
Von Young - Guitars, Vocals
Danny Hughes - Bass, Vocals
Drew Stockman - Guitars
Ethan Deppe - Drums
Ada album-album yang dikenang karena mengubah sejarah. Ada album yang dikenang karena menciptakan genre baru. Dan ada pula album yang dikenang hanya karena kebetulan dirilis pada saat yang tepat sehingga segelintir kolektor death metal bawah tanah memutuskan bahwa benda tersebut layak dipuja seperti artefak suci yang ditemukan di dalam septic tank. " Hymns Of The Sick " milik Deaden termasuk kategori yang terakhir. mari jujur saja. bagi sebagian besar penggemar death metal modern, album ini lebih mudah diingat sebagai salah satu rilisan awal United Guttural Records ketimbang sebagai album debut Deaden itu sendiri. Nama Deaden memang selalu muncul dalam daftar " Hidden Gem " BDM era 90-an, biasanya diucapkan dengan penuh kebanggaan oleh orang-orang yang mengenakan kaos Fleshgrind ukuran 3XL sambil mengklaim album ini "sakit banget", namun akan langsung terdiam ketika diminta menyebutkan tiga lagu favorit mereka, fenomena klasik underground, semakin sedikit orang yang benar-benar mendengarkan sebuah album, semakin besar peluang album tersebut dianggap kultus dan Deaden mendapat keuntungan penuh dari situasi tersebut, bahkan sampul albumnya seolah menjadi metafora sempurna bagi seluruh pengalaman mendengarkan " Hymns Of The Sick ". Sebuah gambar buram, terdistorsi, dan tampak seperti hasil pembesaran paksa dari objek biologis yang bahkan tidak ingin Anda identifikasi. Visual yang terlihat seperti ditemukan di hard disk warnet tahun 1998 sebelum konsep resolusi tinggi ditemukan umat manusia. namun anehnya, justru dari kekacauan visual itu lahir salah satu dokumen BDM Midwest Amerika yang paling menarik untuk dibedah, bau Busuk Illinois " Yang Tidak Pernah Hilang " !
Secara musikal, Deaden tidak pernah berusaha menemukan kembali roda. mereka tidak menciptakan formula baru, mereka tidak menawarkan revolusi, yang mereka lakukan hanyalah memainkan death metal yang sangat kotor, sangat berat, dan sangat menjijikkan, tetapi terkadang itu sudah lebih dari cukup. ada sesuatu yang sangat khas dari suara Deaden. Gitar terdengar tajam namun berlumpur pada saat bersamaan. Produksi dipenuhi frekuensi rendah yang tebal dan berbau ruang latihan bawah tanah yang pengap. Bass tidak sekadar hadir sebagai pelengkap, melainkan menjadi lumpur pekat yang mengikat seluruh fondasi lagu. alih-alih mengejar kecepatan ekstrem seperti Cryptopsy atau kebrutalan teknis ala Suffocation, Deaden memilih jalur yang lebih sederhana namun efektif: groove lambat, riff menghantam berulang-ulang, dan atmosfer menjijikkan yang terus menerus menekan pendengar. inilah death metal yang terdengar seperti tumpukan bangkai yang dibiarkan membusuk di tengah musim panas. salah satu elemen menarik dalam album ini adalah penggunaan dua vokalis yang saling bertumpuk sepanjang lagu, masalahnya, keduanya terdengar begitu mirip sehingga sulit membedakan siapa melakukan apa, namun justru di situlah kekuatannya, high scream dan guttural rendah mereka saling melapisi seperti dua lapisan infeksi berbeda yang menyerang tubuh yang sama. Tidak ada satu vokalis yang benar-benar mendominasi. Sebaliknya, mereka membentuk satu entitas vokal besar yang terdengar seperti suara makhluk yang sedang memuntahkan organ tubuhnya sendiri, tidak elegan, tidak bersih, tidak manusiawi, persis seperti yang dibutuhkan album ini.
Ditambah lagi dengan berbagai sampel audio mengenai pembunuhan, kanibalisme, mutilasi, dan nekrofilia yang tersebar di sepanjang album, suasana menjijikkan semakin terasa pekat. Bukan karena liriknya cerdas atau filosofis, melainkan karena Deaden memahami satu hal sederhana: BDM tidak selalu harus pintar, tetapi harus mampu menciptakan suasana yang mengganggu. masalah Besarnya: Tidak Banyak Yang Benar-Benar Menempel, di sinilah kritik utama terhadap " Hymns Of The Sick " mulai muncul. setelah album berakhir, apa yang benar-benar kalian ingat? bagi banyak pendengar, jawabannya mungkin tidak banyak. ada riff pembuka yang cukup mengganggu pada lagu pertama. ada bagian keren dalam " Land Of Larvae " yang sempat mengingatkan pada Bolt Thrower versi lebih kotor sebelum akhirnya tenggelam dalam labirin riff yang kurang fokus dan setelah itu? kabut, kabut tebal yang dipenuhi chugging riff, tremolo sederhana, dan groove mid-tempo yang terus menerus berulang. album ini menderita penyakit yang cukup umum di BDM akhir 90-an: terlalu banyak bagian yang terdengar " lumayan " tetapi terlalu sedikit bagian yang benar-benar ikonik. bukan berarti lagu-lagunya buruk, masalahnya justru kebalikannya, terlalu banyak lagu yang terdengar cukup baik sehingga tidak ada yang benar-benar menonjol, saat album Sedang Dalam Puncak Performanya, separuh awal album masih menyimpan beberapa momen terbaik. " Ejaculation To A Rotting Orifice " langsung menunjukkan mengapa Deaden tetap memiliki pengikut setia hingga hari ini. Lagu ini memiliki groove yang menghantam, sampel menjijikkan yang efektif, dan permainan dinamika yang cukup pintar. Saat instrumen tiba-tiba berhenti dan hanya menyisakan bass atau gitar bergaung sebelum kembali meledak menjadi riff berat, efeknya terasa sangat memuaskan.
Kemudian ada " Sculpted In Flesh ", lagu ini mungkin tidak akan memenangkan penghargaan sastra kapan pun, tetapi memiliki salah satu momen paling absurd dan menghibur di album ketika salah satu vokalis mengucapkan: " Take a look, tell me what you see... there's a bouquet of dicks. " kalimat yang sangat bodoh, kalimat yang sangat tidak perlu dan justru karena itulah kalimat tersebut sulit dilupakan. kadang death metal memang bekerja dengan logika yang aneh, Deaden dan Kutukan Status Kultus. menariknya, perjalanan karier Deaden sering dibandingkan dengan Devourment, keduanya muncul pada akhir 90-an dan keduanya sempat menghilang, keduanya kembali lagi pada pertengahan 2000-an. bedanya, Devourment memiliki " Molesting The Decapitated ". album yang benar-benar mengubah lanskap slam death metal, Deaden tidak memiliki momen sebesar itu, mereka hanya memiliki " Hymns Of The Sick ", sebuah album yang baik, album yang berat, album yang menjijikkan namun tidak cukup revolusioner untuk mengubah sejarah dan mungkin justru karena itulah album ini terus diperdebatkan. sebagian orang menganggapnya mahakarya BDM bawah tanah, sebagian lain menganggapnya sekadar album death metal yang lumayan, kebenaran mungkin berada di antara keduanya.
" Hymns Of The Sick " bukanlah album yang akan mengubah hidup kalian. Ia bukan tonggak sejarah seperti " Effigy Of The Forgotten ", " None So Vile ", atau " Molesting The Decapitated ", namun album ini tetap memiliki identitas yang kuat, kotor, menjijikkan, Heavy, dipenuhi groove-groove busuk yang terdengar seperti soundtrack rumah jagal yang ditinggalkan dan meskipun penulisan lagunya kadang terasa biasa saja, ada sesuatu dalam kombinasi produksi berlumpur, riff-riff sederhana, dan atmosfer dekaden yang membuat album ini tetap layak dikunjungi kembali, mungkin bukan karena ia luar biasa, melainkan karena ia berhasil menjadi representasi sempurna dari BDM era akhir 90-an: kasar, tidak sempurna, menjijikkan, dan sama sekali tidak peduli apakah kalian menyukainya atau tidak, kadang-kadang, itu sudah cukup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !