06 Juni 2026

Ablaze My Sorrow - The Plague CD 1998

Ablaze My Sorrow - The Plague
No Fashion Records CD 1998

01. Dusk... 00:14 
02. The Truth Is Sold 04:02
03. Into the Land of Dreams 04:10 
04. Mournful Serenade 04:37     
05. The Return of the Mighty Raven 04:19     
06. I Will Be Your God 04:11 
07. Plague of Mine 04:42     
08. As the Dove Falls Torn Apart 04:04 
09. Suicide 02:06 
10. ...Dawn 02:18


Fredrik Arnesson - Vocals 
Dennie Lindén - Lead Guitars, Vocals, 
Magnus Carlsson - Guitars
Anders Brorsson - Bass, Vocals 
Alex Bengtsson - Drums 


Di pertengahan hingga akhir 90-an, MDM Swedia berkembang seperti wabah dingin yang menyebar dari Gothenburg ke seluruh penjuru Eropa. Semua label bawah tanah berlomba mencari band baru dengan gitar harmonis, riff cepat, dan vokal penuh amarah eksistensial. Masalahnya, ketika terlalu banyak band muncul dalam waktu bersamaan, sebagian besar akhirnya tenggelam menjadi nama samar di katalog distro tua dan rak CD berdebu. Dan di antara nama-nama yang terus terlupakan itu, Ablaze My Sorrow adalah salah satu contoh paling menarik sekaligus paling frustrasi. Band asal Falkenberg ini sebenarnya punya semua bahan untuk menjadi besar. Mereka punya agresi, melodi, atmosfer, dan kadang-kadang keberanian untuk keluar sedikit dari formula Gothenburg yang mulai terlalu nyaman. Tetapi seperti banyak band MDM gelombang kedua lainnya, mereka selalu terjebak di antara dua nasib: terlalu bagus untuk diabaikan sepenuhnya, tetapi tidak cukup revolusioner untuk benar-benar meledak. Ketika mereka merilis album kedua, " The Plague ", harapannya cukup tinggi. Album debut mereka, " If Emotions Still Burn ", memang masih berantakan di beberapa sisi, tetapi ada identitas mentah yang menjanjikan. Musiknya lebih kasar, lebih liar, dan terasa seperti band yang masih mencari bentuk terbaik mereka. " The Plague " seharusnya menjadi langkah menuju kematangan. Dan memang ada peningkatan. Tetapi juga ada kehilangan. Album ini kembali dirilis lewat No Fashion Records, label legendaris yang kala itu menjadi rumah bagi banyak nama besar ekstrem metal Swedia seperti Dark Funeral, Marduk, Insania Stockholm, hingga senior mereka sendiri, Hypocrite. Dan seperti banyak rilisan No Fashion era itu, " The Plague " punya aroma khas Swedia akhir 90-an: dingin, mentah, melankolis, tetapi tetap agresif. Yang langsung terasa berbeda dibanding debut adalah kualitas produksinya. Drum terdengar jauh lebih kasar dan organik. Tidak terlalu dipoles, tidak terlalu modern, dan justru itu membuatnya lebih hidup. Gitar melodius kini terdengar lebih jelas dan lebih terstruktur. Ada lebih banyak ruang bagi harmoni gitar untuk berkembang tanpa tenggelam dalam distorsi lumpur seperti di debut mereka. Dan akhirnya, bass benar-benar terdengar.

Ini mungkin terdengar sepele bagi generasi streaming modern yang menganggap bass hanya dekorasi visual di video live, tetapi dalam MDM tahun 90-an, bass yang terdengar jelas adalah kemewahan. Di lagu seperti " Into the Land of Dreams ", permainan bass mulai mendapat ruang bernapas dan memberi kedalaman emosional yang sebelumnya kurang terasa. Namun perubahan terbesar tentu saja datang dari sektor vokal. Ciri khas teriakan " argh! " milik Martin Qvist yang di debut kadang terdengar seperti orang tersedak rantai motor akhirnya menghilang total. Posisi vokal kini diambil alih oleh Fredrik Arnesson, yang sebelumnya dikenal lewat Cromlech. Dan jujur saja, ini keputusan yang cukup menyelamatkan album. Arnesson terdengar jauh lebih powerfully dan lebih cocok dengan pendekatan melodi album ini. Bahkan di tengah lagu " As the Dove Falls Torn Apart ", ia nekat memasukkan vokal clean yang cukup mencolok. Dan untungnya itu tidak jatuh menjadi gothic metal murahan ala band-bandiang yang terlalu sibuk tampil seperti model toko jaket kulit. Vokal bersih itu justru memberi kontras emosional yang menarik di tengah atmosfer suram album. Lalu ada " The Return of the Mighty Raven ", salah satu momen paling agresif di album ini. Lagu tersebut menghadirkan ledakan tempo tinggi yang benar-benar terasa menggigit, terutama di bagian sekitar menit awal ketika riff dan drum mulai bergerak jauh lebih liar dibanding track lainnya. Momen seperti ini menunjukkan bahwa Ablaze My Sorrow sebenarnya punya kemampuan untuk terdengar benar-benar ganas ketika mereka mau. Dan itu mungkin problem terbesar " The Plague ". Album ini jelas lebih rapi dibanding " If Emotions Still Burn ". Permainannya lebih ketat, struktur lagunya lebih matang, dan produksinya lebih seimbang. Tetapi justru dalam proses menjadi lebih profesional, mereka kehilangan sebagian karakter unik yang dulu membuat debut mereka terasa menarik. Melodi yang dulu terasa aneh dan sedikit berbeda kini bergerak lebih dekat ke formula MDM Swedia standar. Dan sulit menghindari bayangan In Flames di sini. Terutama era Lunar Strain yang masih mentah dan penuh nuansa folk melankolis. Banyak melodi di " The Plague " terasa bergerak di wilayah yang sama, hanya saja tanpa keberanian eksperimental atau identitas kuat yang membuat In Flames awal benar-benar spesial. Dan ketika sebuah band mulai terlalu dekat dengan formula Gothenburg klasik, mereka berisiko berubah menjadi sekadar " band MDM Swedia lain ".

Untungnya, Ablaze My Sorrow masih punya satu kualitas yang membuat mereka tetap menarik: obsesi mereka terhadap perubahan tempo dan riff. Band ini hampir tidak pernah diam terlalu lama di satu pola. Setiap beberapa detik, riff berubah, ritme bergeser, suasana bergerak. Pendekatan ini menjaga album tetap hidup dan mencegahnya tenggelam menjadi MDM monoton penuh harmoni copy-paste seperti banyak rilisan era itu. Tetapi apakah itu cukup? Kadang ya. Kadang tidak. Karena meskipun " The Plague " punya banyak momen bagus, album ini juga sering terasa seperti band yang belum benar-benar memutuskan ingin menjadi apa. Mereka cukup melodis untuk penggemar Gothenburg, cukup keras untuk death metal tradisional, tetapi tidak benar-benar mendorong salah satu sisi itu ke level luar biasa. Dan ironisnya, justru artwork album ini seakan mencerminkan situasi tersebut. Jujur saja, jika dibandingkan dengan debut mereka yang menggunakan artwork megah dari Kristian Wåhlin, cover " The Plague " terasa jauh lebih sederhana dan bahkan agak generik. Sosok pria terbakar di malam gelap itu memang relevan secara tematik, seolah menggambarkan kehancuran mental, depresi, atau bunuh diri emosional yang merayapi seluruh album. Tetapi secara visual, ia tidak meninggalkan kesan sekuat logo Latin klasik Ablaze My Sorrow yang justru jauh lebih ikonik. Namun ketika lagu penutup instrumental " …Dawn " mulai mengalun, semuanya terasa sedikit lebih masuk akal. Outro klasik itu memberi nuansa sinematik yang membuat album terasa seperti perjalanan emosional menuju kehancuran perlahan. Ada rasa finalitas di sana. Semacam kesunyian dingin setelah semua amarah dan kesedihan selesai terbakar habis. Dan mungkin itulah inti sebenarnya dari " The Plague ".

Ini bukan album revolusioner. Bukan masterpiece yang mengubah arah MDM seperti " Slaughter of the Soul " atau karya awal In Flames. Ia juga tidak punya keberanian teknikal seperti Darkane atau evolusi modern ala Soilwork. Tetapi album ini tetap punya kualitas. Ia adalah contoh MDM Swedia akhir 90-an yang solid, emosional, dan cukup berbeda untuk dikenang, meskipun tidak cukup ekstrem untuk benar-benar mendominasi scene. Sebuah rilisan yang hidup di wilayah abu-abu antara terlalu bagus untuk dilupakan dan tidak cukup luar biasa untuk menjadi legenda. Dan mungkin justru karena itu " The Plague " masih menarik untuk dibicarakan hari ini. Karena di balik semua keterbatasannya, Ablaze My Sorrow tetap terdengar seperti band yang benar-benar percaya pada musik mereka. Bukan proyek algoritma nostalgia. Bukan produk industri retro-metal modern yang sibuk menjual estetika 90-an tanpa memahami jiwanya. Mereka adalah bagian dari era ketika MDM Swedia masih terasa dingin, manusiawi, emosional, dan belum sepenuhnya berubah menjadi soundtrack gym bagi generasi yang mengira growl hanyalah aksesori konten Medsos cringe !

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !